Putin Absen di Paris, Masa Depan Pengamanan Ukraina Pascagencatan Senjata Dipertanyakan
Ketidakhadiran Vladimir Putin dalam pertemuan Paris memicu pertanyaan besar soal rencana pengamanan Ukraina pasca-gencatan senjata, meski Eropa dan AS menegaskan dukungan.

HALLONEWS.COM-Pertemuan para pemimpin Barat di Paris kembali menegaskan dukungan bagi Ukraina menjelang kemungkinan gencatan senjata. Inggris dan Prancis menyatakan kesiapan untuk mengirim pasukan multinasional guna membantu menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi lanjutan.
Namun di balik pernyataan persatuan tersebut, satu fakta krusial menonjol: ketidakhadiran Presiden Rusia Vladimir Putin, aktor utama dalam konflik yang ingin diakhiri.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Eropa memiliki tanggung jawab untuk menjamin keamanan Ukraina setelah gencatan senjata tercapai.
“Kita harus memastikan bahwa Ukraina tidak kembali menjadi sasaran agresi. Keamanan pascaperang harus kredibel dan berkelanjutan,” ujar Macron dalam konferensi pers di Paris, Rabu (7/1/2026).
Namun, sejumlah diplomat menilai bahwa tanpa keterlibatan Rusia, rencana tersebut masih menyisakan banyak ketidakpastian.
AS Hadir, Rusia Tetap di Luar Meja
Amerika Serikat tetap dipandang sebagai faktor penentu dalam setiap skema pengamanan Ukraina. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa dukungan transatlantik tetap menjadi kunci.
“Tidak boleh ada celah yang bisa dimanfaatkan Rusia untuk kembali menyerang. Dukungan Amerika Serikat sangat penting untuk memastikan pencegahan yang efektif,” kata Starmer.
Meski demikian, nada bicara Presiden AS Donald Trump yang kerap berubah membuat sebagian sekutu Eropa berhitung dengan hati-hati. Upaya menampilkan kesatuan terlihat dari kehadiran mendadak Jared Kushner dan Steve Witkoff dalam konferensi pers pasca-pertemuan.
Witkoff menyebut para pemimpin Eropa sebagai “kolega” dan memuji Starmer sebagai sosok yang “luar biasa”, sebuah bahasa yang dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Washington masih berada di sisi Eropa.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyambut hasil pertemuan Paris sebagai sinyal kuat bahwa negaranya tidak sendirian.
“Ukraina membutuhkan jaminan keamanan yang nyata, bukan janji kosong. Dukungan Eropa dan Amerika Serikat sangat penting bagi masa depan kami,” ujar Zelensky.
Namun Zelensky juga menegaskan bahwa perdamaian sejati hanya bisa dicapai jika Rusia menghentikan agresinya dan menghormati kedaulatan Ukraina.
Pertanyaan Besar untuk Kremlin
Ketidakhadiran Putin di Paris memunculkan sejumlah pertanyaan mendasar. Apakah Moskow siap menerima kehadiran pasukan negara-negara NATO di Ukraina sebagai bagian dari pengamanan pascaperang? Apakah Rusia bersedia menarik pasukannya dari sebagian atau seluruh wilayah Donbas?
Seorang diplomat Eropa senior, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa tanpa sinyal kompromi dari Kremlin, “semua rencana ini berisiko menjadi kerangka di atas kertas.”
“Paris menunjukkan persatuan Barat, tetapi bukan keputusan akhir. Tanpa Rusia, tidak ada perdamaian yang bisa dipaksakan,” ujarnya.
Pertemuan Paris memperlihatkan upaya serius Eropa dan Amerika Serikat untuk menyiapkan pengamanan Ukraina pasca-gencatan senjata. Namun absennya Vladimir Putin menegaskan keterbatasan diplomasi tanpa keterlibatan pihak utama konflik.
Selama Moskow belum bersedia duduk di meja perundingan dan memberikan konsesi atas tuntutan maksimalisnya, masa depan perdamaian Ukraina tetap diliputi ketidakpastian, meski komitmen Barat kian menguat. (ren)
