Home - Ekonomi & Bisnis - Defisit APBN 2025 Nyaris Tembus Batas Aman 3% PDB, Pajak Anjlok Belanja Tetap Ngebut

Defisit APBN 2025 Nyaris Tembus Batas Aman 3% PDB, Pajak Anjlok Belanja Tetap Ngebut

Defisit APBN 2025 melebar ke 2,92% PDB akibat penerimaan pajak meleset dari target, sementara belanja negara tetap ekspansif demi jaga ekonomi.

Sabtu, 10 Januari 2026 - 16:00 WIB
Defisit APBN 2025 Nyaris Tembus Batas Aman 3% PDB, Pajak Anjlok Belanja Tetap Ngebut
Grafik Defisit APBN 2025 (Dok Yes Invest)

HALLONEWS.COM – Realisasi sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 menunjukkan tekanan signifikan pada sisi penerimaan negara.

Hingga akhir tahun 2025, defisit anggaran tercatat mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari target awal sebesar 2,53% PDB.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan perkembangan tersebut dalam paparan realisasi APBN 2025 per 8 Januari 2026 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya memiliki ruang untuk menekan defisit dengan memangkas belanja, namun langkah tersebut tidak ditempuh demi menjaga peran APBN sebagai penopang perekonomian di tengah tekanan ekonomi.

“Defisit sebenarnya bisa dibuat nol dengan menyesuaikan belanja ketika penerimaan menurun. Namun, dalam kondisi ekonomi yang sedang tertekan, APBN justru kami gunakan sebagai stimulus,” ujar Purbaya dalam pemaparan yang disiarkan melalui kanal resmi Kementerian Keuangan.

Dari sisi pendapatan, realisasi penerimaan pajak hingga 31 Desember 2025 hanya mencapai Rp1.917,6 triliun, atau sekitar 87,6% dari target APBN sebesar Rp2.189,3 triliun. Angka ini bahkan lebih rendah secara nominal dibandingkan realisasi pajak tahun 2024 yang mencapai Rp1.931,6 triliun.

Secara keseluruhan, penerimaan perpajakan—termasuk kepabeanan dan cukai—tercatat sebesar Rp2.217,9 triliun, setara 89% dari target. Berbeda dengan itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru melampaui target, dengan realisasi mencapai Rp534,1 triliun atau 104% dari rencana.

Di tengah melemahnya pendapatan, belanja negara tetap dijalankan secara ekspansif dan mencapai Rp3.451,4 triliun, atau 95,3% dari target. Bahkan, belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) melonjak hingga 129,3% dari pagu awal, dengan nilai realisasi sekitar Rp1.500,4 triliun.

Ketidakseimbangan antara pendapatan dan belanja tersebut mendorong keseimbangan primer mencatat defisit sebesar Rp180,7 triliun, jauh lebih dalam dibandingkan target awal yang hanya Rp63,3 triliun. Untuk menutup kebutuhan pembiayaan, pemerintah meningkatkan pembiayaan anggaran hingga Rp744,0 triliun, atau sekitar 120,8% dari rencana awal.

Secara keseluruhan, meskipun total pendapatan negara mencapai Rp2.756,3 triliun, kinerja penerimaan pajak yang berada di bawah target menjadi faktor utama yang menekan postur APBN 2025 dan mendorong defisit mendekati batas aman 3% PDB.(Yesaya Christofer/CEO Yes Invest)