Terungkap! Ini Alasan Amorim Dipecat Manchester United Meski Punya Peluang Main di Liga Champions
Ruben Amorim dipecat Manchester United meski masih di jalur Liga Champions. Ketegangan dengan manajemen, emosi, dan taktik 3-4-3 jadi alasan utama.

HALLONEWS.COM – Pemecatan Ruben Amorim dari kursi pelatih Manchester United mengejutkan banyak pihak.
Pasalnya, secara klasemen, Setan Merah masih berada di posisi keenam dan disebut-sebut berpeluang finis di zona Liga Champions.
Namun di balik angka dan optimisme publik, tersimpan konflik mendalam yang akhirnya membuat kebersamaan Amorim dan Manchester United tak bisa diselamatkan.
Amorim, yang baru 14 bulan menangani United, secara terbuka mengakui dirinya frustrasi. Mantan pelatih Sporting CP itu merasa tidak mendapatkan dukungan penuh dari jajaran manajemen, khususnya dalam hal kebijakan transfer pemain.
Dia menilai skuad United membutuhkan setidaknya satu atau dua pemain berpengalaman, terutama striker yang sudah teruji di Premier League.
Isyarat kekecewaan itu sudah terlihat sebelum Natal. Amorim bahkan menyiratkan bahwa sistem favoritnya, formasi 3-4-3, mustahil dijalankan secara ideal tanpa investasi besar dan waktu yang cukup.
“Saya mulai memahami bahwa itu tidak akan terjadi,” ujar Amorim kala itu, merujuk pada minimnya dukungan di bursa transfer.
Situasi semakin rumit ketika Amorim menunjukkan ketidakkonsistenan taktik. Ia sempat meninggalkan formasi tiga bek dan memakai empat bek saat mengalahkan Newcastle pada Boxing Day.
Namun keputusan itu tidak bertahan lama. Dalam laga berikutnya melawan Wolves, Amorim kembali ke formasi lama, yang berujung hasil imbang mengecewakan 1-1.
Ketegangan Memuncak
Dalam rapat dengan manajemen MU, ketegangan justru memuncak. Menurut laporan internal, seperti dikutip SkySport, Senin (5/1/2026), Amorim dijadwalkan akan bertemu dengan direktur sepak bola Jason Wilcox untuk membahas pendekatan taktik tim.
Namun respons Amorim dalam pertemuan tersebut dinilai sangat negatif dan emosional. Penolakannya untuk beradaptasi dan mengembangkan sistem selain 3-4-3 membuat manajemen mulai kehilangan kepercayaan.
Puncaknya terjadi pada Senin (5/1/2026) pagi, ketika Amorim bertemu dengan Wilcox dan CEO Manchester United, Omar Berrada. Tak lama setelah pertemuan tersebut, klub mengumumkan pemecatan Amorim.
Dalam pernyataan resminya, United menyebut keputusan itu diambil demi kepentingan tim.
“Kepemimpinan klub dengan berat hati mengambil keputusan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan perubahan agar tim memiliki kesempatan terbaik finis setinggi mungkin di Premier League,” tulis pernyataan klub.
Faktor performa yang buruk juga tak bisa diabaikan. Statistik mencatat Manchester United di bawah kepemimpinan Amorim memiliki persentase poin terburuk di era Premier League .
Dari 63 pertandingan di semua kompetisi, ia hanya meraih 24 kemenangan atau 38,1 persen. Di Liga Inggris, United bahkan kalah lebih banyak daripada menang di bawah kepemimpinannya.
Situasi itu membuat posisi Amorim dinilai tak dapat lagi dipertahankan, meski ia optimistis performa tim akan membaik setelah pemain kembali dari Piala Afrika.
Untuk sementara, kursi pelatih akan diisi oleh Darren Fletcher. Mantan gelandang United itu akan memimpin tim saat menghadapi Burnley, sebelum kembali ke Old Trafford untuk laga Piala FA melawan Brighton.
Pemecatan Amorim menjadi bukti bahwa di Manchester United, bukan hanya hasil di papan klasemen yang menentukan nasib pelatih, melainkan juga kemampuan beradaptasi, stabilitas emosi, dan keselarasan visi dengan manajemen klub.(wib)
