Protes di Iran Mereda, Jalanan Teheran Kembali Normal
Protes di Iran mereda setelah berminggu-minggu represi berdarah. Jalanan Teheran kembali normal, meski ribuan korban jiwa masih diperdebatkan.

HALLONEWS.COM – Gelombang protes yang mengguncang Iran selama berminggu-minggu terakhir dilaporkan mulai mereda. Hingga beberapa hari terakhir, tidak terlihat tanda-tanda demonstrasi baru di Teheran maupun kota-kota besar lainnya, seiring kembalinya aktivitas masyarakat ke kondisi relatif normal.
Laporan dari ibu kota Iran menyebutkan pusat perbelanjaan kembali dibuka dan kehidupan jalanan berjalan seperti biasa. Seorang warga di wilayah utara Laut Kaspia juga mengatakan bahwa situasi di daerahnya tampak tenang. Hingga kini, pihak berwenang Iran belum melaporkan adanya kerusuhan baru di wilayah lain.
Meski situasi tampak mereda, pemadaman internet nasional yang telah berlangsung lebih dari sepekan masih berlanjut, membatasi arus informasi dari dalam negeri Iran. Lembaga pemantau internet NetBlocks mencatat konektivitas hanya berada di kisaran 2 persen dari tingkat normal, tanpa indikasi pemulihan signifikan.
Ribuan Korban Jiwa Versi Berbeda
Kelompok Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan telah memverifikasi 3.090 kematian, termasuk 2.885 demonstran, akibat penindakan aparat keamanan selama gelombang protes. Namun, televisi pemerintah Iran menyebut jumlah korban tewas sekitar 300 orang, mencerminkan perbedaan data yang signifikan.
Pemadaman internet dan pembatasan komunikasi, termasuk saluran telepon, membuat verifikasi independen di lapangan menjadi sangat sulit, terutama terkait jumlah korban jiwa dan skala kekerasan.
Aksi demonstrasi di Iran bermula pada 28 Desember, dipicu oleh kesulitan ekonomi dan anjloknya nilai mata uang nasional ke titik terendah terhadap dolar AS. Pemogokan pedagang pasar di Teheran dengan cepat berkembang menjadi gelombang protes nasional yang menargetkan kepemimpinan ulama.
Rekaman pada 30 Desember memperlihatkan mahasiswa, pedagang, dan pemilik toko berbaris bersama di Teheran, meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah, termasuk seruan simbolik terhadap Reza Shah, pendiri dinasti kerajaan yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuding aksi protes tersebut sebagai hasil “hasutan Amerika Serikat” dan pihak asing lainnya. Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah dan unggahan di akun X berbahasa Persia miliknya, Khamenei menyebut para demonstran sebagai “perusak dan perusuh” yang bertindak untuk kepentingan asing.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan membawa negaranya ke dalam perang, namun juga tidak akan membiarkan apa yang disebutnya sebagai “penghasut Amerika” beroperasi di dalam maupun luar negeri. Khamenei juga menyalahkan AS dan Israel atas kerusakan besar serta kematian ribuan orang selama kerusuhan.
Di tengah meningkatnya laporan kekerasan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengancam akan campur tangan jika Iran terus “membunuh demonstran damai secara brutal.” Pada 13 Januari, Trump juga mengumumkan rencana penerapan tarif 25 persen terhadap negara mana pun yang berbisnis dengan Iran.
Namun, sikap Trump belakangan tampak melunak. Ia menyampaikan terima kasih kepada kepemimpinan Iran karena disebut telah membatalkan lebih dari 800 eksekusi gantung terhadap demonstran yang ditahan. Trump mengaku sangat menghargai keputusan tersebut, meski tidak menjelaskan dengan siapa ia berkomunikasi di Iran untuk mengonfirmasi pembatalan tersebut.
“Saya tidak diyakinkan oleh siapa pun. Saya meyakinkan diri saya sendiri,” kata Trump kepada wartawan di Washington, seraya menyebut pembatalan eksekusi itu sebagai faktor penting dalam keputusannya untuk tidak melakukan serangan militer.
Pihak berwenang Iran mulai merilis data kerusakan akibat protes. Ayatollah Ahmad Khatami menyebut sedikitnya 350 masjid, 126 ruang salat, serta puluhan tempat suci dan rumah pemimpin salat Jumat mengalami kerusakan. Selain itu, ratusan fasilitas umum, termasuk rumah sakit, ambulans, dan kendaraan darurat, dilaporkan terdampak.
Selama kerusuhan, sejumlah demonstran juga membakar foto Ayatollah Khamenei, sebuah tindakan simbolik yang mencerminkan kemarahan publik terhadap rezim yang telah berkuasa selama puluhan tahun.
Dengan meredanya protes di jalanan, pertanyaan kini mengemuka: apakah ketenangan ini menandai stabilitas baru, atau sekadar jeda di tengah krisis politik dan kemanusiaan yang belum terselesaikan. (ren)
