Home - Nasional - Anak Muda Jadi Kunci Ketangguhan Komunitas dalam Mitigasi Bencana

Anak Muda Jadi Kunci Ketangguhan Komunitas dalam Mitigasi Bencana

Peran anak muda dinilai semakin strategis dalam membangun ketangguhan komunitas dan memperkuat upaya mitigasi bencana di Indonesia.

Jumat, 9 Januari 2026 - 23:00 WIB
Anak Muda Jadi Kunci Ketangguhan Komunitas dalam Mitigasi Bencana
Sejumlah relawan berjibaku membantu korban bancana. (Dok Dompet Dhuafa)

HALLONEWS.COM – Peran anak muda dinilai semakin strategis dalam membangun ketangguhan komunitas dan memperkuat upaya mitigasi bencana di Indonesia.

Di tengah meningkatnya risiko bencana alam, keterlibatan generasi muda tidak hanya dibutuhkan sebagai relawan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial yang berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi daring bertajuk “Ruang Cerita Daring – Berangkat Bareng, Bangkit Bersama untuk Kemanusiaan” yang digelar di Jakarta, Kamis (8/1/2025).

Kegiatan ini menghadirkan praktisi kebencanaan, penggerak komunitas pemuda, serta relawan lapangan untuk membahas kesiapsiagaan bencana berbasis partisipasi masyarakat.

Ahmad Lukman dari Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menekankan bahwa mitigasi bencana harus dirancang secara inklusif dan melibatkan berbagai unsur.

Menurutnya, penentuan jalur evakuasi dan titik kumpul tidak dapat diputuskan secara sepihak, melainkan harus melalui kesepakatan bersama agar mudah diterapkan saat kondisi darurat.

Ia juga menilai latihan rutin seperti simulasi evakuasi dan pelatihan pertolongan pertama menjadi langkah penting dalam membangun kesiapsiagaan yang berkelanjutan.

Sementara itu, CEO Youth Ranger Indonesia, Dimas Dwi Pangestu, menyoroti besarnya potensi anak muda dalam memperkuat ketahanan sosial di tingkat komunitas.

Melalui Youth Ranger Indonesia yang telah hadir di 34 provinsi, pihaknya mendorong pemuda untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial, kebencanaan, dan pemberdayaan masyarakat

Dimas menegaskan bahwa keberhasilan program sosial tidak diukur dari besarnya kegiatan, tetapi dari keberlanjutan dampak dan partisipasi masyarakat setelah kegiatan selesai.

Dimas juga mendorong penerapan pendekatan kolaboratif melalui pentahelix framework, yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan sektor swasta. Menurutnya, sinergi lintas sektor akan membuat program mitigasi bencana dan kemanusiaan lebih tepat sasaran dan berdaya guna jangka panjang.

Pengalaman lapangan turut dibagikan oleh Slamet Widodo, relawan Ambulans Dompet Dhuafa Yogyakarta. Ia mengungkapkan bahwa menjadi relawan merupakan panggilan kemanusiaan yang berangkat dari pengalaman pribadi.

Selama terlibat dalam berbagai aksi kebencanaan, ia menghadapi beragam situasi darurat yang menuntut ketepatan pengambilan keputusan dan koordinasi antartim. Dalam kondisi darurat yang terjadi bersamaan, penentuan skala prioritas menjadi kunci agar penanganan tetap berjalan optimal.

Diskusi ini menegaskan bahwa penguatan mitigasi bencana dan ketangguhan komunitas tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan perencanaan yang matang, pelibatan aktif masyarakat, serta peran anak muda sebagai motor penggerak perubahan.

Kolaborasi lintas sektor dan dedikasi relawan kemanusiaan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan.(ver)