Home - Internasional - Trump Tolak Minta Maaf atas Video Rasis Soal Obama: “Saya Tidak Melakukan Kesalahan”

Trump Tolak Minta Maaf atas Video Rasis Soal Obama: “Saya Tidak Melakukan Kesalahan”

Donald Trump menolak meminta maaf atas unggahan video bernuansa rasis tentang Barack dan Michelle Obama, meski Gedung Putih menghapusnya dan menyalahkan staf pada Februari 2026.

Sabtu, 7 Februari 2026 - 12:36 WIB
Trump Tolak Minta Maaf atas Video Rasis Soal Obama: “Saya Tidak Melakukan Kesalahan”
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One terkait kontroversi unggahan video bernuansa rasis di akun Truth Social miliknya. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM-Kontroversi video bernuansa rasis yang diunggah di akun Truth Social milik Donald Trump mencuat pada Jumat (6/2/2026) waktu Amerika Serikat. Video singkat tersebut menampilkan mantan Presiden AS Barack Obama dan mantan Ibu Negara Michelle Obama digambarkan sebagai kera yang bergoyang mengikuti lagu The Lion Sleeps Tonight.

Klip berdurasi sekitar dua detik itu muncul di bagian akhir video yang mengulang klaim lama Trump, yang telah dibantah, bahwa pemilihan presiden AS 2020 dicurangi. Video tersebut diunggah di platform media sosial milik Trump sendiri dan sempat bertahan selama hampir 12 jam sebelum akhirnya dihapus.

Pada Jumat siang waktu setempat, Gedung Putih sempat membela unggahan tersebut. Namun setelah gelombang kecaman meluas dari berbagai kalangan politik dan publik, pihak Gedung Putih menghapus video itu pada Jumat malam, dengan alasan unggahan dilakukan secara keliru oleh seorang staf.

Meski demikian, Trump menolak untuk meminta maaf. Saat berbicara kepada wartawan di dalam Air Force One pada Jumat malam (6/2/2026), Trump mengatakan ia “tentu saja” mengutuk bagian video yang bernuansa rasis, tetapi menegaskan tidak merasa melakukan kesalahan.

“Saya tidak melakukan kesalahan,” ujar Trump. Ia mengklaim tidak menonton keseluruhan video dan hanya melihat bagian awal yang, menurutnya, membahas dugaan kecurangan pemilu. “Saya hanya melihat bagian pertama. Itu baik-baik saja,” katanya.

Trump menambahkan bahwa video tersebut diberikan kepada stafnya dan diunggah tanpa disadari ada bagian bermasalah. “Begitu kami mengetahuinya, kami langsung menghapusnya,” ujarnya, tanpa menjelaskan apakah staf yang bersangkutan akan dikenai sanksi.

Kecaman Lintas Partai

Unggahan tersebut memicu kemarahan luas sepanjang Jumat (6/2/2026) hingga Sabtu (7/2/2026). Wakil Presiden AS sekaligus kandidat presiden dari Partai Demokrat, Kamala Harris, menyebut penjelasan Gedung Putih tidak dapat dipercaya.

“Tidak ada yang percaya upaya menutup-nutupi ini, terutama karena mereka awalnya membela unggahan tersebut,” kata Harris dalam pernyataan pada Jumat malam. “Kita tahu persis siapa Donald Trump dan apa yang ia yakini.”

Pada hari yang sama, Gubernur California Gavin Newsom menuduh Trump melakukan “perilaku menjijikkan” dan mendesak seluruh anggota Partai Republik untuk segera mengecamnya.

Pemimpin Mayoritas Senat AS dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menulis di media sosial pada Jumat malam: “Rasis. Keji. Menjijikkan. Ini berbahaya dan merendahkan negara kita.”

Schumer secara terbuka mendesak Trump meminta maaf kepada keluarga Obama, yang ia sebut sebagai “dua warga Amerika hebat.”

Reaksi keras juga datang dari mantan pejabat Gedung Putih era Obama, Ben Rhodes, yang menyebut Trump sebagai “noda dalam sejarah Amerika.” Sementara kelompok Republicans Against Trump menulis singkat: “Tidak ada batas bawahnya.”

Pembelaan Awal Gedung Putih

Sebelum video tersebut dihapus pada Jumat malam, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt sempat membela unggahan itu dalam pernyataan kepada media pada Jumat siang.

Ia menyebut video tersebut sebagai bagian dari meme internet yang menggambarkan politisi sebagai karakter hewan dan menuding kritik terhadap unggahan itu sebagai “kemarahan palsu.”

Pernyataan tersebut justru menuai kritik lanjutan karena dinilai meremehkan unsur rasis dalam penggambaran keluarga Obama.

Kontroversi ini kembali mengingatkan publik pada sejarah panjang serangan Trump terhadap Obama, termasuk dukungannya terhadap teori konspirasi birther yang ramai pada 2011–2016. Teori itu mempertanyakan kewarganegaraan Obama, meskipun telah dibantah dan diakhiri ketika Obama merilis akta kelahiran lengkapnya pada 2011. Trump sendiri baru mengakui fakta tersebut pada 2016.

Kini, satu dekade kemudian, unggahan video yang muncul pada Februari 2026 kembali memicu perdebatan lama tentang rasisme, tanggung jawab politik, dan batas etika seorang presiden.

Pernyataan Trump bahwa ia “tidak melakukan kesalahan” justru mempertegas jurang perbedaan sikap di Amerika Serikat, antara tuntutan pertanggungjawaban moral dan penolakan untuk mengaku salah di tengah sorotan publik. (ren)