Trump secara Terbuka Dukung Demonstran Iran, Rusia Mengecam
Presiden AS Donald Trump dukung demonstran Iran dan janjikan “bantuan sedang datang," memicu kecaman Rusia, pemanggilan dubes Iran oleh Eropa, serta tekanan diplomatik dan militer global.

HALLONEWS.COM– Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara terbuka mendukung demonstran di Iran telah memicu reaksi keras di panggung global, menggabungkan isu hak asasi manusia, tekanan diplomatik, dan ancaman eskalasi militer.
Trump menyerukan para demonstran untuk “terus berprotes” dan menyatakan “bantuan sedang dalam perjalanan” di tengah gelombang protes anti-pemerintah terbesar di Iran dalam beberapa tahun terakhir. Pernyataan ini muncul saat laporan menunjukkan sudah ribuan warga tewas akibat tindakan keras aparat keamanan terhadap demonstran.
Dalam unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump mendesak rakyat Iran untuk “keep protesting” serta menyatakan bahwa mereka harus mengambil alih institusi negara demi menghentikan kekerasan. Ia juga mengumumkan pembatalan semua pertemuan diplomatik dengan pejabat Iran sampai tindakan represi berhenti — langkah yang memperlihatkan tegasnya retorika Washington terhadap rezim Teheran.
Trump tidak merinci bentuk “bantuan” yang dimaksud, tetapi Gedung Putih pada beberapa kesempatan menyebut opsi tekanan, termasuk kemungkinan tindakan militer, tetap berada di meja pertimbangan sambil menyatakan diplomasi sebagai pilihan utama.
Reaksi Internasional
Seruan Trump tersebut memicu reaksi kuat dari negara lain. Pemerintah Rusia mengecam pendekatan AS sebagai bentuk campur tangan eksternal subversif, memperingatkan bahwa upaya memanfaatkan kerusuhan domestik sebagai alasan untuk intervensi militer dapat berdampak buruk terhadap stabilitas regional dan global.
Negara-negara Eropa secara serempak memanggil duta besar Iran untuk menyampaikan protes atas kekerasan terhadap demonstran. Beberapa negara juga melanjutkan ancaman sanksi baru terhadap pejabat Iran yang dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran HAM dan tindakan represif.
Langkah diplomatik ini menunjukkan sikap tegas Barat terhadap rezim Iran dan solidaritas yang meningkat terhadap perjuangan warga Iran demi hak dan kebebasan mereka.
Gelombang protes ini dipicu oleh ketidakpuasan atas kondisi ekonomi, termasuk inflasi tinggi dan penurunan mata uang, kemudian berkembang menjadi penolakan luas terhadap rezim clerical yang berkuasa. Pemerintah Iran menerapkan pemadaman internet nasional dan penahanan massal untuk membatasi informasi serta membungkam pergerakan demonstran.
Berdasarkan pengakuan media dan kelompok HAM internasional, sudah ribuan korban tewas, termasuk warga sipil dan aparat, meski angka pastinya masih sulit diverifikasi karena pembatasan komunikasi.
Pernyataan Trump mengubah respons internasional terhadap protes dari sekadar kritik diplomatik menjadi isu geopolitik yang kompleks. Reaksi dari Rusia, upaya sanksi dari Uni Eropa, serta ancaman yang mengambang soal opsi militer oleh AS menunjukkan potensi ketegangan meluas di Timur Tengah.
Iran sendiri menyatakan kesiapannya untuk bernegosiasi, tetapi juga menegaskan kesiapan untuk menghadapi tekanan atau intervensi eksternal jika situasi terus memburuk.
Selain sanksi dan kecaman diplomatik, komunitas internasional, termasuk PBB dan berbagai organisasi hak asasi manusia, menyerukan diakhirinya kekerasan terhadap demonstran dan mengutuk tindakan keras rezim Iran. Tekanan global menyoroti bahwa situasi tersebut bukan lagi sekadar isu domestik, tetapi juga tantangan terhadap norma internasional hak asasi dan kebebasan sipil. (ren)
