Sejarah 544 Tahun Terpecah! Natal Pertama Digelar di Plaza Balai Kota Bogor
Natal bersama Pemkot Bogor digelar di Plaza Balaikota untuk pertama kalinya dalam 544 tahun. Wali Kota Dedie Rachim menegaskan Bogor sebagai kota toleransi.

HALLONEWS.COM – Perayaan Natal Bersama Pemerintah Kota Bogor 2025 yang digelar di Plaza Balaikota Bogor, Jumat malam (23/1/2026), mencatat sejarah penting bagi Kota Hujan. Untuk pertama kalinya sejak Bogor berdiri 544 tahun lalu, perayaan Natal diselenggarakan di lingkungan Balai Kota.
Ratusan aparatur sipil negara (ASN) dan jemaat dari berbagai gereja di Kota Bogor hadir dalam perayaan tersebut. Momentum ini menjadi simbol kuat keterbukaan dan toleransi antarumat beragama di Kota Bogor.
Natal bersama Pemkot Bogor turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), antara lain Danlanud ATS, Danrem 061/Suryakancana, Kapolresta Bogor Kota, Dandim Kota Bogor, Dandenpom III/Siliwangi, perwakilan Kejaksaan Negeri Kota Bogor, Dansat Brimob Kedung Halang, Ketua FKUB, perwakilan Kantor Kementerian Agama Kota Bogor, Ketua PGIS, para pastor, serta pendeta dari berbagai denominasi.
Di hadapan ratusan jemaat, Wali Kota Bogor Dedie Rachim menegaskan bahwa perayaan Natal di Plaza Balaikota merupakan bukti nyata komitmen Pemerintah Kota Bogor dalam menjaga toleransi.
“Sepanjang 544 tahun Kota Bogor berdiri, baru tahun ini Natal bersama bisa digelar di Plaza Balai Kota. Ini kami lakukan untuk membuktikan bahwa Bogor adalah kota toleransi, bukan hanya slogan, tetapi kerja nyata,” ujar Dedie yang disambut aplaus jemaat.
Dedie menegaskan, Kota Bogor adalah milik seluruh masyarakat tanpa membedakan suku, ras, golongan, maupun agama.
“Kota ini milik semua. Tidak boleh ada perbedaan atau sekat-sekat di antara kita,” katanya.
Ia juga mengajak warga Bogor untuk terus menumbuhkan rasa kasih sayang, persaudaraan, dan kepedulian terhadap kota yang menjadi rumah bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Dedie juga menyampaikan bahwa Pemkot Bogor terus melanjutkan pembangunan meski menghadapi pemotongan anggaran pusat sebesar Rp300 miliar.
“Kota Bogor dibangun oleh semua dan untuk semua. Walaupun ada pemotongan anggaran, pembangunan tetap berjalan. Mari kita bersama-sama melangkah untuk Bogor yang lebih baik,” ajaknya.
Ia menambahkan, Pemkot Bogor tengah melakukan langkah konkret untuk memperbaiki perekonomian masyarakat dan menargetkan Bogor sebagai kota terbaik dalam program MBG.
Selain itu, Dedie menyampaikan sejumlah program strategis yang tengah berjalan, seperti penataan lalu lintas, penertiban angkutan kota, hingga pengelolaan sampah menjadi energi listrik.
“Semua program ini sedang berjalan. Kami mohon dukungan seluruh masyarakat,” ujarnya, yang dijawab serentak “Siap” oleh jemaat.
Ketua Panitia Natal Pemkot Bogor, Samson Purba, mengapresiasi langkah Wali Kota Bogor yang memberikan ruang bagi umat Kristiani untuk merayakan Natal di Plaza Balaikota.
“Saat kami mendapat izin menggunakan Plaza Balaikota, semangat panitia langsung naik 150 derajat,” kata Samson, mantan Kepala Dinas Koperasi dan Damkar Kota Bogor.
Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia Setempat (PGIS) Kota Bogor, Pdt Deden Nimbrot Simatupang, menyampaikan pesan pengharapan di tengah berbagai krisis yang dihadapi masyarakat saat ini.
Ia menyinggung hasil survei Kompas yang menunjukkan sekitar 20 persen masyarakat Indonesia mengalami kesepian, namun menegaskan bahwa gereja tidak berjalan sendiri.
“Gereja selalu berdampingan dengan umat lain. Krisis dan persoalan akan selalu ada, tetapi kita memiliki Tuhan dan harapan,” ujarnya.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bogor, KH Hasbullah, menyebut perayaan Natal bersama ini sebagai sejarah penting bagi Kota Bogor.
Menurutnya, penggunaan fasilitas Plaza Balai Kota untuk ibadah Natal mengirim pesan kuat bahwa komitmen kebangsaan dan toleransi di Kota Bogor tidak perlu diragukan lagi.
“Teruslah perjuangkan toleransi. Pemkot Bogor dan seluruh unsur agama siap memfasilitasi. Ini patut diapresiasi,” tegasnya.
Dalam khotbah Natal yang diambil dari Kitab Matius 1:21–24, Pdt Dr. Margie Ririhena de-Wanna menyampaikan makna kelahiran Yesus Kristus sebagai sumber harapan.
Ia menilai tema Natal bersama, “Natal Bersama Hadir Membawa Harapan bagi Keluarga dan Kota”, sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Menurut pendeta lulusan doktoral teologi tersebut, keluarga tidak hanya dimaknai sebagai hubungan biologis, tetapi juga komunitas iman yang saling menguatkan.
“Siapa pun yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara, ibu, dan saudara-Ku,” ujarnya mengutip ayat Alkitab.
Perayaan Natal ditutup dengan penampilan penyanyi legendaris Victor Hutabarat. Empat lagu yang dibawakannya sukses membangkitkan sukacita ratusan jemaat dari berbagai denominasi. (opy)
