Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono Pingsan Saat Serahkan Jenazah Korban Pesawat Jatuh
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono dilaporkan pingsan saat menyerahkan jenazah korban pesawat jatuh kepada pihak keluarga, Minggu (25/1/2026).

HALLONEWS.COM – Suasana duka menyelimuti prosesi penyerahan jenazah korban kecelakaan pesawat ATR yang jatuh di wilayah Sulawesi Selatan. Di tengah isak tangis keluarga korban, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono dilaporkan pingsan saat menyampaikan ucapan belasungkawa dan menyerahkan jenazah kepada pihak keluarga, Minggu (25/1/2026).
Peristiwa tersebut terjadi ketika Wahyu Trenggono berdiri di hadapan peti jenazah, didampingi pejabat daerah dan perwakilan keluarga korban. Upacara penyerahan jenazah korban ini dilakukan di Auditorium Madidihang, Akademi Usaha Perikanan (AUP) Kelautan dan Perikanan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (25/1/2026) sekitar pukul 09.15 WIB.
Pada satu momen, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono maju ke podium untuk memimpin upacara penyerahan jenazah ke pihak keluarga. Dengan suara bergetar, ia sempat menyampaikan rasa duka mendalam atas tragedi yang merenggut nyawa para penumpang dan awak pesawat.
Namun suasana haru itu berubah menjadi kepanikan sesaat ketika Wahyu Trenggono tiba-tiba tampak limbung, kemudian terjatuh dan kehilangan kesadaran.
Petugas medis yang sejak awal bersiaga di lokasi langsung memberikan pertolongan pertama. “Menteri KKP segera dievakuasi ke ruang medis,” ujar seorang saksi mata. Sejumlah aparat berupaya menenangkan peserta upacara agar prosesi penyerahan jenazah dapat dilanjutkan.
Kehadiran Menteri KKP dalam prosesi penyerahan jenazah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dan empati pemerintah kepada keluarga korban. Beberapa korban merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang tengah menjalankan tugas negara saat pesawat nahas itu mengalami kecelakaan.
Tangis keluarga pecah ketika peti jenazah diserahkan. Sejumlah anggota keluarga tampak saling berpelukan, tak kuasa menahan kesedihan atas kepergian orang-orang tercinta yang sebelumnya masih sempat berpamitan sebelum berangkat menjalani penerbangan tersebut.
Menurut keterangan sementara, kondisi Wahyu Trenggono berangsur membaik setelah mendapat penanganan medis. Meski demikian, pihak kementerian menyebutkan bahwa sang menteri mengalami kelelahan fisik dan tekanan emosional yang berat selama mengikuti rangkaian proses pencarian, identifikasi, hingga pemulangan jenazah korban.
Tragedi jatuhnya pesawat ATR ini menjadi duka nasional, terutama bagi keluarga korban dan institusi tempat para penumpang mengabdi. Pemerintah memastikan akan terus mendampingi keluarga korban, baik dalam proses pemakaman maupun pemulihan psikologis pascakecelakaan.
Insiden pesawat ATR 42-500 yang membawa tim pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan serta awak pesawat terjadi pada Sabtu, 17 Januari 2026, menimbulkan duka mendalam di kalangan keluarga, rekan kerja, dan publik nasional. Peristiwa ini juga menegaskan peran serta tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang berada di dalam pesawat saat insiden terjadi.
Pesawat jenis ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT, dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) dalam status sewa oleh KKP untuk misi pengawasan kelautan dan perikanan, dinyatakan hilang kontak sekitar pukul 13.30 WITA saat mendekati wilayah tujuan di Makassar. Kontak terakhir dengan pengendali lalu lintas udara dilaporkan ketika pesawat tengah melintasi kawasan perbukitan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep–Maros, Sulawesi Selatan.
Tim pencarian dan penyelamatan (SAR) kemudian menemukan puing-puing pesawat di lereng gunung yang tinggi dan berkabut tebal, yang membuat operasi evakuasi berlangsung secara intensif dan penuh kendala karena medan bergunung dan kondisi cuaca.
Pada penutupan operasi pencarian Jumat, 23 Januari 2026, tim SAR mengumumkan bahwa semua 10 korban yang berada di dalam pesawat telah ditemukan. Evakuasi jenazah dilakukan secara bertahap, termasuk pengambilan kotak hitam (black box) untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh otoritas terkait.
Pesawat tersebut membawa total 10 orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang yang merupakan pegawai KKP. Ketiga pegawai tersebut diberangkatkan sebagai bagian dari misi aerial surveillance untuk memantau sumber daya perikanan di wilayah kerja Indonesia melalui udara.
Identitas tiga pegawai KKP yang menjadi korban dalam insiden ini adalah:
Ferry Irawan, Pegawai Negeri Sipil di KKP yang bertugas sebagai analis kapal pengawas.
Deden Mulyana, pegawai yang bertugas sebagai pengelola barang milik negara di kementerian tersebut.
Yoga Naufal, tenaga profesional yang terlibat dalam operasional pendukung penerbangan dan dokumentasi udara pada Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan atau PSDKP. (gaa)
