Home - Internasional - AS Nyatakan Dukungan untuk Demonstran Iran, Protes Antipemerintah Meluas hingga Eropa

AS Nyatakan Dukungan untuk Demonstran Iran, Protes Antipemerintah Meluas hingga Eropa

Amerika Serikat menyatakan dukungan bagi demonstran Iran di tengah protes antipemerintah yang meluas hingga Eropa. Aparat Iran dilaporkan menangkap 100 orang.

Minggu, 11 Januari 2026 - 6:30 WIB
AS Nyatakan Dukungan untuk Demonstran Iran, Protes Antipemerintah Meluas hingga Eropa
Para demonstran mengibarkan bendera Iran pra-Revolusi Islam sambil membawa poster Reza Pahlavi dalam aksi solidaritas mendukung protes anti-pemerintah Iran di Berlin, Jerman. Aksi ini menyoroti penolakan terhadap pembatasan kebebasan sipil dan pemutusan akses internet oleh otoritas Iran. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM-Amerika Serikat (AS) secara terbuka menyatakan dukungan terhadap gelombang protes anti-pemerintah di Iran yang terus meluas. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan sikap Washington melalui unggahan singkat di media sosial pada Minggu dini hari waktu setempat.

“Amerika Serikat mendukung rakyat Iran yang berani,” tulis Rubio seperti dikutip Sabtu (10/1/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Teheran, menyusul laporan korban jiwa, penangkapan massal, serta ancaman keras aparat Iran terhadap para demonstran.

Presiden AS Donald Trump juga menyinggung situasi Iran usai pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak. Ia memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menggunakan kekerasan berlebihan seperti pada gelombang protes sebelumnya.

“Iran sedang dalam masalah besar. Kami memantau situasi ini dengan sangat cermat,” ujar Trump. “Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang pernah mereka lakukan di masa lalu, kami akan turun tangan dan menyerang mereka dengan sangat keras di titik yang paling menyakitkan.”

Pernyataan Trump memicu spekulasi soal kemungkinan meningkatnya tekanan internasional, meski belum ada langkah konkret yang diumumkan.

Aksi Solidaritas Merebak di Eropa

Aksi solidaritas terhadap demonstran Iran juga berlangsung di luar negeri. Di London, Kepolisian Metropolitan mengonfirmasi adanya unjuk rasa di luar Kedutaan Besar Iran di Westminster. Seorang demonstran sempat memanjat balkon gedung dan mengganti bendera Republik Islam Iran dengan bendera kekaisaran Iran pra-Revolusi 1979, sebelum polisi menambah jumlah personel untuk mencegah kerusuhan.

Di Berlin, ratusan orang berpawai sambil mengibarkan bendera monarki Iran dan membawa foto Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan. Aksi-aksi serupa dilaporkan terjadi di sejumlah kota Eropa lainnya.

Di dalam negeri, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa kepolisian Iran mengeluarkan peringatan kepada warga, khususnya keluarga dengan anak-anak, agar menjauh dari lokasi demonstrasi.

Aparat keamanan menuding adanya “kelompok teroris dan individu bersenjata” yang menyusup ke dalam aksi protes, serta menegaskan bahwa tindakan tegas akan diambil “tanpa kompromi”.

Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad bahkan memperingatkan bahwa para demonstran dapat didakwa sebagai moharebeh atau “musuh Tuhan”, tuduhan berat yang dapat berujung hukuman mati.

100 Orang Ditangkap di Provinsi Teheran

Tekanan terhadap demonstran terus meningkat. Seorang gubernur setempat di Provinsi Teheran, seperti dilaporkan Tasnim, menyatakan bahwa setidaknya 100 orang telah ditangkap di wilayah Baharestan.

Para tahanan dituduh “mengganggu ketertiban umum” serta melakukan kekerasan terhadap aparat keamanan. Pemerintah Iran menyebut para demonstran antipemerintah sebagai “perusuh dan teroris”, sementara kelompok oposisi menilai tuduhan tersebut sebagai upaya membungkam kritik publik.

Gelombang protes saat ini bermula pada 28 Desember, ketika para pedagang dan pemilik toko di Teheran melakukan mogok menyusul anjloknya nilai mata uang Iran ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Namun dalam hitungan hari, tuntutan ekonomi berkembang menjadi gerakan antipemerintah berskala nasional, menyebar ke berbagai kota.

Menurut sejumlah pengamat, skala dan karakter protes kali ini berbeda dari sebelumnya. Mantan Duta Besar Inggris untuk Iran Nicholas Hopton menilai ada tingkat persatuan yang lebih luas di antara para demonstran.

“Yang membuatnya berbeda adalah besarnya demonstrasi dan rasa persatuan lintas latar belakang dan wilayah,” ujarnya kepada Sky News.

Dua sineas Iran terkemuka, Jafar Panahi dan Mohammad Rasoulof, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk kekerasan pemerintah terhadap demonstran.

Mereka menyerukan komunitas internasional untuk terus memantau situasi dan memastikan akses informasi yang bebas.

Sementara itu, Human Rights Watch dan Amnesty International mendesak agar mekanisme hukum internasional digunakan untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Menurut Kantor Berita Aktivis HAM yang berbasis di AS, sedikitnya 65 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 2.300 orang ditangkap sejak protes pecah.

Iran di Persimpangan

Dengan meningkatnya tekanan dari AS dan Eropa, termasuk kecaman bersama dari Inggris, Prancis, dan Jerman, Iran kini berada di persimpangan penting. Di satu sisi, pemerintah memperkeras respons keamanan. Di sisi lain, besarnya dukungan publik dan meluasnya solidaritas internasional menunjukkan bahwa gelombang protes kali ini berpotensi menjadi yang paling menentukan dalam beberapa dekade terakhir.

Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah Iran merespons tuntutan rakyatnya, apakah melalui dialog, atau dengan eskalasi represi yang berisiko memperdalam krisis. (ren)