Trump Kembali Ancam Pejabat Presiden Venezuela, Isyarat Perubahan Rezim dan Operasi Militer Lanjutan?
Presiden AS Donald Trump kembali mengancam penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodriguez pasca-penangkapan Nicolas Maduro. Trump mengisyaratkan perubahan rezim dan operasi militer lanjutan di Venezuela.

HALLONEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodriguez.
Trump menyatakan akan ada “konsekuensi besar” jika Delcy Rodriguez tak mengikuti langkah yang dianggap benar oleh Washington pasca-penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Dalam wawancara seperti dikutip The Atlantic, Minggu (4/1), Trump menegaskan bahwa Rodriguez akan menghadapi risiko lebih besar dibanding Maduro apabila menolak kerja sama dengan Amerika Serikat.
“Jika (Delcy Rodriguez) tak melakukan hal yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih besar daripada Maduro,” ujar Trump.
Pasca-penangkapan Maduro, Mahkamah Agung Venezuela telah menginstruksikan Wakil Presiden Delcy Rodriguez segera menjabat sebagai presiden guna menjaga stabilitas pemerintahan.
Pujian Berubah Jadi Ancaman
Sikap Trump terhadap Rodriguez menunjukkan perubahan drastis. Beberapa jam setelah operasi militer di Caracas, Trump sempat memuji Rodriguez dan mengklaim bahwa ia bersedia bekerja sama dengan Washington.
“Pada dasarnya dia bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali hebat,” kata Trump dalam konferensi pers usai operasi militer.
Namun Rodriguez segera menepis pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa Venezuela tak akan tunduk pada tekanan asing.
“Kami tak akan pernah lagi menjadi daerah koloni,” tegas Rodriguez, seraya menyatakan komitmen mempertahankan sumber daya alam nasional dan menuntut kembalinya Maduro.
Trump kemudian menegaskan tidak akan menoleransi penolakan keras Rodriguez terhadap intervensi bersenjata AS yang telah berujung pada penangkapan Maduro.
Trump juga secara terbuka mengisyaratkan kemungkinan gelombang kedua operasi militer di Venezuela.
“Pembangunan kembali di sana dan perubahan rezim, apa pun istilahnya, itu lebih baik daripada kondisi yang ada sekarang. Tidak mungkin lebih buruk lagi,” ujar Trump.
Pernyataan ini dinilai kontras dengan sikap Trump di masa lalu yang menentang intervensi asing dan praktik “nation building”. Trump berdalih bahwa intervensi di Venezuela berbeda dengan Irak atau Afghanistan.
“Saya tidak melakukannya di Irak. Itu Bush. Kita seharusnya tidak pernah masuk ke Irak,” kata Trump, merujuk pada mantan Presiden George W. Bush.
Sebelumnya, Trump juga mengumumkan bahwa operasi militer AS di Venezuela pada Sabtu (3/1) berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Trump bahkan menyatakan Amerika Serikat siap mengendalikan sementara Venezuela, termasuk pengerahan pasukan tambahan jika diperlukan.
Trump menuding Maduro mempertahankan kekuasaan secara ilegal melalui kecurangan pemilu dan mengawasi pengiriman narkoba ke Amerika Serikat. Tuduhan tersebut dibantah keras oleh Maduro dan pemerintah Venezuela.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro dijadwalkan menghadiri sidang perdana di Pengadilan Federal New York, Senin (5/1) pukul 12.00 waktu setempat atau 00.00 WIB. Istrinya, Cilia Flores, juga akan dihadirkan dalam sidang yang sama.
Keduanya saat ini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn, dan menghadapi dakwaan federal AS terkait dugaan perdagangan narkoba serta kerja sama dengan kelompok yang ditetapkan sebagai organisasi teroris.
Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut, sementara pejabat di Caracas menyerukan pembebasan segera terhadap pasangan tersebut.(wib)
