Home - Nusantara - Di Kelas Kecil Puncak Jaya, Polisi Datang Membawa Tawa dan Harapan Anak-Anak

Di Kelas Kecil Puncak Jaya, Polisi Datang Membawa Tawa dan Harapan Anak-Anak

Polisi Satgas Damai Cartenz 2026 hadir di kelas SD Puncak Jaya. Bukan razia, tapi tawa, cerita, dan harapan anak-anak Papua.

Minggu, 1 Februari 2026 - 20:39 WIB
Di Kelas Kecil Puncak Jaya, Polisi Datang Membawa Tawa dan Harapan Anak-Anak
Satgas Damai Cartenz 2026 hadir di SD Puncak Jaya. Hallonews.com

HALLONEWS.COM – Pagi itu, ruang kelas SD Inpres Dondobaga tak dipenuhi suara langkah sepatu tentara atau aba-aba tegas. Yang terdengar justru tawa kecil, pertanyaan polos, dan tepuk tangan anak-anak yang duduk di bangku kayu sederhana.

Di distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Sabtu (31/1/2026), delapan personel Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 datang dengan cara yang tak biasa. Tanpa senjata terangkat, tanpa sorot mata curiga. Mereka datang membawa cerita, senyum, dan pelajaran tentang mimpi.

Anak-anak yang awalnya menatap ragu perlahan berubah berani. Ada yang mengangkat tangan ingin menjawab, ada yang tertawa saat kuis sederhana dilontarkan.

Di hadapan mereka, polisi bukan sosok yang menakutkan, melainkan kakak yang bercerita tentang Merah Putih, tentang sekolah, dan tentang harapan.

Dipimpin AKP I Putu Wardana personel Satgas duduk sejajar dengan murid-murid. Mereka bertanya tentang cita-cita, tentang apa yang ingin anak-anak itu lakukan di masa depan. Jawabannya sederhana, namun jujur: ada yang ingin jadi guru, ada yang ingin jadi polisi, ada pula yang hanya ingin terus bersekolah.

Di wilayah pegunungan dengan akses pendidikan terbatas, kehadiran aparat negara di ruang kelas kecil ini terasa bermakna. Bukan sebagai penjaga keamanan, melainkan sebagai penanam nilai—disiplin, nasionalisme, dan rasa percaya diri.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Pol. Faizal Ramadhani, meyakini bahwa perdamaian sejati dimulai dari anak-anak.

“Keamanan bukan hanya soal senjata dan patroli. Perdamaian tumbuh ketika anak-anak merasa aman untuk belajar dan berani bermimpi,” ujarnya.

Menurutnya, menyapa anak-anak hari ini berarti menjaga Papua di masa depan. Sebab, karakter yang ditanamkan sejak dini akan menentukan arah kehidupan mereka kelak.

Para guru menyaksikan momen itu dengan mata berkaca-kaca. Bagi mereka, hari tersebut bukan sekadar kegiatan kunjungan, melainkan pengingat bahwa negara hadir—bahkan hingga ke ruang kelas paling jauh di Puncak Jaya.

Ketika bel sekolah usai, anak-anak enggan beranjak. Mereka menyalami satu per satu personel polisi. Di wajah-wajah kecil itu tersimpan kegembiraan, sekaligus harapan baru.
Di Puncak Jaya, hari itu, keamanan tak datang lewat suara sirene.

Dia datang lewat tawa anak-anak yang percaya bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan. (min)