Home - Internasional - Protes Iran Mematikan: 544 Orang Tewas, Lebih dari 10.681 Ditahan di Tengah Pemutusan Internet Nasional

Protes Iran Mematikan: 544 Orang Tewas, Lebih dari 10.681 Ditahan di Tengah Pemutusan Internet Nasional

Protes Iran kian mematikan: 544 orang terbunuh dan lebih dari 10.681 ditahan di tengah pemutusan akses internet dan komunikasi secara nasional.

Senin, 12 Januari 2026 - 10:15 WIB
Protes Iran Mematikan: 544 Orang Tewas, Lebih dari 10.681 Ditahan di Tengah Pemutusan Internet Nasional
Kantong-kantong jenazah tergeletak di luar Pusat Medis Forensik Kahrizak, Minggu (11/1/2026) waktu setempat, ketika keluarga korban menunggu proses identifikasi di tengah pemutusan akses internet nasional dan gelombang protes anti-pemerintah di Iran yang menewaskan sedikitnya 544 orang. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM-Gelombang protes antipemerintah di Iran memasuki fase paling mematikan. Sedikitnya 544 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 10.681 orang ditahan, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat, di tengah pemutusan akses internet dan komunikasi secara nasional yang diberlakukan pemerintah Iran.

Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia menyebut jumlah korban tewas meningkat tajam hanya dalam hitungan jam. Hingga Minggu (11/1/2026) waktu setempat, lembaga tersebut mencatat 544 orang tewas.

Selain itu, organisasi tersebut mengungkap telah menerima 579 laporan kematian tambahan yang masih dalam proses verifikasi. Jika seluruh laporan itu terkonfirmasi, total korban jiwa akibat protes nasional ini berpotensi mencapai 1.123 orang.

Dalam pembaruan sebelumnya, lembaga-lembaga tersebut menyebut sebagian besar korban tewas akibat tembakan peluru tajam maupun peluru karet , banyak di antaranya yang terlepas dari jarak dekat.

Penahanan Massal

Selain korban jiwa, skala penindakan aparat terlihat dari penangkapan massal yang terus berlangsung. Lebih dari 10.681 orang dilaporkan telah ditangkap dan dipindahkan ke berbagai fasilitas terpencil dan penjara di seluruh Iran sejak gelombang protes pecah.

Aktivis hak asasi manusia menyebut jumlah tersebut sebagai salah satu tersingkir terbesar dalam satu periode protes di Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Rincian kejadian di lapangan sulit karena pemerintah Iran memberlakukan pemutusan internet dan komunikasi di 31 provinsi. Pembatasan ini menghambat akses jurnalis independen, keluarga korban, serta organisasi kemanusiaan untuk memperoleh gambaran utuh situasi di lapangan.

Aksi protes yang bermula pada akhir Desember akibat anjloknya nilai tukar rial kini telah memasuki pekan ketiga dan berkembang menjadi tantangan paling serius terhadap pemerintah Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Versi Pemerintah Iran

Televisi pemerintah Iran menayangkan gambar kantong-kantong jenazah di lantai kantor koroner Teheran dan menyebut para korban sebagai akibat tindakan “teroris bersenjata”. Tayangan lain menampilkan keluarga korban berkumpul di luar Pusat Medis Forensik Kahrizak , menunggu proses identifikasi jenazah.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian , dalam pernyataan publik pertamanya terkait protes ini, menyatakan adanya kelompok yang didukung kekuatan asing dan berupaya menciptakan kekacauan dengan membakar fasilitas umum serta menyerang aparat.

Meski demikian, Pezeshkian menyatakan pemerintah siap mendengarkan aspirasi masyarakat dan berkomitmen mencari solusi atas tekanan ekonomi yang memicu protes.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia internasional menyatakan mencakup kombinasi kekerasan mematikan, tersingkir massal, dan pembungkaman informasi . Mereka menilai situasi ini berpotensi mencakup skala korban yang lebih besar dan meningkatkan risiko pelanggaran HAM berat.

Aktivis memperingatkan bahwa tanpa akses komunikasi dan pengawasan independen, jumlah korban sebenarnya bisa jauh melampaui angka yang saat ini terungkap. (ren)