Bunga Bangkai Raksasa Mekar Sempurna di Kebun Raya Bogor Setelah 12 Tahun Tidur
Mitos di masyarakat yang menganggap bunga bangkai raksasa sebagai tanaman berbahaya atau pemangsa manusia membuat tanaman ini kerap dimusnahkan ketika tumbuh di lahan pertanian.

HALLONEWS.COM – Bunga bangkai raksasa jenis amorphophallus titanum mekar sempurna di Kebun Raya Bogor pada Jumat (6/2/ 2026).
Mekarnya bunga bangkai raksasa disertai aroma tak sedap ini menjadi momen langka karena terakhir kali mekar pada tahun 2014.
Bunga bangkai raksasa yang terancam punah ini mekar, setelah 12 tahun tidur. Kejadian ini menjadi obyek wisata dadakan masyarakat dari berbagai wilayah.
Menurut peneliti, amorphophallus titanum merupakan spesies endemik Sumatra yang dilindungi dan berstatus terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Populasi tanaman ini di alam liar terus tertekan akibat pembalakan hutan untuk industri kayu dan perkebunan kelapa sawit.
Selain itu, mitos di masyarakat yang menganggap bunga bangkai raksasa sebagai tanaman berbahaya atau pemangsa manusia membuat tanaman ini kerap dimusnahkan ketika tumbuh di lahan pertanian.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan, pola pemekaran bunga bangkai raksasa ini tidak teratur dan masih terus diteliti.
“Kadang setiap tiga tahun, kadang setiap dua tahun, dan terakhir kali mekar pada 2014,” ujarnya, dikutip dari keterangan tertulis BRIN.
Menurut mantan Rektor IPB ini, saat dirinya berkunjung ke Kebun Raya Bogor pada Sabtu (31/1/2026), tinggi bunga bangkai raksasa ini telah mencapai sekitar 120 sentimeter dengan diameter kuncup sekitar 21 sentimeter.
“Dan hari ini, 6 Februari 2026 mekar sempurna dengan mengeluarkan aroma busuk. Ini menjadi momen yang sangat penting bagi pecinta keanekaragaman hayati di Indonesia,” katany.
IUCN mencatat, lebih dari 90 kebun botani di 18 negara menanam bunga bangkai raksasa ini sebagai upaya konservasi.

Di Indonesia, beberapa kebun raya yang membudidayakan tanaman ini antara lain Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, dan Kebun Raya Liwa.
Berbeda dengan Rafflesia Arnoldii
Menurut Encyclopaedia Britannica, Amorphophallus titanum menjalani siklus yang tidak biasa.
Setelah masa pertumbuhan daun yang panjang dan dormansi umbi di bawah tanah, tanaman ini hanya akan mekar setiap beberapa tahun sekali, biasanya antara 7 sampai 10 tahun, bahkan lebih.
Masa mekarnya pun singkat, hanya sekitar 24 sampai 48 jam sebelum layu kembali.
Saat mekar, yang terlihat adalah tongkol dengan banyak bunga kecil yang diselubungi seludang besar berwarna merah tua.
Bunga ini menghasilkan bau yang menyerupai daging busuk. Bau ini kerap disalahartikan sebagai tanda bahwa tanaman ini memakan serangga. Padahal, bau tersebut berfungsi menarik serangga untuk membantu proses penyerbukan.
Serangga seperti lalat dan kumbang yang tertarik oleh bau busuk akan membawa serbuk sari dari satu bunga ke bunga lain.
Meski sama-sama dijuluki bunga bangkai, Amorphophallus titanum berbeda dengan Rafflesia arnoldii.
Amorphophallus memiliki batang dan umbi di dalam tanah serta dapat tumbuh kembali setelah mekar, sementara Rafflesia tidak memiliki batang, daun, maupun akar dan hidup sebagai parasit pada tanaman lain.
Keduanya sama-sama mengeluarkan bau menyengat, tetapi berasal dari kelompok tumbuhan yang berbeda.
Di Kebun Raya Bogor, tercatat ada sembilan jenis bunga bangkai yang telah ditanam sejak 1992. (opy)
