Home - Internasional - Pidato Keras Zelenskyy di Davos: Eropa Terlalu Banyak Simbol, Minim Kekuatan Nyata

Pidato Keras Zelenskyy di Davos: Eropa Terlalu Banyak Simbol, Minim Kekuatan Nyata

Pidato keras Zelenskyy di Davos menyentil Eropa yang dinilai terlalu mengandalkan simbolisme dan minim kekuatan nyata di tengah ancaman Rusia dan rezim otoriter.

Jumat, 23 Januari 2026 - 10:11 WIB
Pidato Keras Zelenskyy di Davos: Eropa Terlalu Banyak Simbol, Minim Kekuatan Nyata
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan pidato keras di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026) waktu setempat. Foto: Fox News for Hallonews

HALLONEWS.COM-Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss yang biasanya dipenuhi bahasa diplomatik dan optimisme ekonomi mendadak berubah menjadi panggung peringatan keras.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Kamis (22/1/2026) waktu setempat, secara terbuka menyentil kelemahan Eropa: terlalu sibuk dengan simbol, terlalu lamban bertindak, dan terlalu ragu menggunakan kekuatan nyata saat ancaman global justru kian mendekat.

Pidato Zelenskyy disampaikan hanya beberapa jam setelah ia bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas arah negosiasi perang Ukraina–Rusia. Pada hari yang sama, dua utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Rusia. Konteks ini membuat pesan Zelenskyy terdengar bukan sekadar retorika, melainkan alarm geopolitik.

“Eropa masih lebih terasa sebagai geografi, sejarah, dan tradisi,” ujar Zelenskyy di hadapan para pemimpin dunia seperti dikutip Fox News, Jumat (23/1/2026). “Bukan kekuatan politik yang nyata. Bukan kekuatan besar.”

Pernyataan itu menjadi pembuka kritik panjang Zelenskyy terhadap pola kepemimpinan Eropa yang, menurutnya, kerap berbicara tentang keteguhan sikap, namun enggan mengambil keputusan strategis yang berisiko secara politik.

“Banyak yang mengatakan, ‘Kita harus tetap teguh,’ tetapi mereka ingin orang lain memberi tahu berapa lama harus tetap teguh, idealnya sampai pemilihan berikutnya,” sindirnya.

Bagi Zelenskyy, sikap semacam itu menjebak Eropa dalam posisi reaktif, selalu merespons setelah krisis membesar, bukan mencegah sebelum ancaman menguat.

“Jika tindakan Eropa tidak menakut-nakuti pelaku kejahatan, Eropa akan selalu bereaksi, selalu mengejar ketinggalan,” tegasnya.

Dalam pidato yang bernada semakin tajam, Zelenskyy menyinggung kelambanan dunia Barat menghadapi Iran, terutama di tengah gelombang protes besar rakyat Iran terhadap rezim Teheran. Ia menilai Eropa terlalu sering menunggu arah Washington.

“Mengenai Iran, semua orang menunggu apa yang akan dilakukan Amerika,” katanya.
“Dan Eropa hampir tidak menawarkan apa pun.”

Menurut Zelenskyy, penundaan semacam itu bukan tanpa konsekuensi. Ia memperingatkan bahwa setiap kali Barat menolak membantu mereka yang berjuang untuk kebebasan, hasil akhirnya justru memperkuat rezim-rezim otoriter.

“Ketika Anda menolak membantu orang-orang yang berjuang untuk kebebasan, konsekuensinya selalu kembali, dan selalu negatif,” ujarnya.

Zelenskyy kemudian menunjuk Belarus sebagai contoh konkret kegagalan Eropa bertindak sejak dini. Setelah protes massal terhadap Presiden Alexander Lukashenko pada 2020, Barat memilih sikap hati-hati dan minim tekanan nyata.

“Tidak ada yang membantu rakyat mereka,” kata Zelenskyy. “Sekarang rudal Rusia dikerahkan di Belarus.”

Pengerahan tersebut, menurutnya, kini menempatkan ibu kota-ibu kota besar Eropa dalam jangkauan langsung ancaman Rusia, harga mahal dari keterlambatan politik.

Sindiran Zelenskyy semakin tajam ketika ia menyinggung apa yang ia sebut sebagai “mode Greenland,” langkah militer simbolis yang lebih bersifat pesan politik ketimbang kekuatan strategis.

“Jika Anda mengirim 30 atau 40 tentara ke Greenland, pesan apa yang dikirim ke Rusia, Tiongkok, bahkan Denmark?” tanyanya. “Empat puluh tentara tidak akan melindungi apa pun.”

Di balik kritik itu, Zelenskyy mengungkap kegelisahan yang, menurutnya, diam-diam menghantui para pemimpin Eropa: apakah NATO, dan terutama Amerika Serikat, benar-benar akan bertindak jika Rusia menyerang negara anggota seperti Polandia.

“Ada keyakinan bahwa Amerika Serikat akan bertindak,” katanya. “Tapi bagaimana jika tidak? Pertanyaan ini ada di mana-mana dalam benak para pemimpin Eropa.”

Mengandalkan keyakinan tanpa kesiapan nyata, tegas Zelenskyy, adalah ilusi berbahaya.

“Kepercayaan pada keberuntungan tidak dapat menghentikan kekuatan,” katanya.

Zelenskyy juga membuka isu sensitif terkait mesin perang Rusia. Ia menegaskan bahwa Moskow tidak mungkin memproduksi rudal balistik dan jelajah tanpa komponen asing, termasuk dari negara-negara yang secara politik mendukung Ukraina.

“Rusia mendapatkan komponen bukan hanya dari China,” ujarnya. “Tetapi juga dari perusahaan di Eropa, Amerika Serikat, dan Taiwan.”

Ia mempertanyakan inkonsistensi Barat yang berbicara tentang stabilitas global, termasuk di sekitar Taiwan, namun tetap membiarkan rantai pasokan teknologi dimanfaatkan Rusia untuk perang.

“Eropa hampir tidak mengatakan apa-apa. Amerika tidak mengatakan apa-apa,” kata Zelenskyy. “Dan Putin terus membuat rudal.”

Menurutnya, memutus rantai pasokan komponen perang Rusia akan jauh lebih efektif dan murah dibandingkan sekadar mengandalkan sistem pertahanan rudal.

“Akan lebih murah menghentikan komponen-komponen itu daripada terus mencegat rudal,” ujarnya.

Menutup pidatonya, Zelenskyy menegaskan posisi Ukraina sebagai garis pertahanan terdepan Eropa. Ia memperingatkan bahwa keamanan benua itu tidak bisa dipisahkan dari nasib negaranya.

“Kalian juga membutuhkan kemerdekaan Ukraina,” katanya, “karena besok kalian mungkin harus membela cara hidup kalian sendiri.”

“Anda tidak bisa membangun tatanan dunia baru hanya dengan kata-kata. Hanya tindakan yang dapat membangun tatanan yang nyata,” pungkasnya. (ren)