Air Mata di Vatikan: Paus Leo XIV Hibur Keluarga Korban Kebakaran Crans-Montana
Paus Leo XIV menerima keluarga korban kebakaran Crans-Montana, Swiss, yang menewaskan 40 orang dan melukai 116 lainnya. Di Vatikan, Paus menyampaikan penghiburan iman dan harapan di tengah duka.

HALLONEWS.COM-Di Vatikan, duka tidak datang sebagai berita, ia hadir sebagai orang-orang yang berjalan pelan, menggenggam foto, dan membawa nama-nama yang kini tinggal kenangan. Mereka adalah keluarga korban kebakaran Crans-Montana, Swiss, yang pada 1 Januari 2026 merenggut 40 nyawa.
Luka tragedi itu juga meninggalkan 116 orang terluka, banyak di antaranya mengalami luka bakar serius, angka yang menjadi pembaruan resmi terakhir dari otoritas setempat dan laporan media internasional.
Pada Kamis (15/1/2026) waktu setempat itu, Paus Leo XIV menerima mereka dalam audiensi khusus. Bukan untuk memberi jawaban atas “mengapa”, melainkan untuk menemani “bagaimana kita bertahan setelahnya”. Dengan suara yang tenang dan pilihan kata yang nyaris seperti pelukan, Paus menyampaikan kalimat yang bagi sebagian orang terdengar sederhana, tetapi bagi yang sedang berkabung bisa menjadi pegangan pertama agar tidak runtuh sepenuhnya: “Kristus tidak jauh dari luka kalian.”
“Yakinlah akan kedekatan Kristus dan kelembutan-Nya: Dia tidak jauh dari apa yang Anda alami; sebaliknya, Dia turut merasakannya dan memikulnya bersama Anda,” ujar Paus seperti dikutip dari Vaticannews, Jumat (16/1/2026).
Kebakaran itu terjadi saat perayaan Tahun Baru di sebuah bar di kawasan resor ski Crans-Montana, Swiss. Dalam hitungan menit, pesta berganti kepanikan. Mereka yang selamat membawa luka pada tubuh; mereka yang ditinggalkan membawa luka pada hidup. Beberapa keluarga yang hadir di Vatikan adalah orang tua yang kehilangan anak remaja, saudara yang kehilangan kakak, pasangan yang kehilangan separuh dunianya, kisah-kisah yang sama-sama punya satu titik: ketika ucapan selamat tahun baru berubah menjadi telepon darurat yang tak pernah ingin mereka angkat.
Paus Leo XIV mengakui keterbatasan bahasa manusia di hadapan bencana seperti itu. Ia menyampaikan bahwa momen ketika orang yang paling dicintai meninggal dalam tragedi yang “keras dan ekstrem”, atau ketika orang terkasih harus menjalani perawatan panjang dengan tubuh yang terluka parah, benar-benar menguji iman, dan juga menguji kemampuan manusia untuk tetap percaya bahwa hidup masih punya arah.
Di titik itulah Paus tidak menjejalkan kalimat-kalimat penghiburan instan. Ia justru mengangkat pertanyaan yang biasanya hanya berani diucapkan pelan dalam kamar gelap: Apa yang bisa dikatakan? Makna apa yang bisa diberikan? Karena pada hari-hari setelah bencana, yang sering dibutuhkan bukan penjelasan, melainkan keberanian untuk bangun dari tempat tidur.
Salib, Keheningan, Lalu Harapan
Paus kemudian mengajak keluarga korban menatap satu kisah yang paling dekat dengan pengalaman “ditinggalkan” dan “tak mengerti”: kisah Kristus di kayu salib. Ia mengingatkan seruan Yesus, “Ya Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” sebagai cermin bahwa iman pun pernah melewati ruang paling gelap.
Ia juga menekankan bahwa jawaban atas seruan itu tidak datang seketika. Ada tiga hari keheningan, sebelum kebangkitan. Namun justru di sanalah, kata Paus, harapan memperoleh bentuknya: bukan sebagai janji manis, melainkan sebagai keyakinan bahwa penderitaan tidak memegang kata terakhir.
“Saya tidak bisa menjelaskan mengapa Anda dan orang-orang terkasih Anda diminta menghadapi cobaan seperti itu,” kata Paus, sebuah kalimat jujur yang jarang terdengar di tengah banjir opini. Tetapi ia menegaskan satu hal: harapan tidak sia-sia, karena Kristus sungguh telah bangkit.
Dalam audiensi itu, Paus Leo XIV juga memastikan bahwa keluarga korban tidak menanggung beban sendirian. Ia menyampaikan doa Gereja dan doa pribadinya, bagi mereka yang wafat, bagi mereka yang masih berjuang memulihkan tubuhnya, dan bagi keluarga yang mendampingi dengan kelembutan yang sering tak terlihat kamera.
Menjelang akhir, Paus mengajak mereka mendekat kepada figur yang sangat manusiawi dalam duka: Maria, Bunda yang Berdukacita, ibu yang berdiri di kaki salib, dan memahami kehilangan tanpa perlu banyak kata. Lalu mereka berdoa bersama: Doa Bapa Kami dan Salam Maria. Di ruang itu, air mata menjadi bahasa bersama, yang tak perlu diterjemahkan ke berita.
Audiensi ini melanjutkan rangkaian sikap Paus yang sejak awal menunjukkan kedekatan: melalui telegram belasungkawa sehari setelah tragedi, serta penegasan doa dan solidaritas dalam Angelus pada awal Januari. (ren)
