Titiek Soeharto Soroti Kerusakan Lahan Pertanian karena Banjir Bandang di Sumatera
Komisi IV DPR menyoroti kerusakan lahan pertanian karena banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera terhadap sektor pertanian

HALLONEWS.COM – Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, menyoroti dampak serius banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera terhadap sektor pertanian dan perikanan. Bencana tersebut dilaporkan merusak ribuan hektare lahan produktif, sehingga menyebabkan penurunan signifikan produksi pangan nasional.
Titiek Soeharto menyebut, genangan air yang berlangsung lama telah merendam sawah, kebun, serta kolam budidaya, sehingga mengganggu aktivitas produksi para petani dan nelayan darat. “Akibatnya, produksi pangan terganggu dan mengalami penurunan secara signifikan,” ujar Titiek di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Titiek menegaskan, Komisi IV DPR RI akan memastikan pemerintah memiliki rencana pemulihan yang jelas, terukur, dan berkelanjutan, mulai dari penanganan darurat hingga pemulihan jangka panjang. Menurutnya, sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan harus menjadi prioritas utama dalam agenda rehabilitasi pascabencana.
Ia menekankan pentingnya strategi rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memulihkan produktivitas usaha pertanian dan perikanan, memperbaiki infrastruktur yang rusak, serta menjaga keberlanjutan sumber daya hutan.
“Bukan hanya ladang dan kolam budidaya yang terdampak, kawasan hutan dan daerah aliran sungai juga mengalami kerusakan akibat tekanan ekologis pascabanjir,” ungkap politisi Fraksi Partai Gerindra tersebut.
Lebih jauh, Titiek mengingatkan bahwa dampak banjir bandang ini tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga berpotensi mengancam ketahanan pangan nasional, keberlanjutan mata pencaharian pelaku usaha pertanian dan perikanan, serta keseimbangan ekosistem lingkungan hidup.
Karena itu, ia menilai koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta dukungan anggaran, kebijakan teknis, dan pendampingan di lapangan menjadi kunci agar program pemulihan berjalan efektif dan tepat sasaran.
“Koordinasi yang kuat diperlukan, termasuk langkah mitigasi dan adaptasi ke depan, guna menekan risiko terulangnya bencana serupa,” katanya. (gaa)
