Home - Ekonomi & Bisnis - Soal Isu Deputi BI Jadi Pemicu Pelemahan Rupiah, Ini Kata Menkeu

Soal Isu Deputi BI Jadi Pemicu Pelemahan Rupiah, Ini Kata Menkeu

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa membantah isu pergantian Deputi BI sebagai penyebab pelemahan rupiah. Pemerintah menegaskan fundamental ekonomi masih kuat dan stabilitas nilai tukar tetap terjaga.

Kamis, 22 Januari 2026 - 15:34 WIB
Soal Isu Deputi BI Jadi Pemicu Pelemahan Rupiah, Ini Kata  Menkeu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Dok Yes Invest / Hallonews.com)

HALLONEWS.COM – Pemerintah membantah keras anggapan bahwa proses pergantian Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) jadi pemicu utama pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, rupiah telah melemah sebelum isu pencalonan deputi BI mencuat ke publik, meski ia mengakui terdapat faktor lain yang memengaruhi pergerakan mata uang nasional tersebut.

Purbaya menyampaikan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah telah terjadi sebelum nama Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono disebut-sebut sebagai salah satu kandidat calon Deputi Gubernur BI.

Karena itu, menurutnya, tidak tepat jika pelemahan rupiah dikaitkan dengan dinamika pencalonan pejabat di bank sentral.

“Rupiah melemah sebelum Pak Thomas ditunjuk (sebagai salah satu calon), jadi itu bukan isu. Ada faktor lain,” ujar Purbaya kepada wartawan, Kamis (22/1/2026).

Meski demikian, Purbaya memastikan otoritas terkait telah bergerak secara terintegrasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Ia meminta publik dan pelaku pasar tidak berlebihan menyikapi pergerakan rupiah ke depan.

Menurut Menkeu, pemerintah, termasuk Kementerian Keuangan, terus berupaya menjaga fundamental perekonomian nasional agar tetap kuat.

Ia menilai kondisi ekonomi domestik saat ini masih cukup memadai untuk meredam potensi risiko yang timbul dari volatilitas nilai tukar.

“Yang paling penting, sekarang bank sentral, Kementerian Keuangan, dan seluruh elemen pemerintah sepakat menjaga stabilitas nilai tukar. Kita percaya bank sentral punya strategi yang tepat,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak akan berkembang menjadi krisis ekonomi. Sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter, menurutnya, menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar dan investor.

“Nggak perlu khawatir rupiah akan memicu krisis ekonomi. Fundamental kita masih sangat baik, kebijakan sudah sinkron dengan otoritas moneter, ekonomi akan makin cepat, investor akan masuk, rupiah menguat, pasar modal juga menguat,” ujarnya.

Sementara Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan bank sentral siap menjaga stabilitas rupiah, termasuk dengan memanfaatkan cadangan devisa yang dinilai lebih dari cukup untuk melakukan intervensi di pasar.

Perry menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah belakangan ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, tekanan berasal dari dinamika geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, tingginya imbal hasil US Treasury, serta ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed yang lebih terbatas.

Adapun dari sisi domestik, kebutuhan valuta asing yang tinggi dari korporasi serta persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur BI turut memengaruhi sentimen terhadap rupiah.

Bank Indonesia, kata Perry, tidak ragu melakukan intervensi secara agresif melalui pasar offshore non-delivery forward (NDF), domestic non-delivery forward (DNDF), maupun pasar spot guna menjaga stabilitas nilai tukar. (wib)