Home - Internasional - Iran: Siap Dialog, Siap Perang di Tengah Protes Berdarah

Iran: Siap Dialog, Siap Perang di Tengah Protes Berdarah

Pemerintah Iran menyatakan siap dialog dan siap perang di tengah protes berdarah, sementara Trump pertimbangkan opsi keras terhadap rezim Teheran, krisis politik terus memanas.

Senin, 12 Januari 2026 - 21:09 WIB
Iran: Siap Dialog, Siap Perang di Tengah Protes Berdarah
Asap mengepul di atas kerumunan demonstran di Mashhad, Iran, saat bentrokan terjadi dalam gelombang protes anti-pemerintah pada 10 Januari 2026. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM-Pemerintah Iran menyatakan siap berdialog maupun menghadapi konflik di tengah gelombang protes yang telah menewaskan ratusan orang dan menimbulkan kritik internasional, bahkan ancaman intervensi militer dari Donald Trump. Pernyataan ini muncul saat situasi domestik sangat tegang akibat unjuk rasa meluas terhadap rezim teokratis yang telah berlangsung sejak akhir Desember 2025.

Teheran Tegaskan Siap Dialog dan Siap Perang

Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengklaim protes nasional “telah terkendali sepenuhnya” meskipun aksi-aksi demonstrasi berdarah terus berjalan. Dalam pernyataannya yang dilaporkan media internasional, Araqchi mengatakan Iran siap untuk perang tetapi juga dialog, menyiratkan kebijakan ganda dalam menghadapi tekanan baik domestik maupun internasional.

Araqchi menuduh Trump dan Israel sebagai penyebab eskalasi kekerasan, menyebut kekerasan meningkat tajam “agar presiden Amerika memiliki alasan untuk campur tangan” di Iran.

Trump: Iran Ingin Negosiasi, Tapi Opsi Keras Dipertimbangkan

Dari Washington, Trump mengatakan bahwa Teheran telah mengusulkan negosiasi dengan AS, meski ia memperingatkan opsi lain tetap terbuka. Trump menyatakan pertemuan tengah diatur, tetapi ia bisa bertindak sebelum pertemuan itu terjadi jika perkembangan di lapangan tidak kunjung membaik.

Presiden AS sebelumnya juga memperingatkan bahwa militer Amerika sedang mempertimbangkan “opsi-opsi yang sangat kuat” terhadap Iran, termasuk potensi serangan militer jika kekerasan terhadap demonstran terus meningkat.

Menanggapi ancaman Trump, Garda Revolusi Iran mengecam keras Presiden AS dalam sebuah pernyataan yang dibagikan oleh kantor berita Tasnim. Garda Revolusi menyebut Trump sebagai “badut dan penjahat” dan memperingatkan bahwa Iran akan memberikan tanggapan keras terhadap setiap serangan, menegaskan tekad rezim menjaga kedaulatan negara.

Data Korban dan Penahanan Massal

Menurut laporan organisasi hak asasi yang berbasis di AS, protes anti-pemerintah yang pecah sejak akhir Desember telah menewaskan lebih dari 500 orang, termasuk demonstran dan aparat keamanan, serta menahan lebih dari 10.600 orang.

Protes ini bermula dari keluhan ekonomi yang berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas terhadap rezim teokratis Iran, dan diduga dipicu oleh frustrasi atas inflasi tinggi, harga kebutuhan pokok melambung, serta pelemahan mata uang lokal.

Kecaman internasional terus mengalir, termasuk dari Eropa yang menyatakan bahwa pemerintah Iran semakin kehilangan legitimasi politik akibat cara penanganan protes yang keras serta pembatasan akses informasi di seluruh negeri. (ren)