Home - Nasional - RS Bhayangkara Makassar Kembali Terima Jenazah Korban Pesawat Jatuh di Gunung Bulusaraung

RS Bhayangkara Makassar Kembali Terima Jenazah Korban Pesawat Jatuh di Gunung Bulusaraung

Kepala Basarnas memperkirakan tidak ada korban selamat pada kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Sulawesi Selatan (Sulsel)

Rabu, 21 Januari 2026 - 7:08 WIB
RS Bhayangkara Makassar Kembali Terima Jenazah Korban Pesawat Jatuh di Gunung Bulusaraung
Dok Polda Sulsel Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto dan Kabid Dokkes memberikan keterangan pers di RS Bhayangkara Makassar

HALLONEWS.COM — Rumah Sakit Bhayangkara Makassar kembali menerima jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500. Jenazah kedua yang tiba di RS Bhayangkara Makassar ini adalah seorang pria yang belum dipastikan identitasnya.

Ambulans berisi jenazah kedua tersebut tiba di Makassar pada Selasa (20/1/2026) malam. Jenazah kemudian ditangani tim DVI Bidokkes Polda Sulsel. “Tim DVI Polda Sulawesi Selatan telah menerima satu kantong jenazah dari Basarnas,” kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto dalam keterangan resmi.

Didik menegaskan bahwa pihaknya belum dapat mengumumkan identitas korban karena masih dalam proses identifikasi.

Sebelumnya, Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI M Syafi’i menyatakan tidak ada korban selamat pada kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Sulawesi Selatan (Sulsel) pekan lalu.

Hingga Selasa (20/1/2026), tim SAR masih melakukan operasi pencarian dan evakuasi korban pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Tim berhasil menemukan dan mengevakuasi beberapa korban dari lokasi kejadian. Jenazah yang ditemukan langsung dibawa ke Makassar untuk proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Sementara itu, sejumlah korban lainnya masih dalam pencarian.

Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syafi’i menyatakan tim juga menilai tidak ada korban selamat. Namun tim juga berhadap ada mukjizat. “Kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup,” ujar Syafi’i di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Syafi’i menceritakan, pernah ada kasus kecelakaan pesawat serupa insiden ATR 42-500 dan ternyata ada penumpang yang masih hidup. Penumpang itu selamat meski sempat tak sadarkan diri atau sering disebut sebagai mati suri. “Pernah ada kejadian ada pesawat crash, kemudian kondisinya sama, terburai pesawatnya, tapi ternyata ada penumpang yang terlempar, kemudian mati suri, beberapa hari ditemukan dalam kondisi hidup,” ujarnya.

“Jadi kita akan berupaya untuk melaksanakan pencarian korban, sambil kita mengumpulkan puing-puing untuk nanti diserahkan kepada KNKT,” imbuh Syafi’i.

Hingga Selasa, tim SAR baru berhasil menemukan dua korban tewas kecelakaan pesawat di Sulsel itu. Medan terjal dan licin disebut menjadi penghambat tim penyelamat dalam melakukan evakuasi.

Pihak Basarnas menyatakan, proses evakuasi berlangsung lambat karena medan lokasi kecelakaan sangat ekstrem. Tebing curam, vegetasi lebat, serta cuaca yang kerap berubah disertai hujan dan kabut tebal menjadi tantangan utama bagi personel di lapangan.

“Tim harus membuka jalur manual dan menggunakan peralatan khusus untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas,” ujar pejabat Basarnas di lokasi operasi.

Selain jenazah korban, tim SAR juga menemukan serpihan pesawat dan sejumlah barang pribadi yang diduga milik penumpang dan awak pesawat. Temuan tersebut digunakan sebagai petunjuk untuk mempersempit area pencarian.

Operasi SAR melibatkan ratusan personel dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta relawan dan warga setempat yang membantu sebagai penunjuk jalur. Pencarian dibagi ke dalam beberapa sektor untuk meningkatkan efektivitas penyisiran.

Pesawat ATR 42-500 yang dicarter Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini mengalami kecelakaan dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Tercatat ada tiga pegawai KKP yang berada di dalam pesawat untuk memetakan potensi laut Indonesia tersebut. (gaa)