Home - Megapolitan - Wali Kota Bogor dan Ketua Komisi I DPRD Kota Bogor Melihat Bunga Bangkai yang Mekar di KRB

Wali Kota Bogor dan Ketua Komisi I DPRD Kota Bogor Melihat Bunga Bangkai yang Mekar di KRB

Wali Kota Bogor Dedie Rachim bersama Ketua Komisi I DPRD Kota Bogor Sugeng Teguh Santoso meninjau langsung bunga bangkai yang mekar di Kebun Raya Bogor.

Sabtu, 7 Februari 2026 - 14:45 WIB
Wali Kota Bogor dan Ketua Komisi I DPRD Kota Bogor Melihat Bunga Bangkai yang Mekar di KRB
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim bersama Ketua Komisi I DPRD Kota Bogor, Sugeng Teguh Santoso melihat langsung bunga bangkai dalam Kebun Raya Bogor. (Hallonews/Yopy)

HALLONEWS.COM – Viralnya pemberitaan bunga bangkai raksasa jenis Amorphophallus titanum yang mekar sempurna di Kebun Raya Bogor (KRB) pada Jumat (6/2/ 2026), mendapat perhatian Wali Kota Bogor, Dedie Rachim.

Orang nomor satu di jajaran pemerintahan Kota Bogor ini, menyempatkan diri melihat langsung bunga bangkai yang memiliki aroma tak sedap, jika dilihat dari dekat.

Dedie bersama Ketua Komisi I DPRD Kota Bogor, Sugeng Teguh Santoso, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Anas Rasmana dan Camat Bogor Tengah, Jeri mendatangi lokasi bunga bangkai pada Sabtu (7/2/2026) pagi.

Momen langka setelah terakhir kali mekar pada tahun 2014 ini menjadi perhatian Dedie bersama Sugeng.

Keduanya lama berdiri melihat bunga bangkai ini. Usai itu, keduanya mengatakan, kondisi kembang bunga bangkai sudah mulai terlihat layu.

Kebun Raya Bogor2
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim bersama Ketua Komisi I DPRD Kota Bogor, Sugeng Teguh Santoso melihat langsung bunga bangkai dalam Kebun Raya Bogor. (Hallonews/Yopy)

Dedie mengatakan, ia tak mencium aroma busuk saat berada dekat bunga bangkai. Baik Dedie dan Sugeng serta Kadispora dan Camat, terlihat ikut antrian saat menuju titik tumbuhnya bunga bangkai ini.

“Saya nggak cium lagi bau. Kondisi kembangnya juga sudah terlihat layu,” kata Dedie kepada wartawan yang mengikutinya.

Bunga bangkai raksasa yang terancam punah ini mekar, setelah 12 tahun tidur. Kejadian ini menjadi obyek wisata dadakan masyarakat dari berbagai wilayah.

Mekarnya bunga langka nan cantik ini mengundang decak kagum para pengunjung bahkan banyak pengunjung yang mengabadikan foto bersama titan arum ini.

Amorphophallus titanum yang melegenda ini memasuki fase awal menuju mekar di area koleksi bunga bangkai, tepatnya di tebingan Mata Air Kahuripan, pada Minggu 25 Januari 2026.

Dan tepat pada hari Kamis, 5 Februari 2026, bunga ini mulai menampakkan
kecantikannya yang kemudian mekar sempurna saat malam hari.

“Pada hari Kamis, 5 Februari 2026, bunga bangkai mencapai fase mekar penuh. Tongkol menjulang hingga 140 cm, dengan diameter bunga mencapai 56 cm. Tepat pada pukul 00.24 WIB, seludang bunga terbuka sempurna, menandai klimaks dari peristiwa langka yang hanya berlangsung singkat,” ujar Horticulture Senior Manager, Yudhistira.

Ia menambahkan mekarnya bunga bangkai raksasa bukan sekadar peristiwa botani,
melainkan pengingat akan keajaiban siklus alam dan pentingnya upaya konservasi tumbuhan langka.

“Setiap mekarnya adalah pesan sunyi dari hutan hujan. Tumbuhan ini merupakan salah satu koleksi Kebun Raya Bogor yang ditanam pada 11 September 1992, dengan bibit yang berasal dari Sumatera, Jambi,” ujarnya.

Dr Dian Latifah, S.P., M.App.Sc, peneliti Ahli Madya yang meneliti bunga bangkai raksasa ini mengatakan, masyarakat wajib melihatnya, karena kejadian mekar bunga ini sangat ditunggu-tunggu, bunga nomor koleksi VI.C.489 terakhir mekar tahun 2020 di Kebun Raya Bogor.

Saat ini nomor koleksi 382 lah yang sedang mekar setelah penantian 12 tahun. Siklus hidupnya unik memiliki fase vegetatif dan generatif diselingi fase dorman (istirahat).

“Masyarakat dapat melihat perbedaan dengan bunga bangkai lainnya seperti suweg (Amorphophallus paeniifolius) dan Rafflesia arnoldii atau Rafflesia hasseltii.

Meskipun sebutannya bunga bangkai raksasa, namun sebenarnya bunga jantan dan betinanya hanya kecil-kecil mengelompok saja di bagian bawah spadiksnya yang menjulang tinggi,” papar Dr Dian.

Ia menambahkan penyerbukannya dibantu serangga penyerbuk yang di alam harus terbang jauh berpuluh-puluh kilometer membawa serbuk sari dari bunga lain yang mekar bersamaan untuk menjadi buah dan biji.

“Sedangkan di Kebun Raya harus dibantu manusia (hand pollination). Bunga jantan dan betinanya tidak masak bersamaan,” tambahnya.

General Manager Corporate Communication PT Mitra Natura Raya, Zaenal Arifin mengatakan, setiap kali Amorphophallus titanum mekar, itu adalah momen yang sangat berarti dalam dunia botani.

“Kebun Raya Bogor menjadi rumah konservasi bagi Amorphophallus terbesar di dunia, yaitu Amorphophallus titanum. Mekarnya bunga ini menandakan suksesnya fungsi konservasi pada Kebun Raya Bogor yang diemban oleh kami selaku mitra pengelola Kebun Raya,” ujar Zaenal. (opy)