Inggris–Prancis Siap Kirim Pasukan ke Ukraina jika Kesepakatan Damai dengan Rusia Tercapai
Inggris dan Prancis menandatangani deklarasi niat untuk mengirim pasukan ke Ukraina pascaperdamaian. Kesepakatan dicapai dalam KTT Koalisi Sukarelawan di Paris bersama AS dan Ukraina.

HALLONEWS.COM-Inggris dan Prancis menandatangani deklarasi bersama yang membuka jalan bagi pengerahan pasukan multinasional ke Ukraina apabila kesepakatan damai dengan Rusia tercapai. Langkah ini dimaksudkan untuk menjamin keamanan Ukraina sekaligus mencegah agresi militer lanjutan.
Deklarasi tersebut disepakati dalam pertemuan tingkat tinggi bertajuk Koalisi Para Pihak yang Bersedia (Coalition of the Willing) yang digelar di Paris pada Selasa (6/1/2026) sore waktu setempat, dipimpin oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Dalam pernyataan bersama, kedua negara menyebutkan bahwa “pasukan multinasional untuk Ukraina” akan dikerahkan guna memperkuat jaminan keamanan pascaperdamaian, mendukung stabilitas jangka panjang, serta memberi ruang bagi militer Ukraina untuk membangun kembali kekuatannya.
Kerangka Hukum Pengerahan Pasukan
Keir Starmer menegaskan bahwa deklarasi ini menciptakan kerangka hukum dan operasional yang memungkinkan pasukan Inggris dan Prancis beroperasi di Ukraina setelah gencatan senjata diberlakukan.
“Kami telah mengadakan pertemuan yang sangat konstruktif. Tujuan Koalisi Sukarelawan adalah membantu mewujudkan perdamaian yang langgeng dan bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk menjamin keamanan Ukraina dalam jangka panjang,” ujar Starmer dalam konferensi pers bersama.
Ia menambahkan bahwa Inggris akan berpartisipasi dalam pemantauan dan verifikasi gencatan senjata yang dipimpin Amerika Serikat, menyediakan dukungan persenjataan jangka panjang bagi Ukraina, serta mendorong komitmen keamanan yang mengikat jika Rusia kembali melancarkan serangan.
Selain pengerahan pasukan darat, deklarasi tersebut juga mencakup perlindungan wilayah udara dan laut Ukraina, serta rencana pendirian pusat militer di dalam negeri Ukraina guna mempercepat distribusi dan pengerahan peralatan pertahanan.
Pertemuan di Paris itu turut dihadiri Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff, serta Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump. Sejumlah pemimpin Eropa lainnya juga ikut ambil bagian.
Deklarasi bersama tersebut diumumkan secara resmi oleh Macron, Zelenskyy, dan Starmer dalam konferensi pers terpisah setelah pertemuan berakhir.
Zelenskyy: Deklarasi Sangat Konkret
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah nyata menuju perdamaian.
“Ini adalah deklarasi yang sangat konkret. Ini menunjukkan kesiapan koalisi dan negara-negara Eropa untuk bekerja demi perdamaian,” ujar Zelenskyy.
Ia menambahkan bahwa Ukraina telah mengetahui secara rinci negara-negara yang akan terlibat dalam pengerahan pasukan, termasuk kontribusi masing-masing. Namun, ia mengakui masih ada sejumlah isu yang belum tuntas dalam rencana perdamaian 20 poin yang direvisi, terutama terkait persoalan wilayah.
Tekanan terhadap Rusia akan Terus Ditingkatkan
Starmer menegaskan bahwa peluang tercapainya perdamaian sangat bergantung pada kesediaan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk berkompromi.
“Kita harus jujur. Terlepas dari semua pernyataan Rusia, Putin belum menunjukkan bahwa ia siap untuk perdamaian,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Inggris dan sekutunya akan terus meningkatkan tekanan terhadap Moskow hingga Rusia bersedia datang ke meja perundingan dengan itikad baik.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menambahkan bahwa KTT tersebut membahas “jaminan keamanan yang kuat” bersama perwakilan Amerika Serikat, sebagai bagian dari arsitektur perdamaian Eropa pascaperang.
Sementara itu, Steve Witkoff mengatakan bahwa sebagian besar protokol keamanan telah disepakati dan pembicaraan lanjutan dengan delegasi Ukraina akan terus dilakukan.
“Kami di sini untuk menengahi dan membantu proses perdamaian. Presiden Trump sangat yakin bahwa pembunuhan dan pembantaian ini harus dihentikan,” ujarnya.
Jared Kushner menyebut deklarasi Inggris–Prancis itu sebagai “tonggak sejarah yang sangat besar” dalam upaya mengakhiri perang di Ukraina. (ren)
