Sempat Menolak, Netanyahu Akhirnya Gabung Dewan Perdamaian Gaza Versi Trump
Sempat menolak, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya menerima undangan Donald Trump untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza.

HALLONEWS.COM-Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya menerima undangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza, sebuah inisiatif internasional yang digagas Washington untuk menangani konflik berkepanjangan di wilayah Palestina tersebut. Keputusan ini menandai perubahan sikap Israel, setelah sebelumnya secara terbuka menyatakan keberatan terhadap pembentukan dewan tersebut.
Dalam pernyataan resminya pada Rabu (21/1/2026) waktu setempat, Netanyahu mengatakan telah menyetujui undangan Trump dan menyatakan bahwa Dewan Perdamaian Gaza akan diisi oleh para pemimpin dunia. Namun, ia tidak mengungkapkan rincian lebih lanjut mengenai struktur, mandat, maupun mekanisme kerja dewan tersebut.
Beberapa hari sebelumnya, kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa Israel menentang komposisi dan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza yang diumumkan Trump. Pemerintah Israel menilai dewan tersebut diluncurkan tanpa koordinasi dengan Israel dan dianggap bertentangan dengan kebijakan nasional terkait Gaza dan keamanan Israel.
Pada tahap awal, mandat dewan ini dipahami terbatas pada pengawasan rekonstruksi Gaza pascaperang. Namun dalam perkembangannya, fungsi dewan tersebut disebut-sebut meluas melampaui wilayah Gaza, memicu kekhawatiran di kalangan otoritas Israel akan potensi intervensi internasional yang lebih luas.
Meski demikian, Netanyahu kini memilih bergabung, sebuah langkah yang dinilai banyak pengamat sebagai upaya untuk tetap berada di dalam lingkar pengambilan keputusan, ketimbang berisiko ditinggalkan dalam proses diplomatik yang digerakkan Washington.
Inisiatif Trump dan Respons Global
Dewan Perdamaian Gaza merupakan bagian dari rencana Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang Gaza dan membangun kerangka stabilitas baru di kawasan. Trump menyebut dewan ini sebagai forum para pemimpin dunia yang bertujuan mendorong perdamaian, rekonstruksi, dan pengelolaan pascakonflik.
Netanyahu menjadi salah satu dari sejumlah pemimpin dunia yang menerima undangan tersebut. Namun, sejauh ini hanya segelintir negara yang menyatakan kesediaan bergabung tanpa reservasi. Beberapa negara Eropa masih bersikap hati-hati, bahkan Italia dilaporkan memutuskan tidak ikut serta dalam inisiatif tersebut.
Sikap beragam ini mencerminkan masih adanya pertanyaan besar mengenai arah, legitimasi, dan implikasi politik Dewan Perdamaian Gaza.
Makna Politik bagi Israel
Keputusan Netanyahu bergabung dipandang sebagai langkah strategis untuk mengamankan kepentingan Israel di tengah tekanan internasional terkait konflik Gaza. Dengan berada di dalam dewan, Israel berpeluang mempengaruhi arah kebijakan internasional terkait rekonstruksi dan tata kelola Gaza pascaperang.
Di sisi lain, perubahan sikap ini juga menegaskan kuatnya pengaruh Amerika Serikat dalam membentuk dinamika diplomasi Timur Tengah, terutama di bawah kepemimpinan Trump.
Namun, ketiadaan rincian resmi mengenai mandat dewan membuat masa depan inisiatif ini masih diselimuti ketidakpastian. Apakah Dewan Perdamaian Gaza akan menjadi forum multilateral yang efektif, atau justru instrumen politik baru Washington, masih menjadi pertanyaan terbuka. (ren)
