Sang Kakak Ungkap Pesan Terakhir Ferry Sebelum Terbang, Keluarga Pegawai KKP di Bekasi Menanti Kabar
Keluarga Ferry Irawan, pegawai KKP adi Bekasi, menanti kabar setelah pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar dilaporkan hilang kontak di wilayah Maros, Sulsel.

HALLONEWS.COM – Sabtu malam itu berubah menjadi waktu penuh kecemasan bagi keluarga Ferry Irawan. Di rumah mereka di Jalan Haji Kunen, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, doa dan harapan terus dipanjatkan sejak kabar hilangnya kontak pesawat.
Ferry Irawan, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dilaporkan hilang kontak saat menumpangi pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar, Sulsel pada Sabtu (17/1/2026) siang.
Beberapa jam sebelum pesawat dinyatakan hilang kontak, Ferry masih sempat berkomunikasi dengan kakak kandungnya, Winda. Saat itu, Winda tengah dalam perjalanan pulang usai berlibur bersama anak dan istri Ferry di kawasan Puncak, Bogor.
“Aku kirim foto anak-anak ke Ferry sekitar setengah sembilan malam,” ujar Winda kepada wartawan saat ditemui, Sabtu (18/1/2026).
Komunikasi singkat berlangsung normal. Ferry masih merespons pesan seperti biasa. Namun sekitar pukul 22.30 WIB, ketika Winda kembali mengirimkan foto dan video anak-anak Ferry yang tengah bermain air, pesan tersebut tak kunjung terkirim dan hanya bertanda satu centang.
“Saya pikir HP-nya sudah dimatikan karena mungkin sudah berada di pesawat,” kata Winda.
Kecurigaan itu berubah menjadi kepanikan ketika kabar buruk datang di tengah perjalanan pulang. Winda menerima informasi dari kerabat bahwa pesawat ATR 42-500 yang ditumpangi adiknya dilaporkan hilang kontak.
“Kami dapat info di mobil, tapi belum berani menyampaikan ke keluarga karena belum ada kepastian,” tuturnya.
Sementara istri Ferry, Meyla Eskaria Putri, masih mengingat jelas percakapan terakhir bersama sang suami. Sebelum berangkat, Ferry sempat melakukan panggilan video dengan keluarganya.
“Cuma sempat video call. Dia cuma pesan ke anak-anak, ‘makan yang banyak’,” ujar Meyla dengan suara bergetar.
Ferry meninggalkan dua anak laki-laki yang kini menanti kepulangan sang ayah, masing-masing berusia 13 dan 11 tahun. Pesan sederhana tersebut menjadi kenangan terakhir yang terus terngiang di benak keluarga.
Selain Ferry, dua pegawai KKP lainnya juga berada dalam pesawat tersebut, yakni Deden Mulyana selaku pengelola barang milik negara serta Yoga Naufal yang bertugas sebagai operator udara.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan, ketiga pegawai tersebut tengah menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui patroli udara.
“Mereka melaksanakan fungsi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia,” ujar Trenggono dalam konferensi pers di Kantor KKP, Sabtu (17/1) malam.
Berdasarkan laporan terakhir yang diterima KKP dari Basarnas Makassar pada Sabtu (17/1/2026) pukul 19.20 WIB, pesawat beserta awak dan penumpang masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan. (dul)
