Home - Opini - Menghubungkan Titik-Titik: Gaza, Iran, Venezuela, dan Strategi Penahanan terhadap China

Menghubungkan Titik-Titik: Gaza, Iran, Venezuela, dan Strategi Penahanan terhadap China

Analisis geopolitik kebijakan Trump memutus poros China-Iran-Venezuela-Gaza, melemahkan energi, logistik, narasi Global South, dan dominasi strategis Beijing Amerika sanksi global.

Senin, 12 Januari 2026 - 18:00 WIB
Menghubungkan Titik-Titik: Gaza, Iran, Venezuela, dan Strategi Penahanan terhadap China
Ilustrasi Perang Foto: Gemini AI

HALLONEWS.COM – Banyak orang melihat kebijakan Presiden Donald Trump terhadap Gaza, Iran, dan Venezuela sebagai reaksi yang terpisah-pisah dan tidak konsisten. Pandangan tersebut keliru. Trump tidak sedang bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa individual, melainkan secara sadar mengganggu sebuah ekosistem geopolitik yang telah terbentuk secara senyap selama lebih dari satu dekade.

Poros yang sesungguhnya bukanlah kekacauan acak, melainkan jaringan strategis yang melibatkan China, Iran, Venezuela, dan Palestina (Gaza), dengan Rusia dan Kuba berada di orbit terdekat. Wilayahnya berbeda, tetapi tujuannya sama: melemahkan dominasi Amerika Serikat, menghindari sanksi internasional, mengamankan energi dan logistik, serta mempersenjatai narasi anti imperialisme bagi Global South.

China tidak memimpin dengan tank dan rudal. Mereka memimpin dengan modal, infrastruktur, serta perlindungan diplomatik.

Venezuela merupakan titik awal penting dalam poros ini. Negara tersebut bukan sekadar negara sosialis yang gagal. Di bawah kepemimpinan Hugo Chavez dan Nicolas Maduro, Venezuela berubah menjadi platform penghindaran sanksi, simpul logistik Iran, ruang operasi aman bagi jaringan seperti Hizbullah dan Hamas, serta koridor pencucian uang dan narkotika yang menargetkan Amerika Serikat. China mengucurkan lebih dari USD 100 miliar ke Venezuela, sementara Iran menyalurkan miliaran dolar melalui negara ini. Minyak, uang tunai, drone, dan pelatihan militer bergerak secara senyap melalui Caracas. Inilah alasan mengapa Maduro menjadi aset strategis, dan mengapa penangkapannya pada Januari 2026 mengguncang kepentingan Beijing.

Iran adalah batu penjuru poros tersebut dan menjadi jalur energi sekaligus tuas militer bagi China. Sekitar 1,7 juta barel per hari minyak Iran diimpor China melalui mekanisme barter dan transaksi di luar pembukuan resmi. Sebagai imbalannya, China membiayai pelabuhan, rel kereta api, jaringan 5G, pipa energi, serta melindungi Teheran secara diplomatik di PBB. Pakta kerja sama China–Iran selama 25 tahun senilai sekitar USD 400 miliar bukanlah simbolis, melainkan fondasi keamanan energi jangka panjang. Tanpa Iran, poros ini kehilangan jangkar utamanya.

Gaza dan isu Palestina berfungsi sebagai senjata naratif. Di sinilah China membangun kredibilitas moral di mata Global South. Dukungan terhadap Palestina memungkinkan Beijing melemahkan legitimasi AS dan Israel, membungkus ambisi geopolitiknya dalam bahasa hukum internasional, serta membangun pengaruh tanpa kehadiran militer langsung. China menjadi tuan rumah dialog persatuan Palestina, mendorong gencatan senjata tanpa secara eksplisit menyebut Hamas, dan secara simultan mengutuk Israel sembari mempertahankan hubungan dagang bernilai puluhan miliar dolar.

Keterkaitan Gaza dengan Venezuela jarang dibahas. Venezuela secara terbuka mendukung Hamas, mendanai program Palestina, serta memposisikan diri sebagai basis belakang bagi jaringan perlawanan. Operasi Iran dan Hizbullah memanfaatkan ruang Venezuela, dengan dukungan finansial China dan pembayaran berbasis minyak. Ini bukan persoalan ideologi, melainkan pembangunan infrastruktur perlawanan jauh dari Timur Tengah.

Dalam konteks ini, langkah Trump menjadi lebih mudah dipahami. Ia tidak memukul gejala, tetapi memotong tulang punggung jaringan. Mengganggu Venezuela berarti meruntuhkan platform Iran di Belahan Barat. Menekan Iran berarti mengancam keamanan energi China. Mengendalikan eskalasi di Gaza berarti menutup ruang naratif moral yang dimanfaatkan Beijing. Ini adalah penahanan pre-emptive, bukan agresi acak.

China kini berada dalam posisi gelisah. Venezuela berubah dari aset menjadi beban, Gaza semakin sulit dieksploitasi, dan Iran terekspos secara ekonomi. Pesan Amerika Serikat jelas: putuskan jaringan ini atau hadapi konsekuensinya. China kemungkinan akan berbicara tentang stabilitas dan berupaya menyelamatkan investasinya, namun akan menghindari konflik terbuka, karena strategi mereka hanya efektif di bawah ambang perang.

Kesimpulannya, ini bukan tentang Trump yang bertindak sembrono. Ini tentang seorang pemimpin yang membaca papan catur dengan jernih. Gaza, Iran, dan Venezuela adalah tiga front dalam satu poros. Musuh utamanya bukanlah negara yang menembakkan rudal, melainkan kekuatan yang menarik benang dengan uang dan infrastruktur. Memahami hal ini membuat keseluruhan gambaran menjadi masuk akal.

(Dr. Ferry N. Langelo/Pengamat Ekonomi Internasional)

Berita Lainnya :

Opini

Update