Home - Ekonomi & Bisnis - Restrukturisasi Kepemilikan KRAS: Negara Perkuat Kendali Lewat BP BUMN

Restrukturisasi Kepemilikan KRAS: Negara Perkuat Kendali Lewat BP BUMN

Restrukturisasi kepemilikan Krakatau Steel (KRAS) memperkuat kendali negara lewat BP BUMN. Analisis dampak korporasi, kinerja saham, dan peluang rebound teknikal KRAS 2026.

Jumat, 9 Januari 2026 - 10:35 WIB
Restrukturisasi Kepemilikan KRAS: Negara Perkuat Kendali Lewat BP BUMN
Ilustrasi produk Baja (Dok Yes Invest)

HALLONEWS.COM – Menurut informasi yang diterima PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) melalui Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) pada 6 Januari 2026, sebagian saham Seri B PT Danantara Asset Management (Persero) (DAM) akan ditransfer ke Republik Indonesia.

Diberlakukannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN mengatur bahwa Negara Republik Indonesia memiliki saham 1% dalam BUMN dalam bentuk saham Seri A Dwiwarna yang dipegang oleh BP BUMN, sementara sisanya dapat dikelola oleh holding operasional seperti DAM. Perubahan saham ini merupakan hasil dari undang-undang tersebut.

Dalam perjanjian tersebut, DAM menyetujui untuk menyerahkan 154.771.174 lembar saham Seri B Krakatau Steel kepada Negara Republik Indonesia melalui BP BUMN. Pengalihan ini ditandatangani oleh BP BUMN sebagai wakil pemerintah dan direktur DAM pada 5 Januari 2026, dan sejak saat itu, BP BUMN resmi menjadi pemegang saham Perseroan.

Setelah Kepala BP BUMN menerbitkan penetapan resmi, nilai pasti dari pengalihan saham ini akan diumumkan. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham BP BUMN di Krakatau Steel akan berkurang menjadi 1 lembar saham Seri A Dwiwarna dan 154,77 juta lembar saham Seri B. Dengan demikian, saham Seri A Dwiwarna Negara Republik Indonesia akan dimiliki oleh BP BUMN pada Perseroan.

Tentang Perusahaan

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk merupakan produsen baja terintegrasi di Indonesia yang berlokasi di Cilegon, Banten. Perseroan telah mengembangkan berbagai fasilitas produksi strategis seperti Pabrik Besi Spons, Pabrik Billet Baja, Pabrik Batang Kawat, serta didukung infrastruktur pelabuhan, tenaga listrik, instalasi pengolahan air, dan sistem telekomunikasi.

Krakatau Steel mulai beroperasi secara komersial pada 1971 dan didirikan pada 1970 sebagai kelanjutan dari Proyek Besi Baja Trikora yang diinisiasi oleh Presiden Soekarno.

Saat ini, saham KRAS diperdagangkan di level 346. Meskipun mencatatkan kenaikan 0,58% dalam satu minggu terakhir, saham masih tertekan secara bulanan dengan penurunan 11,34%, dengan penurunan rata-rata 7,53% selama tiga bulan terakhir.

Meskipun demikian, kinerja saham meningkat secara tahunan dengan kenaikan 204,42% setiap tahun, sementara kenaikan 10,97% terus terjadi dalam tiga tahun terakhir. Namun, saham KRAS masih mengalami penurunan 22,77% dalam jangka panjang lima tahun.

Analisis Yes Invest

Krakatau Steel baru kembali mencatatkan laba pada tahun 2025, setelah sebelumnya mengalami kerugian yang cukup besar pada 2023 dan 2024 dengan nilai sekitar Rp2 triliun per tahun.

Dari sisi valuasi, saham KRAS saat ini tergolong diperdagangkan di bawah nilai bukunya, dengan PBV di kisaran 0,89, yang mencerminkan pasar masih memberikan diskon terhadap fundamental perusahaan.

Secara teknikal, tren jangka menengah saham KRAS masih berada dalam tren turun, di mana harga masih bergerak di bawah Exponential Moving Average (EMA) periode 20.

Namun, dalam jangka pendek mulai terlihat sinyal pembalikan arah. Pada perdagangan 7 Januari 2026 pukul 15:20, terbentuk golden cross pada indikator stochastic (5,3,3) yang mengindikasikan potensi rebound teknikal. Area support berada di kisaran 322, sementara resistance terdekat berada di area 364.(Adi Prasetya Teguh/Yes Invest)