Home - Opini - Ketika Cinta Dijadikan Senjata Kejahatan

Ketika Cinta Dijadikan Senjata Kejahatan

Love scamming bukan sekadar penipuan asmara, melainkan kejahatan siber terorganisir yang memanipulasi emosi korban dan berkembang menjadi industri lintas negara.

Selasa, 20 Januari 2026 - 16:06 WIB
Ketika Cinta Dijadikan Senjata Kejahatan
Ilustrasi Love scamming (Freepik)

HALLONEWS.COM – Love scamming bukan sekadar penipuan asmara. Ia adalah bentuk kejahatan siber yang memanipulasi emosi manusia secara sistematis, terencana, dan sering kali terhubung dengan jaringan kriminal lintas negara.

Di balik kata-kata manis, janji pertemuan, dan cerita hidup yang menyentuh, tersembunyi operasi penipuan yang menargetkan rasa sepi, harapan, dan kepercayaan.

Berbeda dengan penipuan konvensional yang berbasis ancaman atau iming-iming keuntungan cepat, love scamming bekerja perlahan. Ia membangun hubungan.

Pelaku hadir setiap hari, menyapa pagi dan malam, mendengarkan keluh kesah, bahkan memberi dukungan emosional. Korban tidak merasa sedang ditipu melainkan sebaliknya mereka merasa sedang dicintai.

Modus love scamming umumnya dimulai dari media sosial atau aplikasi kencan. Pelaku menggunakan identitas palsu: foto menarik, profesi meyakinkan (tentara, dokter, pengusaha, duda mapan), dan latar belakang hidup yang tampak bersih. Percakapan dijaga intens, personal, dan penuh empati.

Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai membangun ketergantungan emosional. Pada fase ini, korban sering diyakinkan bahwa hubungan tersebut serius dengan membicarakan rencana menikah, pindah negara, atau hidup bersama. Di titik inilah skema pemerasan mulai dijalankan.

Bentuknya beragam. Alasan darurat pribadi. Pelaku mengaku sakit, butuh biaya rumah sakit, atau mengalami masalah hukum.

Ada juga hadiah fiktif. Korban diberi tahu ada paket atau uang yang dikirim, tetapi tertahan bea cukai dan perlu biaya pelepasan.

Modus lainnya, investasi bersama. Korban diajak menanam modal dalam kripto, saham, atau bisnis online yang ternyata palsu.

Pelaku juga mulai memeloroti keuangan korban dengan berdalih perlu biaya pertemuan untuk membeli tiket pesawat, visa, atau dokumen yang katanya sudah diurus, tetapi memerlukan tambahan dana.

Yang membuat love scamming efektif adalah emosi korban yang sudah terikat. Uang dikirim bukan karena bodoh, tetapi karena percaya dan berharap.

Pemerasan Terbuka

Dalam banyak kasus, love scamming tidak berhenti pada satu kali transfer. Setelah korban mengirim uang, pelaku akan terus menciptakan krisis baru, menekan dengan rasa bersalah (kalau kamu sayang, kamu pasti bantu), atau bahkan beralih ke ancaman dan pemerasan langsung.

Ada korban yang diperas dengan ancaman penyebaran foto pribadi, rekaman video, atau riwayat percakapan. Ada pula yang dipaksa terus mengirim uang karena pelaku mengaku terancam nyawanya. Pada tahap ini, cinta sepenuhnya berubah menjadi alat kontrol.

Bayangkan seorang perempuan paruh baya di Indonesia yang berkenalan dengan pria asing lewat media sosial. Pria itu mengaku duda, bekerja di sektor energi, dan sering bertugas ke luar negeri. Selama berbulan-bulan mereka berkomunikasi intens. Pelaku mengenal rutinitas korban, keluarganya, bahkan kelemahannya.

Ketika hubungan terasa semakin nyata, pelaku mengabarkan akan mengirim hadiah mahal sebelum datang melamar. Tak lama, korban dihubungi pihak yang mengaku jasa pengiriman dan diminta membayar biaya administrasi. Setelah dibayar, muncul biaya baru: pajak, denda, asuransi. Total kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Pria itu tak pernah datang. Akunnya menghilang.

Kasus seperti ini bukan cerita tunggal, ia berulang dengan wajah dan nama berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir, love scamming di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Trauma dan Malu

Korbannya lintas usia dan latar belakang, dari pekerja migran, ibu rumah tangga, hingga profesional. Kerugian tidak hanya finansial, tetapi juga psikologis: trauma, rasa malu, dan hilangnya kepercayaan diri.

Yang lebih serius, Indonesia tidak hanya menjadi negara korban, tetapi juga lokasi operasi. Aparat beberapa kali mengungkap jaringan WNA yang menjalankan love scamming dari perumahan tertutup, menggunakan puluhan ponsel dan komputer, dengan pembagian peran yang rapi. Ini menandakan bahwa love scamming telah berkembang menjadi industri kejahatan.

Di sisi lain, ada dimensi kemanusiaan yang sering luput, sebagian operator lapangan adalah korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja menipu. Mereka direkrut dengan janji kerja legal, lalu paspornya ditahan dan dipaksa menjalankan penipuan.

Love scamming adalah kejahatan yang memanfaatkan sisi paling rapuh manusia: kebutuhan akan cinta dan perhatian. Ia tidak bisa ditangani hanya dengan imbauan ‘jangan mudah percaya’.

Mereka membutuhkan literasi digital yang empatik, penegakan hukum lintas negara, pengawasan platform digital, dan sistem pelaporan yang melindungi korban dari stigma.

Cinta seharusnya membebaskan, bukan memeras. Dan ketika cinta dijadikan senjata kejahatan, negara dan masyarakat tidak boleh kalah oleh keheningan dan rasa malu korban. (Mathias Brahmana/Dewan Redaksi Hallonews)

Berita Lainnya :

Opini

Update