Narasi Meme Gedung Putih: Penangkapan Maduro Disulap Jadi Film Aksi Digital
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dikemas pemerintahan Donald Trump sebagai narasi digital bergaya film aksi, lengkap dengan meme, musik perang, dan video dramatis yang menuai pujian serta kritik.

HALLONEWS.COM — Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat tidak hanya mengguncang geopolitik kawasan Amerika Latin, tetapi juga memantik kontroversi baru di ruang digital global.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengemas operasi tersebut melalui rangkaian unggahan media sosial bergaya film aksi, lengkap dengan musik ikonik, bahasa meme internet, dan visual dramatis.
Beberapa jam setelah operasi militer berlangsung pada Sabtu, akun resmi Gedung Putih serta sejumlah pejabat tinggi AS membanjiri media sosial dengan narasi kemenangan. Salah satu unggahan paling disorot menggunakan istilah slang internet “FOFA” (f** around and find out*), frasa populer yang bernada ancaman konsekuensi keras bagi pihak yang menantang Washington.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth turut memperkuat pesan tersebut. Ia menyatakan bahwa Maduro “memiliki kesempatan—hingga kesempatan itu hilang,” kalimat yang segera viral dan memicu perdebatan luas di kalangan warganet dan pengamat hubungan internasional.
Musik Protes, Visual Perang
Trump sendiri mengunggah video di Truth Social yang menampilkan pesawat militer AS, manuver udara, dan ledakan di sejumlah titik Caracas. Video itu diiringi lagu Fortunate Son dari Creedence Clearwater Revival, lagu legendaris yang identik dengan kritik terhadap Perang Vietnam. Pilihan musik tersebut dinilai ironis, mengingat lagu protes anti-perang itu kini mengiringi visual operasi militer modern.
Video lain yang dibagikan akun Gedung Putih di X dibuka dengan cuplikan lama Maduro yang menantang musuh-musuhnya untuk datang dan menangkapnya di Istana Miraflores. Cuplikan tersebut disambung dengan visual pesawat tempur AS yang lepas landas dan ledakan di udara, disusun secara sinematik dengan musik latar dramatis.
Dalam video yang diedit secara rapi tersebut, turut disertakan potongan konferensi pers hari Minggu yang menampilkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Hegseth, dan Trump. “Jangan bermain-main saat presiden ini menjabat, karena hasilnya tidak akan baik,” kata Rubio.
Departemen Luar Negeri AS juga ikut meramaikan narasi digital dengan membagikan foto Trump disertai pesan singkat bernada peringatan. Sementara itu, klip lain yang diunggah Gedung Putih diiringi lagu rap penuh kata kasar dari The Notorious B.I.G., serta menampilkan potongan visual yang diduga dihasilkan kecerdasan buatan (AI), memperlihatkan Trump berjalan perlahan di tengah personel militer.
Reaksi Publik dan Kritik Politik
Respons publik di media sosial terbelah. Sebagian pengguna memuji pendekatan komunikasi yang dianggap tegas dan modern, bahkan membuat ulang video versi AI mereka sendiri untuk merayakan operasi tersebut. Namun, kritik juga mengalir deras.
Sejumlah pengguna menyindir unggahan “FOFA” Gedung Putih dengan komentar “Berkas apa?”, merujuk pada dokumen terkait Jeffrey Epstein yang kembali menjadi sorotan. Kritik ini sejalan dengan tudingan dari Partai Demokrat yang menilai narasi penangkapan Maduro berpotensi menjadi pengalihan perhatian dari isu domestik sensitif di Amerika Serikat.
Sindiran lain berbunyi “Maduro, you’re fired,” mengutip jargon populer Trump dari acara realitas The Apprentice, menegaskan bagaimana peristiwa geopolitik serius kini bercampur dengan budaya pop dan meme internet. (ren)
