China Desak AS Bebaskan Maduro, Trump Isyaratkan Operasi Militer ke Kolombia
China meminta AS membebaskan Nicolas Maduro saat Donald Trump mengancam operasi militer di Kolombia dan Amerika Latin, memicu reaksi global.

HALLONEWS.COM— Pemerintah Tiongkok secara resmi meminta Amerika Serikat membebaskan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, beberapa jam sebelum ia dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan federal New York, Senin malam waktu setempat.
Permintaan Beijing itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan perluasan operasi militer Amerika Serikat di Amerika Latin, termasuk terhadap Kolombia.
Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa penangkapan Maduro oleh AS melanggar hukum internasional dan prinsip kedaulatan negara, serta mendesak Washington menghentikan apa yang disebutnya sebagai “intervensi sepihak”.
China merupakan salah satu sekutu utama Venezuela dan telah memberikan dukungan ekonomi signifikan sejak sanksi AS dan Uni Eropa diberlakukan pada 2017. Pada 2024, perusahaan-perusahaan China tercatat membeli barang dari Venezuela senilai hampir £1,2 miliar, terutama di sektor energi dan bahan mentah.
Trump Ancam Operasi Lanjutan
Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One saat terbang dari Mar-a-Lago menuju Washington DC, Trump memperingatkan pemimpin sementara Venezuela Delcy Rodríguez bahwa ia bisa membayar “harga yang sangat mahal” jika tidak memenuhi tuntutan Amerika Serikat.
“Serangan lebih lanjut mungkin saja dilakukan,” kata Trump, tanpa merinci bentuk operasi tersebut.
Trump juga menyebut Kolombia sebagai kemungkinan target berikutnya. Dalam pernyataannya, ia menyebut negara itu “sangat sakit” dan dipimpin oleh “orang sakit jiwa yang menjual kokain ke Amerika Serikat”.
“Kolombia juga sangat sakit… dan dia tidak akan berkuasa lama lagi,” ujar Trump.
Reaksi Kolombia dan Amerika Latin
Presiden Kolombia Gustavo Petro menanggapi keras pernyataan Trump. Dalam serangkaian unggahan daring, Petro mengatakan akan menanggapi setelah memastikan terjemahan pernyataan Trump akurat.
Dalam unggahan terpisah, Petro menyerukan mobilisasi regional. “Seluruh rakyat Venezuela, Kolombia, dan Amerika Latin harus turun ke jalan,” tulisnya.
Ancaman Trump juga memicu kekhawatiran luas di kawasan Amerika Latin, yang selama ini sensitif terhadap intervensi militer AS.
Penahanan Maduro di New York
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditahan otoritas AS sejak Sabtu lalu dan menghadapi tuduhan terorisme narkoba. Sidang perdananya dijadwalkan berlangsung di Pengadilan Federal New York.
Ia ditahan di Metropolitan Detention Center Brooklyn, fasilitas keamanan tinggi yang
sebelumnya menahan sejumlah figur terkenal, termasuk Ghislaine Maxwell dan Sam Bankman-Fried. Otoritas penjara AS menerapkan apa yang disebut sebagai “langkah-langkah administratif khusus”, yang mencakup isolasi ketat dan pengawasan tinggi.
Inggris dan Sekutu Barat Bereaksi
Mantan Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengecam sikap diam sejumlah pejabat Barat atas ancaman Trump. Dalam unggahan di X, Wallace menyerukan solidaritas dengan Denmark dan sekutu NATO lainnya menyusul pernyataan Trump terkait Greenland.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Inggris Mike Tapp mengatakan London belum memutuskan apakah tindakan AS di Venezuela melanggar hukum internasional, seraya menegaskan bahwa Washington harus menjelaskan dasar hukum operasinya.
Mantan Kepala Dinas Diplomatik Inggris Simon Fraser mengatakan kepada Sky News bahwa AS kini mencoba mengendalikan Venezuela dari “jarak jauh”.
“Trump ingin mendominasi belahan bumi dan mendapatkan kendali atas sumber daya. Dua hal itu saling terkait dalam kasus Venezuela,” ujar Fraser.
Sementara itu, Profesor Julia Buxton dari Universitas Liverpool John Moores menilai strategi Trump bukan perubahan rezim penuh, melainkan “pemenggalan kepemimpinan”.
“Jika tidak ditangani cepat, situasi ini bisa runtuh dengan sangat cepat,” katanya.
Demonstrasi Global dan Isu Greenland
Di luar Amerika Latin, demonstrasi menentang kebijakan AS juga terjadi di Manila, Filipina, di mana para aktivis berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar AS sambil membawa poster bertuliskan “Akhiri agresi imperialis AS”.
Ketegangan semakin meluas setelah Trump mengatakan kepada The Atlantic bahwa AS “mutlak membutuhkan” Greenland. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menolak keras pernyataan tersebut dan mendesak AS menghentikan ancaman terhadap sekutu. (ren)
