Kenangan Selamat Ginting tentang Letjen Purn Amir Sembiring, Perwira Intelektual dari Karo
Jurnalis senior Selamat Ginting mengenang Letjen TNI (Purn) Amir Sembiring, perwira tinggi TNI AD asal Karo yang wafat Senin pagi, sosok dialogis, berintegritas, dan penggerak sejarah.

HALLONEWS.COM — Wafatnya Letnan Jenderal TNI (Purn) Amir Sembiring pada Senin (26/1/2025) pagi meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan.
Bagi jurnalis senior dan pengamat komunikasi politik Selamat Ginting, almarhum bukan hanya perwira tinggi TNI, melainkan sahabat diskusi, rekan perjuangan, dan sosok yang konsisten mengabdikan diri bagi bangsa, bahkan setelah purnatugas.
Selamat mengenang Amir Sembiring sebagai peserta aktif dalam berbagai diskusi terbatas para purnawirawan perwira tinggi TNI. Dalam forum tersebut, Selamat kerap diundang menjadi narasumber membahas politik kontemporer serta posisi TNI dalam relasi sipil-militer—tema yang juga menjadi fokus disertasi doktoralnya di bidang ilmu politik.
“Beliau selalu menyimak dengan saksama, bertanya dengan tajam, dan berpendapat dengan jernih,” ujar Selamat.
Perkenalan keduanya bermula pada 1996 di dalam pesawat Hercules VIP TNI AU yang membawa rombongan Kasum ABRI Letjen TNI Suyono menuju Papua untuk meninjau dampak kerusuhan. Saat itu, Amir Sembiring—lulusan Akmil 1970—masih berpangkat Kolonel Infanteri, bersama seniornya Kolonel Zeni Djadiate Ginting (Akmil 1968). Selamat turut serta sebagai wartawan bidang militer.
Dalam suasana khas militer, Amir Sembiring sempat berkelakar, “Wartawan militer itu posisinya strategis, seperti jenderal.” Ia juga menyebut adanya “tiga orang Karo di pesawat ini,” yang disambut doa Selamat agar Amir kelak menjadi jenderal—doa yang kemudian terwujud.
Hubungan Selamat Ginting dan Amir Sembiring tak berhenti di ruang diskusi. Keduanya juga pernah bekerja bersama dalam Tim Pengusulan Letjen Jamin Ginting sebagai Pahlawan Nasional. Amir Sembiring dipercaya sebagai ketua tim, sementara Selamat bertugas di bidang media.
Mereka beberapa kali menggelar rapat di Jakarta dan Medan, termasuk di rumah keluarga Jamin Ginting. Proses panjang, penuh kajian sejarah dan penguatan dokumentasi itu akhirnya membuahkan hasil.
“Alhamdulillah. Puji Tuhan. Kami berhasil menjadikan Jamin Ginting sebagai Pahlawan Nasional,” kenang Selamat.
Keberhasilan itu bahkan berlanjut hingga pemutaran film tentang Jamin Ginting dan sang istri di bioskop, di mana Selamat dan Amir Sembiring hadir sebagai tamu kehormatan—sebuah penanda bahwa perjuangan mereka bukan hanya administratif, tetapi juga kultural dan historis.
Jejak Pengabdian
Lahir pada 3 Agustus 1947, Amir Sembiring dikenal memiliki karier militer yang panjang dan bersih. Ia pernah menjabat Pangdam XVII/Cenderawasih (1998–1999) pada masa transisi nasional yang krusial, serta Sekretaris Utama Lemhannas RI, berperan dalam kajian geopolitik dan ketahanan nasional. Jabatan puncaknya adalah Komandan Kodiklat TNI AD (Kodiklatad).
Pasca purnatugas, Amir Sembiring tetap mengabdi sebagai Penasihat Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI) dan aktif dalam pelestarian budaya serta pemberdayaan masyarakat Karo.
Bagi Selamat Ginting, Amir Sembiring adalah teladan tentang pengabdian yang tak pernah usai—perwira yang berpikir, tokoh Karo yang mempersatukan, dan manusia yang setia pada nilai nasionalisme hingga akhir hayat.(gin)
