Home - Internasional - Korban Tewas Protes Iran Tembus 2.571 Orang, Data HAM Jadi Sorotan Dunia

Korban Tewas Protes Iran Tembus 2.571 Orang, Data HAM Jadi Sorotan Dunia

Korban tewas protes Iran mencapai 2.571 orang menurut HRANA. Data HAM ini menyoroti krisis kemanusiaan di tengah tindakan keras aparat dan pembatasan informasi.

Rabu, 14 Januari 2026 - 12:41 WIB
Korban Tewas Protes Iran Tembus 2.571 Orang, Data HAM Jadi Sorotan Dunia
Kendaraan dan fasilitas umum terbakar di tengah bentrokan saat gelombang protes meluas di Iran. Data organisasi hak asasi manusia mencatat sedikitnya 2.571 orang tewas dalam rangkaian demonstrasi dan tindakan keras aparat, memicu sorotan serta tekanan internasional terhadap pemerintah Iran. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM— Jumlah korban tewas dalam gelombang protes di Iran terus bertambah dan kini mencapai 2.571 orang, berdasarkan data terbaru organisasi pemantau hak asasi manusia. Angka tersebut menjadikan rangkaian demonstrasi sejak akhir Desember 2025 sebagai salah satu yang paling berdarah dalam sejarah modern Iran, sekaligus memicu sorotan dan tekanan internasional yang kian menguat.

Data korban disampaikan oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA), lembaga pemantau berbasis di Amerika Serikat yang selama ini aktif mendokumentasikan korban kekerasan di Iran.

“Berdasarkan verifikasi kami hingga Rabu pagi, sedikitnya 2.571 orang telah tewas sejak protes dimulai,” tulis HRANA dalam laporan terbarunya seperti dikutip Rabu (14/1/2026).

HRANA merinci korban tewas tersebut terdiri atas 2.403 demonstran, 147 orang yang berafiliasi dengan pemerintah atau aparat keamanan, serta 12 anak yang turut menjadi korban.

Selain itu, HRANA mencatat lebih dari 18.100 orang ditangkap di berbagai kota sejak aksi unjuk rasa meluas ke seluruh penjuru negeri.

Angka tersebut diyakini belum final, mengingat pembatasan ketat akses internet dan komunikasi yang diberlakukan pemerintah Iran sejak awal Januari menyulitkan proses pendataan di lapangan.

Eksekusi Demonstran Tambah Korban

Di tengah eskalasi korban, kelompok hak asasi manusia Hengaw yang berbasis di Norwegia melaporkan bahwa seorang demonstran berusia 26 tahun, Erfan Soltani, dijadwalkan dieksekusi setelah ditangkap terkait protes di wilayah Karaj.

“Keluarga telah diberi tahu soal eksekusi, tetapi tidak mendapat penjelasan transparan mengenai proses peradilan,” kata Hengaw dalam pernyataannya. Hengaw menilai penanganan kasus tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa hukuman mati digunakan sebagai instrumen untuk menekan protes publik.

Demonstrasi di Iran bermula pada 28 Desember 2025, dipicu anjloknya nilai mata uang nasional dan memburuknya kondisi ekonomi. Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan nasional yang menentang kebijakan pemerintah dan menuntut perubahan politik yang lebih luas.

Pemerintah Iran merespons dengan pengerahan besar-besaran aparat keamanan. Saksi mata dan dokumentasi yang berhasil keluar dari negara itu menunjukkan penggunaan kekuatan berlebihan, termasuk peluru tajam, gas air mata, dan penangkapan massal. Sejak 9 Januari, otoritas juga memutus akses internet dan telepon di sejumlah wilayah.

Sorotan dan Tekanan Internasional

Lonjakan jumlah korban tewas membuat isu Iran menjadi perhatian global. Sejumlah negara Barat dan organisasi internasional menyerukan penghentian kekerasan dan meminta pemerintah Iran menghormati hak berkumpul secara damai.

Data HRANA dan Hengaw kini menjadi rujukan utama komunitas internasional untuk menilai skala krisis kemanusiaan yang terjadi di Iran, di tengah minimnya transparansi resmi dari otoritas setempat. (ren)