Home - Nasional - Kasus Bocah SD di Ngada Tewas Mengenaskan, DPR: Sistem Perlindungan Sosial Rapuh

Kasus Bocah SD di Ngada Tewas Mengenaskan, DPR: Sistem Perlindungan Sosial Rapuh

Meskipun persoalan kemiskinan belum sepenuhnya teratasi oleh negara, kepekaan sosial keluarga dan lingkungan sekitar semestinya hadir sebagai benteng pertama perlindungan anak.

Rabu, 4 Februari 2026 - 13:20 WIB
Kasus Bocah SD di Ngada Tewas Mengenaskan, DPR: Sistem Perlindungan Sosial Rapuh
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira. Foto: Humas DPR untuk Hallonews

HALLONEWS.COM– Wakil Ketua Komisi XIII DPR Andreas Hugo Pareira menegaskan tragedi meninggalnya seorang bocah sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, harus menjadi peringatan keras agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.

Dia menilai, meskipun persoalan kemiskinan belum sepenuhnya teratasi oleh negara, kepekaan sosial keluarga dan lingkungan sekitar semestinya hadir sebagai benteng pertama perlindungan anak.

“Peristiwa tersebut menggugah nurani publik dan menjadi cermin rapuhnya sistem perlindungan sosial terhadap anak-anak di lapisan masyarakat paling rentan,” katanya dalam keterangan pada Rabu (4/2/2026).

“Rasa empati dan tanggung jawab bersama harus dibangun agar tidak ada lagi anak yang merasa sendirian menghadapi tekanan hidup,” imbuhnya.

Legislator tersebut juga meminta aparat kepolisian mengusut secara menyeluruh latar belakang kejadian itu agar publik memperoleh kejelasan dan peristiwa serupa dapat dicegah di masa depan.

Selain itu, pemerintah daerah diminta turun tangan secara serius untuk mendampingi keluarga korban, baik secara sosial maupun psikologis.

“Tragedi ini menjadi tamparan bagi semua pihak, lantaran bocah tersebut diduga mengalami keputusasaan akibat minimnya perhatian dan kasih sayang dari lingkungan sekitarnya,” tegasnya.

Ia menegaskan, tanggung jawab sosial bangsa seharusnya terpanggil untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dalam perlindungan, kepedulian, dan harapan.

Diketahui sebelumnya, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Korban meninggalkan sepucuk surat untuk sang ibu.

Korban diketahui tinggal bersama neneknya, sementara ibunya yang merupakan orang tua tunggal harus bekerja keras sebagai petani dan buruh serabutan demi menghidupi lima orang anak. (fer)