Dokter Inggris Peringatkan Bahaya Penggunaan Ponsel dan Media Sosial bagi Anak
Dokter dan akademi kedokteran Inggris memperingatkan bahaya penggunaan ponsel dan media sosial bagi anak, seiring rencana pemerintah membatasi akses digital usia di bawah 16 tahun.

HALLONEWS.COM-Kalangan dokter dan ahli medis di Inggris memperingatkan meningkatnya risiko kesehatan fisik dan mental pada anak-anak dan remaja akibat penggunaan ponsel dan paparan media sosial yang berlebihan. Peringatan ini disampaikan oleh Academy of Medical Royal Colleges (AoMRC), lembaga yang mewakili 23 perguruan tinggi dan fakultas kedokteran kerajaan di Inggris.
AoMRC menyatakan bahwa para klinisi di garis depan layanan kesehatan telah memberikan kesaksian langsung tentang kasus-kasus yang mereka temui di berbagai lini pelayanan, mulai dari layanan kesehatan primer, sekunder, hingga komunitas di seluruh sistem National Health Service (NHS).
“Para dokter melihat sendiri kasus-kasus yang mengkhawatirkan, yang diduga berkaitan dengan penggunaan ponsel, waktu menatap layar yang berlebihan, serta paparan konten daring berbahaya pada anak dan remaja,” demikian pernyataan akademi tersebut.
Sebagai tindak lanjut, AoMRC berencana mengumpulkan bukti medis secara sistematis untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang berulang dan berpotensi berkaitan langsung dengan teknologi digital, khususnya ponsel dan media sosial.
Tujuan utama inisiatif ini adalah menyoroti risiko tersembunyi dari penggunaan ponsel tanpa batasan waktu, mengkaji dampak paparan konten daring berbahaya, serta memberikan panduan praktis bagi tenaga medis dalam mengenali dan menangani dampak negatifnya pada anak dan remaja.
Akademi menegaskan bahwa mereka telah memiliki indikasi kuat dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental, baik akibat durasi penggunaan ponsel yang berlebihan maupun konsumsi konten digital yang tidak sesuai usia. Proses pengumpulan dan analisis bukti ini ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan.
Kekhawatiran tersebut telah disampaikan secara resmi melalui surat kepada Menteri Kesehatan Inggris Wes Streeting dan Menteri Sains dan Teknologi Liz Kendall. Salinan surat juga dikirimkan kepada Kepala Eksekutif Institut Nasional untuk Penelitian Kesehatan Lucy Chappell serta Penasihat Medis Utama Pemerintah Inggris Sir Chris Whitty.
Ketua AoMRC, Dr Jeanette Dickson, bahkan menyebut situasi ini sebagai sinyal awal darurat kesehatan masyarakat.
“Tanpa ragu, kita sedang menyaksikan awal dari keadaan darurat kesehatan masyarakat. Ke mana pun kita melihat, anak-anak dan orang dewasa terpaku pada ponsel mereka,” ujar Dickson kepada The Sunday Times.
Ia mengaku sangat khawatir terhadap anak-anak yang menurutnya mulai terjebak dalam “gelembung digital,” dengan interaksi sosial dan perkembangan emosional yang semakin terbatas.
Peringatan dari kalangan medis ini diperkuat oleh penelitian pemerintah Inggris yang baru-baru ini mengaitkan waktu penggunaan ponsel dan perangkat digital dengan perkembangan bicara yang buruk pada anak di bawah usia lima tahun.
Temuan tersebut menambah kekhawatiran bahwa penggunaan ponsel sejak usia dini, tanpa pengawasan dan batasan yang memadai, dapat berdampak pada perkembangan kognitif dan komunikasi anak.
Pemerintah Siapkan Pembatasan Media Sosial
Di tengah meningkatnya kekhawatiran ini, pemerintah Inggris tengah bersiap mengumumkan rencana pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Konsultasi publik terkait kebijakan tersebut diperkirakan akan diluncurkan dalam waktu dekat.
Sejumlah opsi kebijakan tengah dipertimbangkan, antara lain pembatasan waktu penggunaan media sosial, penguatan kontrol algoritma dan desain platform, hingga kemungkinan larangan kepemilikan akun bagi anak di bawah usia tertentu.
Pro dan Kontra Larangan Total
Pada Desember lalu, Australia memberlakukan larangan bagi anak di bawah usia 16 tahun untuk memiliki akun media sosial. Kebijakan serupa kini juga dipertimbangkan di sejumlah negara lain, seperti Prancis, Denmark, Norwegia, dan Malaysia.
Namun, pendekatan larangan menyeluruh menuai kritik dari organisasi perlindungan anak dan keamanan daring. Sebanyak 43 organisasi, termasuk NSPCC dan Yayasan Molly Rose, memperingatkan bahwa larangan total justru berisiko menimbulkan dampak tidak diinginkan.
Mereka menilai, larangan menyeluruh tidak serta-merta meningkatkan keselamatan anak, dan berpotensi mendorong remaja ke ruang digital yang lebih gelap dan sulit diawasi.
Kepala Eksekutif Yayasan Molly Rose, Andy Burrows, menilai perdebatan publik terlalu disederhanakan.
“Kita dihadapkan pada pilihan biner yang keliru: larangan total atau membiarkan kondisi berbahaya terus berlanjut. Padahal, masih ada pilihan kebijakan lain yang lebih efektif,” ujarnya.
Sementara itu, Chris Sherwood, Kepala Eksekutif NSPCC, menegaskan bahwa bagi sebagian anak, internet justru menjadi ruang aman untuk mendapatkan komunitas, identitas, dan dukungan.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab utama harus dibebankan kepada perusahaan teknologi, khususnya terkait desain produk, algoritma, dan kegagalan dalam mengendalikan konten berbahaya. (ren)
