Home - Internasional - Ketika Flu Super Buat Dunia Kewalahan: Lebih 80 Negara Tertular, dari Amerika hingga Asia

Ketika Flu Super Buat Dunia Kewalahan: Lebih 80 Negara Tertular, dari Amerika hingga Asia

Flu Super Influenza A (H3N2) subclade K menyebar ke lebih dari 80 negara dari Amerika hingga Asia. Meski tak lebih mematikan, kecepatan penularannya membuat banyak negara kewalahan dan layanan kesehatan tertekan.

Sabtu, 3 Januari 2026 - 13:24 WIB
Ketika Flu Super Buat Dunia Kewalahan: Lebih 80 Negara Tertular, dari Amerika hingga Asia
Ilustrasi seseorang yang terkena flu. (Dok Freepik)

HALLONEWS.COM – Di banyak negara, musim dingin dan pergantian cuaca biasanya identik dengan maraknya penyakit flu. Konon hampir 80 negara tertular penyakit ini.

Namun pada paruh akhir 2025 hingga awal 2026, satu istilah flu baru mulai mencuri perhatian publik yakni “Super Flu”. Sebutan populer ini merujuk pada Influenza A (H3N2) subclade K, varian influenza yang penyebarannya terpantau luas dan cepat di berbagai belahan dunia.

Meski para ahli menegaskan bahwa virus ini bukan flu baru yang mematikan, kenyataannya sejumlah negara sempat dibuat kewalahan oleh lonjakan kasus dan tekanan pada layanan kesehatan.

Seperti Amerika Serikat yang menjadi negara pertama yang mengidentifikasi subclade K melalui sistem surveilans influenza milik Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Agustus 2025.

Dalam catatan lembaga ini, memasuki musim dingin, peningkatan kasus influenza A (H3N2) mulai terlihat sejak minggu ke-40 tahun 2025.
Sejumlah rumah sakit di beberapa negara bagian melaporkan lonjakan pasien dengan gejala flu berat, terutama pada kelompok anak-anak dan lansia.

Meski demikian, otoritas kesehatan AS menegaskan bahwa angka kematian tidak menunjukkan pola di luar influenza musiman, dan sebagian besar kasus dapat ditangani dengan perawatan standar.

Di Eropa dan Australia, kasus serupa juga terjadi. Dampak nyata terlihat jelas di Australia antara Januari hingga November 2025, tercatat 457.906 kasus influenza terkonfirmasi, sebuah rekor baru sejak influenza jadi penyakit wajib lapor pada 2001.

Bukan hanya jumlahnya yang mencengangkan. Musim flu kali ini juga luar biasa panjang, dimulai pada Mei dan terus berlanjut hingga musim panas Australia di bulan November.

Di Eropa, seperti Inggris menghadapi tekanan serupa. National Health Service (NHS) berada di ambang krisis ketika gelombang flu super datang bersamaan dengan tantangan internal.

“Dengan permintaan yang mencapai rekor untuk unit gawat darurat dan ambulans, serta ancaman pemogokan dokter residen, gelombang flu super yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuat NHS menghadapi skenario terburuk untuk waktu tahun ini,” ujar Direktur Medis NHS Inggris, Profesor Meghana Pandit.

Sementara di Asia Timur seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, influenza A (H3N2) menjadi varian dominan sejak pertengahan 2025. Lonjakan kasus sempat memicu penutupan sementara sekolah, antrean panjang di klinik, serta meningkatnya permintaan obat flu dan antipiretik.

Jepang, yang memiliki sistem pelaporan influenza ketat, melaporkan musim flu yang lebih “berat terasa” dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, otoritas kesehatan setempat menegaskan bahwa tidak ada lonjakan kematian yang tidak wajar, dan pola penyakit masih sejalan dengan flu musiman.

Sedangkan di Asia Tenggara beberapa negara seperti Singapura, Thailand dan Indonesia juga melaporkan peredaran subclade K. Mobilitas tinggi dan kepadatan penduduk membuat penularan terjadi relatif cepat, terutama di sekolah dan tempat kerja.

Mengapa Dunia Kewalahan?

Dalam sejarah influenza, strain seperti ini bukan hal baru. Terkadang, jenis virus semacam itu memang bisa sangat mematikan.
Walau virus jenis satu ini dinyatakan tidak mematikan.

Tapi masalahnya bukan pada tingkat kematian, melainkan pada kecepatan penularan. Influenza A (H3N2) subclade K menginfeksi lebih banyak orang dalam waktu yang jauh lebih singkat, menciptakan tekanan besar pada sistem kesehatan di berbagai negara.

“Penyakit ini menyebar begitu cepat sehingga peningkatan jumlah kasus influenza yang ditimbulkannya dapat dengan cepat membanjiri pusat medis,” kata ahli virologi dari Universitas Johns Hopkins, Profesor Andrew Pekosz.

Keluarga virus H3N2 memang bukan pemain baru dalam dunia influenza. Justru sebaliknya, ia dikenal sebagai salah satu jenis flu yang cenderung lebih parah dibandingkan strain lain.

Setahun sebelumnya, dunia masih bersiaga menghadapi subklade H3N2 J, varian yang kala itu dianggap serius dan jadi fokus utama jaringan vaksinasi global.

Namun karena influenza memiliki satu karakter utama yakni sulit diprediksi maka dunia jadi seaman kewalahan.

“Influenza A/H3N2 telah ada sejak tahun 1968, dan telah terjadi lebih dari selusin perubahan seperti itu selama waktu tersebut,” jelas James Hay, peneliti penyakit menular dari Universitas Oxford.

Ketika subclade K muncul kembali, dunia dikejutkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian menyebut subclade ini sebagai titik evolusi penting dalam perjalanan virus influenza A (H3N2). Inilah sebabnya, menurut para ahli, mengapa varian ini muncul begitu dominan sejak Agustus 2025.(wib/dari berbagai sumber)