Home - Megapolitan - Awan Tebal Disertai Hujan Tutupi Gunung Salak, Tragedi Jatuhnya Sukhoi Superjet 100 Kembali Dikenang

Awan Tebal Disertai Hujan Tutupi Gunung Salak, Tragedi Jatuhnya Sukhoi Superjet 100 Kembali Dikenang

Hujan deras dan awan tebal menutupi Gunung Salak di Bogor, mengingatkan kembali pada tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 serta sejumlah kecelakaan penerbangan yang pernah terjadi di kawasan tersebut.

Kamis, 8 Januari 2026 - 18:00 WIB
Awan Tebal Disertai Hujan Tutupi Gunung Salak, Tragedi Jatuhnya Sukhoi Superjet 100 Kembali Dikenang
Gunung Salak tampak indah saat cuaca di wilayah Bogor cerah. Foto: yopy/hallonews.com

HALLONEWS.COM — Hujan deras yang disertai awan tebal menyelimuti wilayah Bogor pada Kamis, 8 Januari 2026, menyebabkan Gunung Salak seketika menghilang dari pandangan. Kabut pekat menutup kawasan pegunungan yang pernah menjadi sorotan dunia akibat tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet (SSJ) 100 pada 9 Mei 2012 silam.

Gunung Salak yang sebelumnya tampak dengan keindahan alamnya perlahan tertutup awan setelah intensitas hujan meningkat. Kondisi tersebut kembali mengingatkan publik pada sejumlah peristiwa kecelakaan penerbangan yang pernah terjadi di kawasan ini.

Gunung Salak dikenal tidak hanya karena kisah-kisah mistis yang melekat, tetapi juga karena catatan kelam dunia penerbangan. Tragedi paling menggemparkan terjadi saat pesawat Sukhoi Superjet 100 mengalami kecelakaan ketika melakukan demonstrasi terbang (demo flight) pada 2012.

Dalam peristiwa tersebut, seluruh 45 orang yang berada di dalam pesawat—terdiri dari awak, tamu undangan, dan perwakilan media—dinyatakan meninggal dunia setelah pesawat menabrak tebing Gunung Salak di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Selain tragedi Sukhoi, Gunung Salak juga tercatat beberapa kali menjadi lokasi insiden penerbangan militer. Sejumlah pilot TNI Angkatan Udara gugur akibat kecelakaan pesawat yang menabrak medan pegunungan dengan vegetasi lebat, termasuk pepohonan cemara yang rapat.

Oleh karena itu, saat kondisi cuaca di Bogor memburuk—terutama ketika hujan turun disertai kabut tebal—kawasan sekitar Gunung Salak kerap dinyatakan berisiko tinggi dan dihindari untuk aktivitas penerbangan.

Sejumlah wisatawan yang tengah menikmati panorama Gunung Salak dari kawasan Gumati, Paledang, Kota Bogor, tampak terkesima melihat awan tebal yang membungkus seluruh tubuh gunung.

“Kalau di Bogor hujan, sebaiknya pesawat tidak melintas di atas Gunung Salak. Cuacanya berbahaya dan sudah banyak kejadian. Bogor ini memang dikenal rawan kecelakaan pesawat,” ujar Agung, seorang pengunjung Gumati, Kamis, 8 Januari 2026.

Berdasarkan catatan kecelakaan penerbangan, sejumlah insiden di Bogor kerap terjadi saat cuaca sedang tidak bersahabat. Salah satunya menimpa pesawat milik Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) di Ciampea, Kabupaten Bogor.

Pada Minggu pagi, 3 Agustus 2025, pesawat latih jenis Microlight Fixed Wing Quicksilver GT500 dengan nomor registrasi PK-S126 mengalami kecelakaan di dekat TPU Astana, Desa Benteng, Kecamatan Ciampea. Pesawat tersebut dikemudikan Marsma TNI Fajar Adriyanto sebagai pilot dan Roni sebagai kopilot.

WhatsApp Image 2026 01 08 at 17.39.40 1 e1767869450610
Gunung Salak tertutup awan dan kabut tebal saat hujan mengguyur Bogor.
Foto: yopy/hallonews.com

Dalam insiden itu, Marsma TNI Fajar Adriyanto—mantan Kepala Dinas Penerangan TNI AU—dinyatakan gugur, sementara kopilot Roni mengalami luka berat.

Selain itu, sejumlah kecelakaan penerbangan lain yang tercatat di wilayah Bogor antara lain:

  • Kecelakaan pesawat latih di areal persawahan Desa Wates, Kecamatan Cigombong, yang menewaskan pilot bernama R. Widodo.

  • Pada 30 April 2009, pesawat latih Curug jatuh di perkebunan bambu di wilayah Tenjo, mengakibatkan tiga orang mengalami luka-luka.

  • Juni 2008, pesawat Casa 212 milik TNI AU jatuh di Gunung Salak pada ketinggian sekitar 4.200 kaki di atas permukaan laut, menewaskan 18 orang.

  • 20 Juni 2004, pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, Kecamatan Cijeruk, menewaskan lima orang.

  • 15 April 2004, pesawat paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, menyebabkan dua orang meninggal dunia.

  • 29 Oktober 2003, helikopter Sikorsky S-58T Twinpac milik TNI AU jatuh di Kemang, menewaskan tujuh orang.

  • 10 Oktober 2002, pesawat trike bermesin PKS-098 jatuh di kawasan Lido, Bogor, menyebabkan satu orang meninggal dunia.

Kasus jatuhnya Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak menjadi tragedi penerbangan paling menghebohkan secara internasional. Pesawat tersebut dilaporkan hilang kontak saat melakukan demo flight dan diduga jatuh di kawasan Kawah Ratu, Kecamatan Pamijahan.

Rangkaian peristiwa tersebut membuat wilayah Bogor, khususnya kawasan Gunung Salak, dikenal memiliki medan penerbangan yang menantang. Topografi pegunungan yang curam serta cuaca yang cepat berubah menjadikan kawasan ini rawan kecelakaan, terutama bagi pesawat latih dan penerbangan sipil skala kecil. (yopy)