Pdt Margie Ririhena de-Wanna Apresiasi Pesan “Persatuan” Presiden Prabowo di Natal Nasional
Pdt. Margie Ririhena de-Wanna mengapresiasi pesan persatuan Presiden Prabowo Subianto dalam Natal Nasional 2025 yang mengajak masyarakat menjaga solidaritas dan kasih.

HALLONEWS.COM – Pesan Natal Nasional 2025 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam perayaan Natal Nasional di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (5/12/2026) malam, mendapat apresiasi dari Pendeta Dr. Margie Ririhena de-Wanna.
Ketua Majelis Jemaat (KMJ) Gereja Protestan di Indonesia Barat (GPIB) Zebaoth Bogor tersebut menilai pesan Natal Presiden Prabowo mengandung makna persatuan yang sangat kuat di tengah kondisi Indonesia yang sedang menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah.
Menurut Margie, pesan Presiden sejatinya mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga soliditas dan solidaritas sebagai satu bangsa, dengan menumbuhkan sikap saling mengasihi, memaafkan, dan mengampuni.
“Pesan Natal Nasional Bapak Presiden sangat kuat. Apabila ada kesalahan yang dilakukan orang lain, maka maafkanlah. Presiden juga mengajak masyarakat untuk menghentikan penyebaran berita bohong atau hoaks di mana pun,” ujar Pdt. Margie, Selasa (6/1/2026).
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga solidaritas sebagai wujud kebersamaan dengan pemerintah dan seluruh pihak yang sedang bekerja keras mengatasi berbagai persoalan bangsa.
“Mari sebagai masyarakat Indonesia, kita belajar menjaga soliditas dan solidaritas,” tegasnya.
Ketua Musyawarah Pelayanan (Mupel) GPIB Jawa Barat 2 ini menilai ajakan Presiden Prabowo tentang persatuan di tengah maraknya kebencian, kemarahan, dan fitnah—baik di ruang nyata maupun media sosial—merupakan seruan yang sangat relevan dan tepat.
Ia secara khusus mengapresiasi ketika Presiden Prabowo mengutip ayat Alkitab, “Apabila seseorang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu.” Menurutnya, ayat tersebut memiliki makna mendalam tentang persaudaraan dan semangat membangun bangsa.
“Pilihan ayat tersebut sangat tepat untuk memaknai persaudaraan sebagai satu bangsa yang sedang membangun,” ujarnya.
Pdt. Margie juga menyoroti Tema Natal PGI dan KWI tahun 2025, yakni “Natal Menyelamatkan Keluarga”, yang dinilainya sangat relevan untuk dimaknai secara lebih luas. Ia menjelaskan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada keluarga inti, tetapi juga mencakup komunitas yang lebih besar.
Dalam tradisi Perjanjian Baru, kata Margie, keluarga tidak semata-mata merujuk pada hubungan biologis, melainkan juga pada komunitas orang-orang yang percaya dan mengikuti Yesus Kristus.
“Dalam Markus 3:34–35, Yesus mengatakan bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara, ibu, dan saudara-Ku,” ujarnya mengutip ayat Alkitab.
Ia menegaskan bahwa pesan firman Tuhan tersebut menunjukkan konsep keluarga yang lebih luas, meliputi semua orang yang hidup dalam iman dan kasih.
Dalam konteks Indonesia, Margie menjelaskan bahwa keluarga umumnya dipahami sebagai unit sosial yang terikat oleh hubungan darah, pernikahan, atau adopsi. Namun, dalam budaya Indonesia, keluarga juga bermakna sebagai relasi yang erat, saling mendukung, menjaga, dan melindungi satu sama lain.
“Tema Natal PGI dan KWI tahun ini mendorong kita memaknai karya penyelamatan Sang Terang Natal, baik bagi keluarga dalam lingkup kecil maupun keluarga besar sebagai bangsa Indonesia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pdt. Margie Ririhena de-Wanna menegaskan bahwa pesan persatuan Presiden Prabowo dalam perayaan Natal Nasional merupakan pengingat untuk hidup dalam kasih, saling memaafkan, dan saling melengkapi.
“Tanpa kasih dan sikap saling memaafkan, kita akan sulit menghadapi berbagai tantangan yang terjadi di akhir tahun 2025 dan memasuki tahun baru 2026,” pungkasnya.
(yopy)
