Trump Peringatkan Inggris Soal Bisnis dengan China: “Sangat Berbahaya”
Donald Trump memperingatkan Inggris bahwa berbisnis dengan China sangat berbahaya, di tengah upaya PM Keir Starmer mencairkan hubungan ekonomi London–Beijing.

HALLONEWS.COM– Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Inggris agar berhati-hati dalam memperluas hubungan bisnis dengan China. Trump menyebut kerja sama ekonomi dengan Beijing sebagai langkah yang “sangat berbahaya”, di tengah upaya Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer mencairkan hubungan yang membeku selama bertahun-tahun.
Peringatan itu disampaikan Trump kepada wartawan di sela pemutaran perdana film Melania di Kennedy Center, Washington DC, Kamis (29/1/2026) waktu setempat.
“Ya, sangat berbahaya bagi mereka untuk melakukan itu, dan menurut saya, jauh lebih berbahaya lagi bagi Kanada untuk berbisnis dengan China,” ujar Trump.
Trump juga menyinggung Kanada yang dinilainya “tidak dalam kondisi baik” dan memperingatkan bahwa China bukan jawaban atas persoalan ekonomi negara tersebut. Meski demikian, ia mengaku memiliki hubungan personal yang baik dengan Presiden China Xi Jinping.
“Saya sangat mengenal China. Saya tahu Presiden Xi adalah teman saya. Tapi itu adalah rintangan besar yang harus dilewati,” kata Trump.
Pernyataan Trump muncul saat Keir Starmer melakukan kunjungan resmi ke China, yang menjadi lawatan pertama Perdana Menteri Inggris dalam delapan tahun terakhir. Dalam kunjungan itu, Starmer bertemu Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang, serta menghadiri Forum Bisnis Inggris–China.
Menanggapi peringatan Trump, Menteri Perdagangan Inggris Chris Bryant menegaskan bahwa akan “benar-benar gila” jika Inggris tidak menjalin hubungan dengan China.
“Tiongkok adalah kekuatan besar dunia. Ini ekonomi terbesar kedua di dunia dan pasar ekspor terbesar keempat kita,” kata Bryant.
“Tentu saja kita harus terlibat dengan mata terbuka, menantang China dalam isu yang tidak kita sepakati, tapi mengabaikannya sama sekali adalah hal yang tidak masuk akal.”
Bryant juga menekankan bahwa Starmer telah memainkan peran penting dalam diplomasi global dalam beberapa pekan terakhir, baik terkait hubungan dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, maupun China.
Kunjungan Starmer ke China membuahkan sejumlah hasil konkret, antara lain bebas visa bagi warga Inggris, kesepakatan untuk menekan pasokan mesin yang digunakan dalam penyeberangan ilegal Selat Inggris, serta penurunan tarif impor wiski Scotch hingga 50 persen.
Di tengah dinamika politik tersebut, sektor swasta Inggris juga memperdalam kerja sama dengan China. Octopus Energy, pemasok energi terbesar di Inggris, mengumumkan pembentukan usaha patungan dengan PCG Power dari Shanghai. Perusahaan baru bernama Bitong Energy ditargetkan mampu memperdagangkan hingga 140 TWh energi hijau per tahun pada 2030, dengan potensi keuntungan sekitar £50 juta per tahun, setengahnya kembali ke Inggris.
Starmer menegaskan bahwa Inggris tetap menjaga “hubungan khusus” dengan Amerika Serikat, seraya menolak pendekatan ekstrem dalam menyikapi China.
“Tidak masuk akal berpura-pura China tidak ada. Kepentingan kita adalah terlibat tanpa mengorbankan keamanan nasional,” kata Starmer dalam pernyataannya selama perjalanan ke China. (ren)
