Sepanjang 2025, BNN Semakin Gencar Memerangi Narkoba Termasuk Tangkap Dewi Astutik di Kamboja
BNN mencatat berbagai capaian penting sepanjang 2025, mulai dari pengungkapan 746 kasus narkoba, penyitaan ton sabu, hingga penangkapan buronan internasional Dewi Astutik di Kamboja sebagai bagian dari komitmen mewujudkan Indonesia Bersinar.

HALLONEWS.COM — Sepanjang tahun 2025, Badan Narkotika Nasional (BNN) terus bekerja keras memerangi peredaran gelap narkoba demi melindungi bangsa Indonesia. BNN memperkuat kolaborasi lintas sektor, memperluas layanan rehabilitasi, membongkar jaringan besar narkotika, serta meluncurkan berbagai program pencegahan berbasis sekolah, desa, dan komunitas. BNN menegaskan bahwa perang melawan narkoba merupakan kerja bersama menuju Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba).
Berbagai tindakan tegas telah dilakukan BNN, antara lain penggagalan penyelundupan dua ton sabu, penguatan program Desa Bersinar, Re-LINK, Ananda Bersinar, hingga peningkatan kerja sama internasional. Seluruh langkah tersebut menjadi bukti nyata komitmen negara dalam melindungi generasi bangsa dari ancaman narkoba.
Komitmen BNN kembali ditegaskan dalam konferensi pers akhir tahun 2025 yang digelar di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Jumat (19/12/2025). Dalam kesempatan tersebut, BNN menegaskan konsistensinya dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) di tengah dinamika ancaman narkoba yang semakin kompleks.
Mengusung semangat War on Drugs for Humanity, BNN memandang perang melawan narkoba sebagai upaya kemanusiaan yang menempatkan perlindungan dan penyelamatan manusia sebagai tujuan utama. Pendekatan ini diwujudkan melalui penindakan tegas terhadap bandar dan jaringan narkoba, disertai pendekatan rehabilitatif bagi penyalahguna dengan tetap menjunjung tinggi prinsip hak asasi manusia.
Sepanjang 2025, BNN bersama aparat penegak hukum berhasil mengungkap 746 kasus tindak pidana narkotika dan prekursor narkotika. Dari pengungkapan tersebut, sebanyak 42 jaringan peredaran terorganisir berhasil dibongkar, terdiri atas 33 jaringan nasional dan sembilan jaringan internasional, dengan total 1.174 tersangka diamankan.
Barang bukti yang disita meliputi sabu seberat 4,01 ton; ganja 2,17 ton; ganja sintetis 2,06 kilogram; ekstasi sebanyak 364.750 butir dan 142 kilogram; serta kokain seberat 4,7 kilogram.
Selain penindakan di hilir, BNN juga memutus rantai produksi narkotika dari hulu melalui pemusnahan ladang ganja, khususnya di Aceh. Selama 2025, BNN memusnahkan ladang ganja seluas 127.800 meter persegi dengan total 224.500 batang tanaman atau setara 109,8 ton.
Dalam upaya memiskinkan jaringan narkoba, BNN mengungkap enam kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan nilai aset yang disita mencapai Rp144,19 miliar. BNN juga berhasil menangkap 16 daftar pencarian orang (DPO) jaringan narkoba, termasuk buronan Interpol Dewi Astutik alias Mami yang ditangkap di Kamboja.
Tahun 2025 juga mencatat capaian bersejarah melalui pengungkapan penyelundupan sekitar dua ton sabu dari Kapal Sea Dragon Tarawa di perairan Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Kasus ini menjadi salah satu pengungkapan terbesar dalam sejarah pemberantasan narkoba di Indonesia. Selain itu, untuk pertama kalinya BNN bersama Polri dan TNI melaksanakan Operasi Bersama Pemberantasan dan Pemulihan Kampung Narkoba secara serentak di 53 titik pada 34 provinsi.
Di bidang pencegahan, BNN memperkuat program Desa Bersinar dan Keluarga Bersinar sebagai benteng utama pencegahan narkoba berbasis komunitas dan keluarga. Sepanjang 2025, sebanyak 214 Desa Bersinar dibina dan 4.280 anggota keluarga terlibat dalam program Keluarga Bersinar. BNN juga mengintegrasikan nilai anti-narkoba ke dalam sektor pendidikan melalui Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) serta meluncurkan gerakan nasional Ananda Bersinar yang menempatkan anak sebagai subjek perlindungan.
Penguatan peran masyarakat tercermin dari peningkatan Indeks Kabupaten/Kota Tanggap Ancaman Narkoba (IKOTAN) dengan nilai nasional 3,23 (kategori tanggap) serta Indeks Kemandirian Partisipasi (IKP) sebesar 3,66 (kategori sangat mandiri). Sepanjang 2025, BNN melaksanakan advokasi kebijakan pada 326 lembaga serta layanan deteksi dini melalui tes urine kepada 197.727 orang.
Di bidang rehabilitasi, BNN mencatat sebanyak 12.713 pecandu direhabilitasi dari total 52.032 penerima layanan pemulihan sepanjang 2025. BNN juga memperkuat standar layanan dengan mendorong pemenuhan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi lembaga rehabilitasi serta mengembangkan inovasi Rehabilitasi Keliling (Re-LINK) dan telerehabilitasi untuk memperluas akses layanan pemulihan.
BNN menegaskan bahwa seluruh capaian tersebut hanya dapat terwujud melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa. Melalui inovasi, sinergi lintas sektor, dan pendekatan kemanusiaan, BNN berkomitmen mewujudkan Indonesia yang bersih dari narkoba, sejalan dengan Asta Cita ke-7 Presiden dan Wakil Presiden. Masyarakat juga diimbau untuk memanfaatkan Call Center 184 sebagai akses informasi, konsultasi, dan pendampingan terkait narkoba.
(GAA)
