Home - Internasional - Menguasai Greenland, Obsesi Lama Amerika Serikat

Menguasai Greenland, Obsesi Lama Amerika Serikat

Ambisi Amerika Serikat untuk menguasai Greenland bukan hal baru. Dari sejarah hingga kepentingan Arktik, inilah obsesi lama Washington atas pulau es strategis itu.

Kamis, 8 Januari 2026 - 11:42 WIB
Menguasai Greenland, Obsesi Lama Amerika Serikat
Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan keinginannya untuk membawa Greenland di bawah kendali Amerika Serikat, memicu reaksi keras dari Eropa dan komunitas internasional. Foto: France24 for Hallonews

HALLONEWS.COM-Beberapa hari setelah pasukan Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro di Caracas, perhatian dunia kembali tertuju pada pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump. Kali ini, Trump mengisyaratkan bahwa wilayah lain, termasuk Greenland masuk dalam radar strategis Washington.

Ketertarikan Trump pada Pulau Arktik yang kaya mineral itu sejatinya bukan hal baru. Sejak masa jabatan pertamanya, ia berulang kali menyatakan minat untuk “mengamankan” Greenland, wilayah otonom Denmark yang berpenduduk sekitar 57.000 jiwa. Namun, pernyataan terbarunya yang bahkan membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer, membuat Eropa siaga.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut Trump sedang mempertimbangkan “berbagai opsi” untuk memperoleh Greenland, termasuk opsi militer. Pernyataan ini memicu kekhawatiran luas tentang masa depan stabilitas Arktik dan hubungan transatlantik.

Greenland Bukan untuk Dijual

Dalam pernyataan bersama, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris secara terbuka menyatakan dukungan kepada Denmark. Para pemimpin Eropa menegaskan bahwa Greenland adalah milik rakyatnya dan hanya Denmark serta Greenland yang berhak menentukan masa depannya.

“Greenland adalah milik rakyat Greenland. Denmark adalah anggota NATO, sama seperti Amerika Serikat, dan kedaulatan tidak dapat dinegosiasikan,” bunyi pernyataan tersebut.

Ketegangan meningkat setelah Trump, dalam wawancara dengan The Atlantic, mengaitkan operasi militer AS di Venezuela dengan masa depan Greenland. “Orang-orang akan melihat sendiri,” ujarnya, tanpa memberi penjelasan rinci.

Berbicara di atas Air Force One, Trump kembali menegaskan: “Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya.”

Obsesi terhadap Greenland berakar jauh sebelum era Trump. Pulau itu ditemukan pada tahun 982 oleh Viking Erik the Red dan sejak abad ke-10 mulai dijajah bangsa Skandinavia. Setelah berabad-abad diperebutkan Denmark dan Norwegia, Greenland secara resmi berada di bawah kendali Denmark melalui Perjanjian Kiel 1814.

Amerika Serikat mulai memandang Greenland sebagai bagian dari lingkup strategisnya sejak Doktrin Monroe awal abad ke-19. “Dari perspektif AS, Greenland adalah bagian dari Amerika Utara,” kata Mikaa Blugeon-Mered, peneliti geopolitik Arktik, kepada France 24.

Upaya AS untuk mencaplok Greenland bukan isapan jempol. Pada 1867, Washington sempat mencoba membeli Greenland dan Islandia—upaya yang ditolak Denmark. AS kemudian beralih membeli Alaska dari Rusia.

Dari Perang Dunia ke Perang Dingin

Selama Perang Dunia II, ketika Denmark diduduki Nazi Jerman, Amerika Serikat menandatangani perjanjian pertahanan dengan duta besar Denmark di Washington, bahkan bertentangan dengan instruksi pemerintah Denmark di pengasingan. Kesepakatan itu memungkinkan pengerahan pasukan AS ke Greenland, menjadikannya protektorat de facto Amerika.

Beberapa pangkalan militer dibangun, termasuk Pituffik Space Base (dulu Pangkalan Udara Thule), yang hingga kini menjadi elemen vital sistem peringatan dini rudal AS.

Pada 1946, Presiden Harry Truman kembali mencoba membeli Greenland seharga US$100 juta. Denmark kembali menolak.

“Jika terjadi pertukaran rudal balistik antarbenua, lintasan terpendek menuju AS akan melewati Arktik. Itulah sebabnya pangkalan ini dibangun—dan masih relevan hingga hari ini,” ujar Blugeon-Mered, penulis Les mondes polaires.

Menurut Blugeon-Mered, pernyataan Trump tidak bisa dianggap omong kosong. “Ini bukan sekadar ide real estat. Ini menyangkut kepentingan politik, strategis, dan sumber daya,” katanya.

Pemanasan global telah membuka jalur pelayaran Arktik yang sebelumnya tertutup es, mempersingkat rute perdagangan global. Trump berulang kali menyebut kehadiran kapal Rusia dan China di kawasan tersebut sebagai ancaman langsung.

Wilayah Greenland seluas dua juta kilometer persegi dan 85 persen tertutup es, juga menyimpan cadangan mineral besar, termasuk unsur tanah jarang yang krusial bagi teknologi modern, serta potensi minyak dan gas.

“Menurut Survei Geologi AS, Greenland bisa memiliki cadangan hidrokarbon setara 31 miliar barel minyak,” kata Blugeon-Mered. Namun ia menekankan, hingga kini eksploitasi komersial masih sangat sulit.

Di tengah tarik-menarik kekuatan global, Greenland berulang kali menegaskan sikapnya: tidak untuk dijual. Jajak pendapat Januari 2025 menunjukkan 85 persen warga Greenland menentang aneksasi oleh AS, dan hanya 6 persen yang mendukung.

“Pertempuran geo-ekonomi telah berubah menjadi pertarungan geopolitik,” kata Blugeon-Mered. “Dan Greenland berada tepat di tengahnya.” (ren)