Home - Nusantara - Cerita Pilu dari Pelosok NTT, Ketika Harapan Anak Sekolah Pupus oleh Realitas Ekonomi

Cerita Pilu dari Pelosok NTT, Ketika Harapan Anak Sekolah Pupus oleh Realitas Ekonomi

Kisah menyentuh seorang siswa SD di Ngada, NTT, yang hidup dalam keterbatasan ekonomi memantik perhatian publik terhadap akses pendidikan dan perlindungan anak di daerah terpencil.

Rabu, 4 Februari 2026 - 8:45 WIB
Cerita Pilu dari Pelosok NTT, Ketika Harapan Anak Sekolah Pupus oleh Realitas Ekonomi
Tulisan tangan siswa SD di Ngada sebelum mengakhiri hidupnya. Istimewa

HALLONEWS.COM – Langit siang di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) biasanya berjalan tenang.

Suara anak-anak bermain dan aktivitas warga menjadi warna keseharian desa kecil itu. Namun, suasana berubah sunyi pada Kamis siang, 29 Januari 2026.

Warga dikejutkan oleh kabar meninggalnya seorang anak laki-laki berinisial YBS, siswa kelas IV sekolah dasar berusia 10 tahun.

Kepergian bocah tersebut menyisakan duka mendalam, sekaligus menggugah perhatian banyak pihak terhadap kondisi kehidupan anak-anak di wilayah terpencil.

YBS dikenal warga sebagai anak pendiam. Ia tinggal bersama neneknya yang telah lanjut usia di sebuah pondok sederhana. Bangunan itu berdiri jauh dari keramaian, menjadi tempat YBS menjalani hari-harinya.

Keterbatasan ekonomi menjadi bagian dari kehidupan bocah tersebut sejak kecil. Ayahnya telah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan. Ibunya, MGT, harus berjuang membesarkan lima anak seorang diri. Kondisi itu membuat YBS lebih sering tinggal bersama neneknya.

Sehari sebelum peristiwa tragis itu, YBS sempat pulang ke rumah ibunya. Pagi harinya, sang ibu mengantarkan kembali anaknya ke pondok nenek menggunakan ojek.

Sebelum berpisah, MGT berpesan agar anaknya tetap semangat bersekolah meski hidup dalam keterbatasan.
Pesan sederhana itu menjadi percakapan terakhir di antara keduanya.

Menurut kesaksian warga, beberapa jam sebelum ditemukan meninggal, YBS terlihat duduk sendiri di bale-bale bambu di depan pondok. Warga yang sempat menyapanya melihat anak tersebut tampak murung dan lebih banyak diam.

Tak lama kemudian, seorang warga yang melintas melihat kondisi korban dan segera meminta pertolongan. Warga pun berdatangan sebelum akhirnya kejadian tersebut dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Dalam proses penanganan awal, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis oleh korban. Surat itu ditujukan kepada ibunya. Polisi menyatakan tulisan tersebut telah dicocokkan dengan catatan korban di buku sekolah.

Salah satu fakta yang menyentuh hati warga adalah permintaan terakhir YBS kepada ibunya. Ia sempat meminta uang untuk membeli buku dan pena. Permintaan sederhana yang tak sempat terpenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Bagi warga desa, kepergian YBS menjadi pengingat bahwa masih banyak anak yang menghadapi tantangan besar untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak.

Di wilayah terpencil, kebutuhan sekolah yang tampak sederhana sering kali menjadi beban berat bagi keluarga.

Peristiwa ini juga membuka kembali diskusi tentang pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan anak, terutama mereka yang hidup dalam kondisi sosial ekonomi rentan. Akses pendidikan, dukungan psikologis, serta pengawasan lingkungan menjadi faktor penting dalam tumbuh kembang anak.

Sejumlah tokoh masyarakat setempat berharap kejadian tersebut dapat menjadi momentum meningkatkan kepedulian bersama. Bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga masyarakat luas, agar anak-anak di daerah terpencil mendapatkan perlindungan dan kesempatan belajar yang lebih baik.

Bagi keluarga YBS, duka itu masih terasa mendalam. Sang ibu hanya bisa mengenang anaknya sebagai sosok yang sederhana dan ingin terus bersekolah seperti teman-temannya.

Kisah YBS menjadi potret bahwa pendidikan bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga harapan bagi masa depan anak-anak. Di balik seragam sekolah dan buku pelajaran, ada mimpi-mimpi kecil yang membutuhkan perhatian dan dukungan banyak pihak. (min)