Home - Nasional - Bukan Bom, Bukan Senjata: Cara Dunia Digital Rampas Masa Depan Anak dalam 3 Bulan

Bukan Bom, Bukan Senjata: Cara Dunia Digital Rampas Masa Depan Anak dalam 3 Bulan

Konten ekstrem di dunia digital mampu mendoktrin anak-anak hanya dalam 3–6 bulan. BNPT mengungkap ancaman ekstremisme digital dan upaya perlindungan masa depan anak Indonesia.

Kamis, 8 Januari 2026 - 13:05 WIB
Bukan Bom, Bukan Senjata: Cara Dunia Digital Rampas Masa Depan Anak dalam 3 Bulan
Seorang anak menatap layar ponsel dalam ruang gelap, menggambarkan sunyinya ancaman ekstremisme digital yang perlahan menggerus masa depan generasi muda. Foto: Freepik for Hallonews

HALLONEWS.COM-Tidak ada ledakan. Tidak ada teriakan. Tidak ada darah. Yang ada hanyalah layar ponsel menyala di tangan anak-anak, di kamar, di sudut rumah, di balik pintu yang tertutup. Dalam diam, potongan video, pesan singkat, dan narasi berulang bekerja perlahan. Bukan untuk menghibur, melainkan membentuk cara berpikir. Inilah wajah baru ekstremisme di Indonesia: sunyi, personal, dan bergerak cepat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Eddy Hartono, mengungkapkan fakta yang menggetarkan nurani publik. Di era digital, anak-anak dapat terdoktrin paham kekerasan ekstrem hanya dalam waktu 3–6 bulan.

Bandingkan dengan masa lalu. Sebelum dunia digital mendominasi kehidupan, proses radikalisasi melalui pertemuan tatap muka memerlukan 3–6 tahun, waktu panjang yang memungkinkan keluarga dan lingkungan menyadari tanda-tandanya.

“Kini semuanya jauh lebih cepat. Orang bisa dicuci otaknya dalam hitungan bulan,” kata Eddy dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026)

Anak dan Perempuan, Sasaran Paling Rentan

BNPT mencatat anak-anak dan perempuan menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan ekstremisme digital. Mereka bukan direkrut dengan ancaman, melainkan dengan cerita yang menyentuh emosi, empati palsu, dan rasa kebersamaan.

Paparan itu datang dari ruang yang terasa akrab: YouTube, Telegram, TikTok, forum daring, hingga lorong gelap dark web. Dalam komunitas tertentu, termasuk true crime community (TCC), kekerasan dikemas sebagai kebenaran, bahkan sebagai bentuk perjuangan.

Dari rasa ingin tahu, anak-anak melangkah ke fase ekstremisme. Jika tak dihentikan, fase ini dapat berkembang menjadi radikalisme dan pada titik tertentu mengarah ke terorisme.

Sejak tiga tahun terakhir, BNPT bersama Densus 88 Antiteror Polri, BIN, BAIS, dan BSSN melakukan cyber-patrol di ruang digital.

Namun Eddy mengakui dengan jujur: apa yang terungkap baru sebagian kecil. “Ini pekerjaan rumah besar. Ancaman sudah menyebar, dan kita harus bergerak lebih cepat dari algoritma,” ujarnya.

Berangkat dari kenyataan tersebut, BNPT menyusun Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan. Rencana ini telah diajukan ke Kementerian Sekretariat Negara untuk ditetapkan melalui Peraturan Presiden.

Pendekatannya tegas namun manusiawi: deteksi dini, perlindungan anak, dan pendampingan psikososial. Bukan penjara, bukan stigmatisasi.

“Anak-anak ini korban. Jangan sampai mereka trauma, jangan sampai masa depannya hilang,” tegas Eddy.

Roblox, Kamera, dan Dilema Zaman

Salah satu langkah yang memantik diskusi publik adalah rencana verifikasi usia berbasis biometrik wajah pada pendaftaran akun gim daring Roblox. Kamera depan ponsel akan digunakan untuk memastikan pengguna benar-benar sesuai usia.

Langkah ini dilakukan untuk membatasi akses anak ke ruang digital berisiko, dengan melibatkan pengembang platform serta Kementerian Komunikasi dan Digital sebagai regulator.

Di satu sisi ada kekhawatiran soal privasi. Di sisi lain, ada kewajiban moral untuk melindungi anak-anak dari dunia yang belum sepenuhnya aman.

BNPT mencatat sebaran anak terpapar paling banyak berada di DKI Jakarta, disusul Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Angkanya mungkin belasan. Namun setiap angka menyimpan satu cerita tentang anak, keluarga, dan masa depan yang nyaris terenggut.

Mereka bukan pelaku kejahatan. Mereka bukan ancaman negara. Mereka adalah anak-anak yang terlambat kita dengar.

Ekstremisme hari ini tidak selalu datang dengan bom dan senjata. Ia datang lewat notifikasi, rekomendasi video, dan ruang obrolan yang tampak biasa.

Pertanyaannya kini bukan sekadar apa yang dilakukan negara, melainkan apakah kita cukup hadir, sebagai orang tua, pendidik, dan masyarakat, sebelum layar lebih dulu membentuk masa depan anak-anak kita.

Karena dalam dunia digital yang bergerak cepat, tiga bulan bisa menentukan seluruh hidup seseorang. (ren)