Home - Megapolitan - Bertahan 100 Tahun, Kopi Legendaris Bogor Masih Hidup di Dinding Warung

Bertahan 100 Tahun, Kopi Legendaris Bogor Masih Hidup di Dinding Warung

Enam kopi legendaris Bogor seperti Kopi Liong Bulan dan Bah Sipit masih bertahan, namun belum mampu menembus pasar nasional di era modern.

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:30 WIB
Bertahan 100 Tahun, Kopi Legendaris Bogor Masih Hidup di Dinding Warung
Kopi legendaris Bogor yang masih bertahan hingga kini dengan penikmatnya lintas generasi. Hallonews.com

HALLONEWS.COM – Di tengah gempuran kopi kekinian dan merek global, enam kopi legendaris asal Kota Bogor masih bertahan dengan cara yang nyaris tak berubah sejak 100 tahun.

Dengan menggantung di dinding warung kopi pinggir jalan dan bertehan secara kultural, namun tertinggal secara industri.

Kopi-kopi legendaris tersebut pernah diperkenalkan dalam Festival Kopi Legendaris Bogor yang digelar di Lapangan Sempur, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, pada 2025 lalu.

Saat itu, Danrem 061/Suryakancana, Brigjen TNI Faisol Izuddin Karimi membuka rangkaian Festival Merah Putih (FMP) dan berharap kopi Bogor mampu naik kelas, tak hanya di tingkat nasional, tetapi juga dunia.

Namun harapan tersebut hingga kini belum sepenuhnya terwujud. Salah satu contoh nyata adalah Kopi Liong Bulan. Meski namanya melegenda dan dikenal luas di kalangan penikmat kopi tradisional, produksi kopi ini kini masih dilakukan secara rumahan.

kopi2
Kopi legendaris Bogor yang masih bertahan hingga kini dengan penikmatnya lintas generasi. Hallonews.com

Pabrik kopi Liong di kawasan Pomad, Kota Bogor, yang pernah dikunjungi Wali Kota Bogor saat itu, Bima Arya, telah lama berhenti beroperasi.

Meski demikian, Kopi Liong Bulan tetap bertahan dan masih setia menghiasi warung-warung kopi tradisional di Bogor dan sekitarnya.

“Enam Kopi, Enam Sejarah Panjang”

Dalam catatan sejarah perkopian Bogor, terdapat enam merek kopi yang memiliki jejak panjang dan menjadi bagian dari identitas kota hujan.
Keenam kopi tersebut yakni Kopi Bah Sipit yang telah berusia lebih dari 100 tahun, Kopi Nikmat, Kopi Teko, Keong Mas, Kopi Liong Bulan, dan Kopi Oplet.

“Sejak dulu, Bogor dikenal sebagai salah satu daerah penghasil dan pengekspor kopi,” ujar Abah Jefri, sesepuh Bogor, kepada wartawan, Selasa (3/2/2026).

kopi3
Kopi legendaris Bogor yang masih bertahan hingga kini dengan penikmatnya lintas generasi. Hallonews.com

Hal senada disampaikan Benyamin Mbooh, pemerhati kopi Bogor. Menurutnya, keenam kopi legendaris ini memiliki jejak sejarah kuat, cita rasa khas, serta loyalitas penikmat yang bertahan lintas generasi.

“Kopi-kopi legendaris ini sebenarnya punya kualitas rasa yang tidak kalah. Tapi memang belum banyak dikenal secara luas. Padahal sejak abad ke-18, Bogor sudah dikenal sebagai penghasil kopi yang diekspor ke Eropa,” jelas Benyamin.

Kopi Liong Bulan, Kopi Para Pejuang
Di antara enam kopi tersebut, Kopi Liong Bulan disebut sebagai salah satu yang paling ikonik.

Kopi ini dikemas dalam bentuk sachet dengan ciri khas logo naga dan bulan sabit. Sejarahnya tercatat sejak tahun 1945 dan dirintis dari usaha keluarga.

Kopi ini dikenal memiliki warna hitam pekat, aroma kuat, dan rasa gurih yang khas. Distribusinya bahkan telah menjangkau berbagai daerah seperti Depok, Sukabumi, Cianjur, Jakarta, hingga Tangerang Selatan.

“Aromanya sangat kuat dan rasanya gurih. Tak heran jika kopi ini digemari oleh penikmat dari berbagai generasi,” ujar Benyamin.

Menurut cerita turun-temurun, Kopi Liong Bulan juga dikenal sebagai minuman para pejuang kemerdekaan sebelum mereka berangkat ke medan perang.

Identitas Kuat, Tapi Minim Dukungan Industri

Pemerhati kopi Bogor lainnya, Nancy Wahyuni, menilai kekuatan utama Kopi Liong Bulan terletak pada identitas mereknya yang kuat, sehingga mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan.

Namun, ia menegaskan bahwa tanpa dukungan serius dalam hal pengemasan, pemasaran, dan industrialisasi, kopi-kopi legendaris Bogor akan terus berada di pinggir arus utama industri kopi nasional.

“Kopi ini lahir sejak abad ke-18, saat kawasan Puncak dan Cisarua menjadi perkebunan kopi di masa kolonial Belanda. Rasanya yang khas membuatnya bertahan sebagai warisan keluarga hingga sekarang,” kata Nancy.

Ia menilai, kopi legendaris Bogor bukan hanya soal minuman, melainkan warisan budaya yang membutuhkan perhatian lebih agar tidak sekadar menjadi nostalgia di dinding warung kopi. (opy)