Home - Nasional - Alarm Bahaya MBG! KPAI Catat 12.658 Anak Diduga Keracunan, Bau Busuk hingga Rasa Tak Layak Jadi Keluhan

Alarm Bahaya MBG! KPAI Catat 12.658 Anak Diduga Keracunan, Bau Busuk hingga Rasa Tak Layak Jadi Keluhan

Program Makan Bergizi Gratis disorot tajam. KPAI mencatat 12.658 anak diduga keracunan sepanjang 2025, dengan keluhan makanan berbau hingga tak layak konsumsi.

Jumat, 16 Januari 2026 - 7:35 WIB
Alarm Bahaya MBG! KPAI Catat 12.658 Anak Diduga Keracunan, Bau Busuk hingga Rasa Tak Layak Jadi Keluhan
Makan gizi gratis. Hallonews.Com

HALLONEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi gizi anak nasional menjadi sorotan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap fakta mencemaskan, dimana 12.658 anak diduga mengalami keracunan makanan sepanjang Januari hingga Desember 2025.

Data tersebut dihimpun KPAI melalui pemantauan pemberitaan media di 38 provinsi dan dipaparkan dalam Laporan Akhir Tahun (LAT) KPAI di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Angka ini memunculkan tanda tanya besar terhadap kualitas pengelolaan dan pengawasan program unggulan pemerintah tersebut.

“Sepanjang 2025 kami mencatat lebih dari dua belas ribu anak menjadi korban dugaan keracunan yang berkaitan dengan MBG,” tegas Wakil Ketua KPAI Jasra Putra.

KPAI mencatat Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah anak terdampak paling tinggi, mencapai 4.877 anak. Disusul Jawa Tengah dengan 1.961 anak, dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 1.517 anak.

Sebaran kasus ini dinilai mencerminkan lemahnya pengendalian mutu makanan, terutama di wilayah dengan jumlah penerima MBG yang besar.

Tak hanya mengandalkan pemantauan media, KPAI juga melakukan survei langsung terhadap 1.600 siswa SD, SMP, dan SMA. Hasilnya memperkuat kekhawatiran publik.

“Hampir 90 persen anak mengeluhkan rasa makanan. Lebih serius lagi, sekitar 36 persen siswa mempertanyakan kelayakan makanan, mulai dari bau menyengat, kondisi mencurigakan, hingga dugaan makanan sudah busuk,” ungkap Jasra.

Temuan ini menegaskan bahwa persoalan MBG bukan sekadar selera, tetapi menyangkut keamanan pangan anak.

Melihat besarnya dampak terhadap anak, KPAI mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk tidak menutup mata. Rekomendasi keras pun disampaikan, mulai dari penguatan tata kelola, evaluasi menyeluruh rantai distribusi, hingga pelibatan aktif anak sekolah dalam perencanaan dan evaluasi menu.

“Anak tidak boleh hanya dijadikan penerima pasif. Mereka harus dilibatkan secara bermakna agar program ini benar-benar aman dan layak,” tegas Jasra.

Sorotan terhadap MBG semakin tajam setelah Kepala BGN Dadan Hindayana mengungkap bahwa menu MBG menyumbang sekitar 48 persen dari total kejadian keracunan pangan nasional.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR pada November 2025, Dadan menyebut dari 441 kejadian keracunan pangan, 211 kasus berkaitan dengan MBG. Meski demikian, rentang waktu data tersebut tidak dijelaskan secara rinci.

Fakta ini memperkuat urgensi evaluasi menyeluruh agar program yang bertujuan meningkatkan gizi anak tidak justru berubah menjadi ancaman kesehatan. (min)