Home - Internasional - Sejarah Pandemi Influenza dan Ancaman “Super Flu” yang Kini Trending

Sejarah Pandemi Influenza dan Ancaman “Super Flu” yang Kini Trending

Sejarah pandemi influenza dari Flu Spanyol hingga Flu Babi, serta ancaman “super flu” yang kini trending. Benarkah dunia terancam pandemi baru?

Minggu, 4 Januari 2026 - 7:00 WIB
Sejarah Pandemi Influenza dan Ancaman “Super Flu” yang Kini Trending
ilustrasi orang memakai masker untuk mencegah penularan influenza . (Dok Freepik)

HALLONEWS.COM – Influenza sering dianggap sekadar flu musiman yang umum, tetapi sejarahnya membuktikan bahwa virus ini telah berulang kali memicu krisis global yang mengguncang dunia.

Lebih dari sekadar penyakit biasa, influenza pernah berubah menjadi pandemi besar yang merenggut jutaan nyawa dan mencatatkan babak penting dalam sejarah kesehatan manusia.

1. Pandemi Flu Spanyol (1918–1920)

Pandemi influenza paling mematikan dalam sejarah adalah Flu Spanyol yang terjadi antara tahun 1918 dan 1920.

Virus ini menginfeksi sepertiga populasi dunia dan diperkirakan menyebabkan antara 50 hingga 100 juta kematian, jauh melampaui angka korban Perang Dunia I.

Flu Spanyol menunjukkan betapa cepatnya virus dapat menyebar tanpa sistem kesehatan yang siap siaga pada masa itu.

2. Gelombang Flu Asia (1957) dan Flu Hong Kong (1968)

Setelah Perang Dunia, masyarakat dunia kembali menghadapi pandemi influenza. Pandemi Flu Asia (1957) dan kemudian Flu Hong Kong (1968) diakibatkan oleh mutasi pada virus influenza tipe A.

Masing-masing menyebabkan jutaan infeksi dan kematian, menunjukkan bahwa virus influenza terus berevolusi dan sering muncul dalam bentuk yang berbeda.

3. Flu Babi (H1N1) 2009

Pada 2009, wabah H1N1 yang dikenal sebagai Flu Babi menjadi pandemi lain yang menyebar cepat di seluruh dunia.

Meskipun tingkat kematiannya relatif lebih rendah, infeksinya mencapai ratusan juta orang.

Pandemi ini memperlihatkan bahwa bahkan di era modern, influenza masih menjadi ancaman nyata yang memerlukan respons global yang cepat.

4. Fenomena “Super Flu”

Di luar sejarah masa lalu, dunia kini tengah mengamati fenomena yang disebut “super flu” — sebutan populer untuk varian influenza A (H3N2) subclade K yang sedang meningkat di berbagai negara.

Varian ini tidak sepenuhnya baru, namun penyebarannya yang cepat dan dominan membuatnya jadi sorotan global.

Lonjakan kasus influenza yang populer disebut “super flu” mendominasi musim flu di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia.

Meski istilah “super flu” ramai digunakan, pakar kesehatan internasional menegaskan bahwa kondisi ini belum mengarah pada pandemi baru seperti Covid-19.

Dr. William Schaffner, profesor penyakit menular dari Vanderbilt University Medical Center, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa H3N2 subclade K adalah bagian dari evolusi alami virus influenza.

“Ini bukan virus baru yang tiba-tiba muncul. Ini adalah varian influenza musiman yang lebih mudah menyebar, tetapi tidak terbukti lebih mematikan,” ujar Schaffner dalam wawancara dengan beberapa media AS.

Pandangan serupa disampaikan Dr. Peter Hotez, pakar vaksin dan dekan National School of Tropical Medicine di Baylor College of Medicine, Texas.

Ia menilai lonjakan kasus lebih disebabkan oleh perubahan kecil pada struktur virus yang membuat kekebalan sebelumnya tidak sepenuhnya optimal.

“Kita melihat peningkatan kasus flu yang signifikan, tetapi ini masih berada dalam spektrum influenza musiman. Vaksin tetap efektif untuk mencegah gejala berat dan kematian,” kata Hotez.

Sementara itu, Dr. Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis penanganan Covid-19 dan epidemi influenza di World Health Organization (WHO), mengingatkan agar publik tidak terjebak istilah sensasional.

“Istilah ‘super flu’ bukan terminologi ilmiah. Yang penting adalah pemantauan, vaksinasi, dan perlindungan kelompok rentan,” tegas Van Kerkhove dalam pernyataan WHO.

Terakhir Prof. Sir Andrew Pollard, direktur Oxford Vaccine Group, menyebut peningkatan kasus flu musim ini terjadi lebih awal dari biasanya dan berdampak pada rumah sakit.

“Lonjakan flu H3N2 memberi tekanan nyata pada layanan kesehatan, terutama untuk lansia dan anak-anak. Namun, ini bukan situasi darurat global,” ujarnya. (wib)