Home - Ekonomi & Bisnis - Harga Emas Dunia Menembus US$5.000 per Ons untuk Pertama Kalinya

Harga Emas Dunia Menembus US$5.000 per Ons untuk Pertama Kalinya

Harga emas dunia mencetak rekor baru dengan menembus US$5.000 per ons untuk pertama kalinya. Lonjakan dipicu ketidakpastian global, inflasi, penguatan yen, dan perburuan aset safe haven oleh investor.

Selasa, 27 Januari 2026 - 12:12 WIB
Harga Emas Dunia Menembus US$5.000 per Ons untuk Pertama Kalinya
Grafis harga emas (dok Yes Invest)

HALLONEWS.COM – Harga emas dunia telah mencapai milestone bersejarah dengan menembus level US$5.000 per troy ons pada akhir Januari 2026.

Pada perdagangan terbaru, harga emas spot berhasil melampaui ambang batas tersebut, menandai rekor tertinggi sepanjang masa.

Kenaikan ini merupakan puncak dari tren bullish yang berkelanjutan sepanjang tahun sebelumnya, di mana logam mulia ini telah mengalami apresiasi substansial akibat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Investor yang mencari aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar keuangan adalah penyebab lonjakan harga emas dunia. Kekhawatiran terus menerus tentang inflasi, perubahan suku bunga bank sentral utama, dan ketegangan perdagangan internasional telah mendorong banyak dana untuk beralih ke emas sebagai instrumen perlindungan.

Selain itu, spekulasi bahwa otoritas moneter Jepang akan mengambil tindakan untuk menstabilkan nilai tukar menyebabkan yen Jepang menguat pesat terhadap dolar AS. Kondisi ini membuat emas semakin menarik bagi investor Asia, yang melihat emas sebagai cara untuk melindungi mata uang mereka dari depresiasi.

Di pasar berjangka, volume transaksi kontrak emas meningkat tajam. Menurut analis pasar, pencapaian US$5.000 per ons adalah permulaan dari fase baru, di mana emas diharapkan mencapai level lebih tinggi lagi, tergantung pada bagaimana keadaan makroekonomi berkembang.

Pendorong struktural lainnya adalah pembelian oleh bank sentral negara-negara berkembang yang mencakup cadangan devisa untuk diversifikasi dari dolar AS. Meskipun fokus utama saat ini adalah investasi, permintaan perhiasan dan teknologi di pasar fisik tetap stabil.

Kenaikan ini juga mencerminkan pergeseran paradigma di kalangan investor institusional, yang semakin mengalokasikan portofolio ke aset riil untuk menghadapi risiko resesi atau gejolak pasar saham.

Dengan demikian, emas tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan nilai, tetapi juga sebagai indikator sentimen risiko global. Prospek jangka menengah tetap positif, dengan potensi kenaikan lebih lanjut jika faktor pendorong seperti ketidakpastian geopolitik terus berlanjut.

Secara keseluruhan, penembusan harga emas dunia ke atas US$5.000 per ons untuk pertama kalinya ini, disertai penguatan yen akibat kekhawatiran intervensi, mencerminkan buruan investor terhadap aset aman di tengah volatilitas ekonomi global, dengan tren yang diproyeksikan mengarah ke level lebih tinggi lagi.

Rekor harga emas ini cenderung memberikan tekanan pada sektor ekuitas di pasar saham Indonesia, di mana indeks sektoral perbankan dan manufaktur berpotensi mengalami koreksi akibat aliran dana investor yang beralih ke aset safe haven seperti emas.

Namun, sektor pertambangan logam mulia domestik bisa mendapat dukungan relatif dari sentimen positif komoditas. (Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)

 

Disclaimer : Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.

Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.