Home - Ekonomi & Bisnis - K-Content dan C-Content Jadi Andalan Baru Kerja Sama Korea–China, Presiden Lee Soroti Peran AI

K-Content dan C-Content Jadi Andalan Baru Kerja Sama Korea–China, Presiden Lee Soroti Peran AI

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyebut K-Content, C-Content, dan AI sebagai pilar baru kerja sama ekonomi Korea–China dalam forum bisnis di Beijing.

Senin, 5 Januari 2026 - 15:05 WIB
K-Content dan C-Content Jadi Andalan Baru Kerja Sama Korea–China, Presiden Lee Soroti Peran AI
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyampaikan pidato pembukaan pada Forum Bisnis Korea–China di Wisma Negara Diaoyutai, Beijing, Senin (5/1/2026). Foto: Yonhap for Hallonews

HALLONEWS.COM—Produk budaya populer Korea Selatan (K-Content dan Tiongkok (C-Content), kini diproyeksikan menjadi pilar baru kerja sama ekonomi bilateral, seiring upaya kedua negara menghidupkan kembali hubungan dagang yang stagnan dalam beberapa tahun terakhir.

Hal tersebut disampaikan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung saat membuka Forum Bisnis Korea–China di Wisma Negara Diaoyutai, Beijing, Senin (5/1/2026). Forum ini menjadi pertemuan bisnis tingkat tinggi pertama antara Korea dan Tiongkok sejak 2017.

“Barang konsumsi seperti produk kecantikan dan makanan, serta konten budaya—film, musik, gim, dan olahraga—dapat menjadi terobosan baru bagi kerja sama ekonomi kedua negara,” kata Lee di hadapan sekitar 600 delegasi bisnis dari Korea dan Tiongkok.

K-Content merujuk pada produk industri budaya Korea Selatan, termasuk K-pop, drama dan film Korea, gim digital, serta konten hiburan daring. Dalam dua dekade terakhir, K-Content berkembang menjadi salah satu komoditas ekspor non-manufaktur utama Korea, dengan jangkauan global yang luas melalui platform internasional.

Sementara itu, C-Content adalah produk budaya populer Tiongkok, meliputi film, serial televisi, animasi, gim daring, e-sports, dan konten digital berbasis platform domestik. Industri ini bertumpu pada pasar dalam negeri yang besar dan dukungan infrastruktur teknologi serta modal yang kuat.

Lee menilai kedua sektor tersebut memiliki potensi untuk melengkapi struktur perdagangan tradisional yang selama ini didominasi manufaktur dan industri berat.

AI Disebut Kunci Kerja Sama Masa Depan

Selain konten budaya, Lee juga menekankan pentingnya kecerdasan buatan (AI) sebagai bidang kerja sama strategis baru.

“AI akan memperluas dan memperdalam kolaborasi di seluruh industri manufaktur dan jasa,” ujar Lee.

Menurutnya, perubahan teknologi global dan ketidakpastian rantai pasok menuntut Korea dan Tiongkok untuk tidak lagi hanya mengandalkan pola kerja sama lama.

Ia juga mengingatkan bahwa lingkungan perdagangan global saat ini jauh lebih kompleks dibanding satu dekade lalu. “Jika kita hanya mengandalkan momentum masa lalu, kita berisiko melewatkan titik balik penting,” katanya.

Beijing Sambut Seruan Kerja Sama

Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng, yang membidangi kebijakan ekonomi dan perdagangan, menyambut positif dorongan tersebut. Ia mengatakan perusahaan dari kedua negara akan terus memperdalam pertukaran dan membuka potensi kerja sama baru.

“Sejak terjalinnya hubungan diplomatik pada 1992, Tiongkok dan Korea Selatan telah mempertahankan kemitraan kerja sama strategis yang stabil dan mencapai kemakmuran bersama melalui pertukaran di berbagai bidang,” kata He dalam forum tersebut.

Menurut He, hubungan bilateral kedua negara telah berkembang seiring perubahan zaman dan berkontribusi pada stabilitas serta pembangunan ekonomi global.

Forum bisnis ini dihadiri sejumlah tokoh industri terkemuka. Dari Korea Selatan hadir, antara lain, Ketua Eksekutif Samsung Electronics Lee Jae-yong, Ketua Hyundai Motor Group Chung Euisun, Ketua SK Group Chey Tae-won, serta pimpinan LG, POSCO, CJ Group, dan Krafton.

Dari pihak Tiongkok, hadir Ketua Dewan Promosi Perdagangan Internasional Tiongkok Ren Hongbin, Ketua Sinopec Hou Qijun, Ketua CATL Zeng Yuqun, serta pimpinan sejumlah perusahaan energi, perbankan, dan teknologi.

Forum ini digelar di tengah upaya kedua negara untuk mendiversifikasi kerja sama ekonomi, menyusul perlambatan perdagangan bilateral yang selama beberapa tahun terakhir bertahan di kisaran US$300 miliar per tahun.

Pemerintah Korea Selatan berharap sektor ekonomi kreatif dan teknologi baru, termasuk AI, dapat membuka sumber pertumbuhan baru di luar sektor manufaktur konvensional yang selama ini menjadi tulang punggung hubungan dagang Korea–China. (ren)