Home - Nasional - Megawati: Intervensi Militer AS di Venezuela Bentuk Neokolonialisme Modern

Megawati: Intervensi Militer AS di Venezuela Bentuk Neokolonialisme Modern

Megawati Soekarnoputri mengecam keras intervensi militer AS di Venezuela dan menyebutnya sebagai neokolonialisme modern yang mengancam kedaulatan bangsa.

Minggu, 11 Januari 2026 - 5:30 WIB
Megawati: Intervensi Militer AS di Venezuela Bentuk Neokolonialisme Modern
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politik dalam peringatan HUT ke-53 PDIP dan pembukaan Rakernas I Tahun 2026 di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara. Foto: Dokumen PDIP Jatim for Hallonews

HALLONEWS.COM-Ketua Umum Partai Demokrasi Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengecam keras tindakan intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela yang dinilainya sebagai bentuk neokolonialisme dan imperialisme modern serta ancaman serius terhadap kedaulatan negara-negara berdaulat.

Pernyataan tegas itu disampaikan Megawati dalam pidato peringatan HUT ke-53 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sekaligus pembukaan Rakernas I PDIP Tahun 2026 di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).

“PDI Perjuangan mengecam setiap bentuk intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela, termasuk upaya penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya melalui operasi militer yang telah memicu kecaman internasional,” ujar Megawati di hadapan ribuan kader PDIP.

Langgar Piagam PBB dan Cederai Perdamaian Dunia

Megawati menilai tindakan agresi sepihak tersebut bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mencederai semangat perdamaian dunia yang seharusnya dijunjung tinggi oleh seluruh negara.

Menurut Presiden Kelima RI itu, penggunaan kekuatan militer untuk menekan negara lain adalah praktik lama yang dibungkus dalam wajah baru.

“Tindakan tersebut merupakan wujud neokolonialisme dan imperialisme modern yang mengingkari prinsip dasar hubungan antarbangsa,” tegasnya.

Ia menambahkan, bangsa Indonesia secara historis memiliki sikap tegas menolak segala bentuk penjajahan dan dominasi, sebagaimana tercermin sejak Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955.

Seruan Diplomasi, Tolak Politik Senjata

Dalam pidatonya, Megawati menekankan bahwa kekerasan tidak pernah menjadi solusi dalam membangun demokrasi dan peradaban.

“Demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata. Keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa,” ujar Megawati.

Atas dasar itu, PDI Perjuangan secara resmi menyerukan agar seluruh konflik global, termasuk krisis Venezuela, diselesaikan melalui jalur diplomasi, dialog, dan hukum internasional, bukan melalui intervensi militer.

“Bangsa Indonesia menolak tatanan internasional yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain,” katanya.

Tema HUT PDIP: “Kebenaran dan Keteguhan Sikap”

Pada peringatan HUT ke-53 dan Rakernas I PDIP tersebut, Dewan Pimpinan Pusat PDIP mengusung tema “Satyam Eva Jayate”, slogan berbahasa Sanskerta yang berarti Kebenaran Akan Menang.

Adapun subtema “Di Sanalah Aku Berdiri, untuk Selama-lamanya”, yang dikutip dari lagu kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman, dimaknai sebagai simbol keteguhan sikap, daya tahan, dan keberanian ideologis dalam menghadapi tantangan global.

Pidato Megawati pun dipandang sebagai penegasan posisi politik luar negeri partai berlambang banteng tersebut: menolak neokolonialisme, menjunjung kedaulatan, dan mengedepankan perdamaian dunia. (ren)