Home - Megapolitan - Andra Soni Dorong MRT Tembus Balaraja, Sinergi Banten–Jakarta Jadi Penentu

Andra Soni Dorong MRT Tembus Balaraja, Sinergi Banten–Jakarta Jadi Penentu

Gubernur Banten Andra Soni menegaskan sinergi Banten–Jakarta menjadi kunci pengembangan MRT lintas wilayah hingga Balaraja untuk mengatasi kemacetan dan mobilitas komuter.

Rabu, 4 Februari 2026 - 22:42 WIB
Andra Soni Dorong MRT Tembus Balaraja, Sinergi Banten–Jakarta Jadi Penentu
Gubernur Banten Andra Soni saat penandatanganan nota kesepahaman studi pengembangan MRT Kembangan–Balaraja di Balai Kota Jakarta. Foto: Humas Pemprov Banten for Hallonews

HALLONEWS.COM – Gubernur Banten Andra Soni menegaskan bahwa kolaborasi erat antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan Pemerintah Daerah Khusus Jakarta menjadi faktor krusial dalam mewujudkan sistem transportasi massal terintegrasi di kawasan metropolitan.

Pernyataan tersebut disampaikan Andra Soni usai penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) studi potensi kontribusi pembangunan MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 rute Kembangan–Balaraja yang digelar di Balai Kota Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Kerja sama itu melibatkan PT MRT Jakarta (Perseroda) bersama tujuh perusahaan pengembang yang berada di sepanjang rencana koridor trase. MoU tersebut menjadi langkah awal penyusunan kajian menyeluruh terkait pengembangan jalur MRT lintas wilayah Jakarta–Banten.

Studi yang akan dilakukan mencakup tiga fokus utama, yakni aspek kelembagaan, keuangan, serta kajian teknis termasuk penentuan trase. Proses kajian diperkirakan memakan waktu antara delapan hingga sepuluh bulan dan akan menjadi dasar penentuan skema pendanaan serta model pengembangan proyek ke depan.

Andra Soni menilai dimulainya kerja sama ini sebagai langkah strategis dalam menjawab persoalan mobilitas harian masyarakat di wilayah perbatasan Banten dan Jakarta.

“Kesepakatan ini membuka jalan menuju cita-cita bersama menghadirkan transportasi massal yang benar-benar terintegrasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tingginya arus komuter dari Banten ke Jakarta menyebabkan tekanan lalu lintas terjadi secara bergantian di kedua wilayah, terutama pada jam-jam sibuk.

“Pagi hari kepadatan menumpuk di Jakarta, malam hari bergeser ke Banten. Ketergantungan pada kendaraan pribadi harus dikurangi,” kata Andra.

Menurutnya, perpanjangan jalur MRT hingga Balaraja merupakan solusi jangka menengah dan panjang untuk menekan kemacetan sekaligus mendorong peralihan masyarakat ke transportasi publik.

“Jika terealisasi, ini bukan hanya mengurangi beban jalan, tapi juga membangun budaya baru dalam penggunaan angkutan massal di kawasan perbatasan,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Daerah Khusus Jakarta Pramono Anung menyatakan kerja sama ini menandai penguatan kolaborasi lintas daerah dalam pengembangan jaringan MRT regional.

Ia menambahkan, keterlibatan pengembang di sepanjang jalur MRT akan mempercepat pengembangan kawasan berbasis transit atau transit-oriented development (TOD), sekaligus memperkuat struktur pembiayaan proyek.

“Ini adalah simbiosis yang saling menguntungkan antara Jakarta, Banten, pengembang, dan MRT, baik dari sisi pembiayaan maupun pengembangan kawasan,” ujar Pramono.

Pemerintah Jakarta, lanjutnya, akan memanfaatkan pengalaman pembangunan MRT Utara–Selatan bersama mitra internasional dan dukungan pemerintah pusat sebagai referensi. Tahap studi dan pematangan proyek ditargetkan rampung agar pembangunan MRT Fase 2 Kembangan–Balaraja dapat dimulai dalam satu hingga dua tahun ke depan. (ren)