Harga Emas Dunia Anjlok Tajam pada Akhir Januari 2026, Ini Analisanya
Harga emas dunia anjlok lebih dari 8% di akhir Januari 2026 akibat penguatan dolar AS dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat. Simak analisis lengkapnya.

HALLONEWS.COM – Pasar logam mulia global mengalami gejolak signifikan pada 30 Januari 2026, dengan harga emas dunia turun lebih dari 8% dalam satu hari perdagangan.
Penurunan ini mengakhiri reli panjang emas yang telah mendorong nilai mencapai US$5.602 per troy ons. Pada penutupan sesi tersebut, harga emas spot jatuh ke ambang US$4.679 per troy ons untuk pertama kalinya dalam periode tersebut, menandai salah satu penurunan harian terburuk dalam sejarah pasar logam mulia modern.
Penyebab utama dari penurunan ini adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang drastis, dipicu oleh nominasi Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve oleh Presiden Donald Trump.
Warsh dikenal dengan pandangan hawkish terhadap inflasi dan kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga pasar mengantisipasi pendekatan suku bunga tinggi lebih lama.
Penguatan dolar membuat aset berdenominasi dolar seperti emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga mengurangi daya tarik sebagai instrumen lindung nilai.
Selain itu, aksi ambil untung massal dari investor setelah reli berkepanjangan turut mempercepat penjualan, dengan volume transaksi yang tinggi di bursa komoditas utama.
Penurunan ini akan mengurangi sebagian besar keuntungan yang diperoleh emas pada tahun 2025, ketika harganya melonjak tajam karena ketidakpastian geopolitik, pembelian bank sentral, dan ekspektasi pelonggaran moneter.
Tetapi nominasi orang seperti Warsh mengubah persepsi pasar, menarik investor untuk berinvestasi dalam aset berisiko lebih tinggi yang menguntungkan dari dolar yang kuat. Di pasar berjangka, kontrak emas juga mengalami efek yang sama, dengan penurunan yang mencerminkan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve di bawah kepemimpinan baru.
Harga emas batangan dan perhiasan dipengaruhi oleh perubahan global di pasar domestik karena pedagang cepat menyesuaikan diri dengan tren internasional.
Para analis berpendapat bahwa penurunan ini merupakan koreksi setelah overbought; namun, jika data ekonomi AS menunjukkan kelemahan atau jika ketegangan geopolitik meningkat, itu bisa kembali meningkat.
Namun, penekan utama dalam jangka pendek akan tetap menjadi penguatan dolar dan harapan kebijakan Federal Reserve yang lebih restriktif. Kondisi ini menunjukkan betapa sensitifnya logam mulia terhadap perubahan sentiment mata uang dan moneter; nama-nama hawkish seperti Warsh dapat dengan cepat mengubah ekspektasi pasar.
Investor disarankan untuk memantau perkembangan lebih lanjut, seperti apakah nominasi tersebut dikonfirmasi oleh Senat AS.
Penurunan harga emas ini cenderung memberikan dampak positif bagi sektor ekuitas di pasar saham Indonesia, di mana indeks sektoral perbankan dan manufaktur berpotensi mengalami penguatan akibat berkurangnya aliran dana ke aset safe haven dan fokus kembali pada aset berisiko dengan yield lebih tinggi.
Namun, sektor pertambangan logam mulia domestik mungkin menghadapi tekanan penurunan nilai produksi, sementara secara agregat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa merespons dengan volatilitas yang condong positif dari penguatan dolar yang meningkatkan daya saing ekspor non-komoditas, mendorong investor untuk mengalihkan portofolio ke subsektor yang resilien terhadap fluktuasi logam mulia.
Dari sisi analisis teknikal, harga emas sedang menguji area support di sekitar US$4.938 – US$4.781 (level Fibonacci retracement 50% – 61.8% dari reli terakhir), dengan target penurunan potensial berikut di kisaran US$4.558 – US$4.500 jika momentum bearish berlanjut.(Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)
Disclaimer : Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.
Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.
