Menunggu Nama di Tengah Abu: Sulitnya Identifikasi Korban Kebakaran Crans-Montana Swiss
Kebakaran Crans-Montana menewaskan 40 orang. Otoritas Swiss mengungkap proses identifikasi korban sangat sulit akibat parahnya kebakaran, membuat keluarga menunggu dalam ketidakpastian.

HALLONEWS.COM — Di balik angka korban tewas kebakaran resor ski Crans-Montana, Swiss, tersimpan proses memilukan yang jarang terlihat public yaitu identifikasi jenazah yang sangat sulit akibat parahnya kebakaran. Api yang melalap bar Le Constellation pada dini hari perayaan Tahun Baru membuat banyak keluarga harus menunggu dalam ketidakpastian berhari-hari tanpa kepastian apakah orang tercinta masih hidup atau termasuk di antara yang gugur.
Otoritas Swiss menyatakan seluruh 40 korban tewas kini telah teridentifikasi, namun prosesnya berjalan lambat dan penuh tantangan. Tingkat kerusakan akibat panas ekstrem membuat pengenalan visual nyaris mustahil, sehingga penyidik mengandalkan uji forensik dan DNA untuk memastikan identitas.
Menunggu dalam Ketidakpastian
Di antara korban adalah Charlotte Niddam (15), mantan murid Immanuel College di Inggris. Keluarganya mengumumkan kepergian Charlotte melalui media sosial, menggambarkan duka mendalam setelah hari-hari menanti kabar di tengah proses identifikasi yang rumit.
“Dengan kesedihan yang mendalam kami mengumumkan meninggalnya putri dan saudara perempuan kami tercinta, Charlotte,” tulis keluarga, seraya menyampaikan bahwa pemakaman kemungkinan akan digelar di Paris seperti dikutip Sky News, Senin (5/1/2026).
Ungkapan belasungkawa juga datang dari Yvette Cooper, yang menyebut kabar tersebut sebagai kehilangan yang menghancurkan bagi keluarga dan sahabat korban.
Polisi Swiss menyebut sebagian nama korban ke publik setelah konfirmasi resmi, termasuk petinju muda Benjamin Johnson, yang dipuji sebagai pahlawan karena berusaha menolong temannya. Korban lain yang telah diumumkan antara lain Arthur Brodard (16), Tristan Pidoux, Emanuele Galeppini (17), dan Chiara Costanzo (16).
Banyak korban berusia belasan hingga pertengahan 20-an tahun, berasal dari berbagai negara. Polisi mengonfirmasi jenazah telah dipulangkan ke keluarga masing-masing setelah proses identifikasi rampung.
Doa, Pawai Hening, dan Luka yang Sama
Ketika proses identifikasi masih berlangsung, ratusan warga dan keluarga korban berkumpul mengikuti misa di Chapelle Saint-Christophe. Pawai hening menuju lokasi kebakaran menjadi ruang duka kolektif, tempat keluarga yang masih menunggu kepastian saling menguatkan.
Pendeta Gilles Cavin menyebut masa menunggu itu sebagai “ketidakpastian yang mengerikan,” terutama bagi keluarga yang belum tahu apakah orang tercinta selamat atau termasuk di antara yang meninggal.
Penyelidikan Berlanjut
Selain identifikasi, penyelidikan kriminal terus berjalan. Aparat menyoroti penggunaan kembang api sampanye di dalam bar, material busa langit-langit, serta lokasi dan kualitas pintu keluar darurat. Dua manajer bar Le Constellation kini berstatus terperiksa dalam penyelidikan tersebut.
Tragedi Crans-Montana tidak hanya meninggalkan daftar nama korban, tetapi juga kisah panjang tentang menunggu, berharap, dan akhirnya menerima, sebuah sisi kemanusiaan yang muncul ketika api padam, namun duka masih menyala. (ren)
